BRI konsisten mengeksekusi buyback saham bertahap hingga Rp1 triliun di Tahap II, ditopang permodalan kokoh CAR 21,5 persen dan laba Rp31,2 triliun.
Stabilitas.id — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) konsisten merealisasikan aksi korporasi pembelian kembali (buyback) saham sebagai bagian dari strategi penciptaan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham. Langkah ini sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap ketahanan fundamental bisnis perseroan di tengah volatilitas pasar modal domestik dan global.
Konsistensi tersebut ditunjukkan melalui eksekusi buyback secara bertahap. Sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 24 Maret 2025 telah menyetujui alokasi dana buyback saham dengan nilai total sebesar-besarnya Rp3 triliun.
Memasuki tahun 2026, perseroan merealisasikan program tersebut dengan meluncurkan buyback Tahap I senilai sebesar-besarnya Rp500 miliar pada periode 12 Juni hingga 11 September 2026.
BERITA TERKAIT
Melanjutkan komitmen tersebut, BRI kembali mengumumkan rencana pelaksanaan buyback Tahap II dengan nilai alokasi mencapai sebesar-besarnya Rp1 triliun untuk periode 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.
Corporate Secretary BRI Dhanny menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelian kembali saham secara terukur merupakan instrumen strategis perseroan dalam mengoptimalkan struktur modal tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.
“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny dalam keterangan tertulis.
Dhanny menambahkan, keputusan eksekusi buyback turut memperhitungkan eskalasi ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, fluktuasi harga komoditas dunia, serta dinamika arus modal asing yang memengaruhi volatilitas pasar keuangan nasional.
Optimisme perseroan berakar pada kinerja neraca yang solid. Hingga akhir triwulan II 2026, BRI berhasil meraup laba bersih sebesar Rp31,2 triliun. Total aset perseroan tercatat tumbuh 11,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) mencapai Rp2.352 triliun, didorong oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat 6,7 persen YoY menjadi Rp1.581 triliun.
Di sektor intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan BRI tumbuh ekspansif sebesar 16,2 persen YoY menembus Rp1.646 triliun.
Ketahanan bisnis bank berkode saham BBRI ini juga ditopang oleh struktur permodalan dan likuiditas yang tebal. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat kokoh di level 21,5 persen, sementara rasio intermediasi (Loan to Deposit Ratio/LDR) berada pada posisi sehat di angka 90,8 persen.
“Ke depan, BRI akan tetap berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan mendorong pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” pungkas Dhanny.***

















