Memasuki hari pertama Januari ini, kita dikejutkan oleh angka inflasi yang melonjak sepanjang tahun lalu. Sejatinya angka inflasi yang mencapai 8,38 persen tidaklah terlalu mengagetkan jika melihat setahun ke belakang.
Bencana banjir di sejumlah wilayah di Indonesia, guncangan pasar modal yang mendongkrak kurs rupiah, kenaikan harga bensin bersubsidi, hingga kelangkaan daging sapi tak pelak membuat harga-harga melonjak. Badan Pusat Statistik mencatat ada 20 komoditas penyumbang inflasi sepanjang 2013.
Tingginya inflasi, tertinggi sejak 2008, tak bisa dilepaskan dari pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Juni. Pada 2008, pemerintah juga menaikkan harga BBM yang membuat inflasi tahun itu mencapai 11,06 persen.
BERITA TERKAIT
Kepala BPS Suryamin mengatakan meski angka inflasi lebih besar dari target yang ada di APBN 2013 namun capaian itu masih lebih rendah dari perkiraan pemerintah setelah menaikkan harga bensin. “Kalau dari target pemerintah, ini lebih kecil. Pemerintah seingat saya memperkirakan (inflasi 2013) sekitar 9 persen atau di bawah 9 persen,” ujar Suryamin.
Setelah memutuskan mengurangi subsidi pada harga BBM tahun lalu, pemerintah memperkirakan inflasi bisa berada pada 9,2. Bank Indonesia bahkan punya prediksi lebih buruk, yakni 9-9,8 persen. Secara formal, pemerintah mengajukan inflasi 2013 sebesar 7,2 persen dalam asumsi makro APBN P 2013.
Deputi Kepala BPS bidang Statistik Distribusi dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, tingginya inflasi kenaikan harga BBM dibandingkan prediksi awal ialah karena berdekatannya waktu kenaikan dengan perayaan Idul Fitri. “Juni menjelang Lebaran, pas mau Lebaran produsen sudah antisipasi bahwa kalau naik berapa pun konsumen akan beli. Jadi ada moral hazard-lah di sana. Mumpung ada kenaikan BBM juga, pedagang naikkan juga harganya,” kataSasmito.
Sementara itu inflasi inti tahunan berada di bawah inflasi umum, yakni hanya 4,98 persen. Sedangkan, inflasi harga bergejolak mencapai 11,83 persen utamanya karena harga pangan.
Perubahan harga paling besar terjadi pada harga diatur pemerintah yaitu sebesar 16,65 persen. Secara spesifik, inflasi harga energi dicatat sebesar 21,42 persen sepanjang 2013.
Menanggapi data inflasi, Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan ada overshoot inflasi akibat pengendalian harga pangan yang kurang baik. “Yang agak overshoot waktu itu adalah harga makanan: daging sapi, bawang, cabai, dan diantisipasi pemerintah dengan menghilangkan kuotanya. Setelah itu, inflasi pangan turun. Jadi baik pemerintah dan BI setelah itu overshoot di atas 9 persen,” jelas Chatib.
Dia juga menambahkan, inflasi di 2014 akan kembali normal dan diperkirakan akan berada pada level 5,5 persen. Sejauh ini, pemerintah tidak berniat menggerakkan secara signifikan harga diatur pemerintah (administered price).
Tahun lalu, berdasarkan catatan BPS, komoditas yang paling dominan mendongkrak inflasi adalah pergerakan harga bensin, yang naik 1,17 persen rata-rata. Terpengaruh harga bensin, tarif angkutan kota menjadi penyumbang kedua sebesar 0,75 persen. Hal tersebut menggambarkan bahwa pendorong inflasi di 2013 sedikit berbeda karena adanya perubahan harga BBM bersubsidi. Di 2012, pendorong utama inflasi ialah kenaikan harga beras, ikan segar, emas perhiasan, dan rokok kretek filter.
Sanksi buat Pemerintah
Jauhnya pencapaian Inflasi 2013 dari target yang ditetapkan dalam APBN-P 2013 yang dipatok 7,2 persen memunculkan rencana untuk memberikan sanksi pada pemerintah. Karena sebelumnya Bank Indonesia telah mendapatkan sanksi dari DPR karena tak mencapai target. “(Saat ini) Tidak ada sanksi bagi pemerintah. Beda dengan BI yang gaji Dewan Gubernurnya tidak boleh naik kalau target inflasi tak sesuai,” kata Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Azis.
Namun ke depan, dia mengatakan, pemerintah yang mematok target inflasi dalam APBN-P namun tidak sesuai maka akan dikenakan sanksi. “Ke depan harus ada sanksi kepada pejabat pemerintah agar mereka betul-betul bekerja. Mudah-mudahan pemerintahan hasil pemilu 2014 nanti lebih fokus soal ini,” tutur Harry.
Sementara itu, tahun ini tampaknya ancaman inflasi belum akan mereda. Baru saja tahun berganti harga elpiji nonsubsidi tabung 12 kg menjadi Rp117 ribuan. Akan tetapi di lapangan harganya melambung hingga Rp 145.000 di Jakarta bahkan sampai Rp 310.000 di Jayapura.
Kondisi itu tentu akan memengaruhi tingkat indeks harga konsumen Januari 2014. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Sasmito Hadi Wibowo mengatakan kenaikan elpiji tentu akan berdampak kepada inflasi. “Saya kira cukup besar dampaknya, juga peranannya terhadap inflasi, karena itu kebutuhan kita,” ujar Sasmito.
PT Pertamina (Persero) per 1 Januari 2014 resmi menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar 68 persen. Rata-rata kenaikan di tingkat konsumen sebesar Rp 3.959 per kg atau dengan kata lain kenaikan harga per tabung 12 kg adalah Rp 47.508. Dengan demikian, harga elpiji 12 kg akan mencapai Rp 117.708 per tabung. Salah satu dalih kenaikan ini adalah untuk menekan kerugian bisnis elpiji 12 kg yang mencapai rata-rata Rp 6 triliun per tahun.
Dalam catatan BPS, gas, termasuk di dalamnya adalah elpiji 12 kg, merupakan kelompok pengeluaran yang memiliki andil terhadap inflasi. Dalam inflasi Desember 2013 0,55 persen, kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar menyumbang 0,20 persen dari 0,55 persen inflasi bulanan. Sedangkan laju inflasi kelompok ini terhadap inflasi 2013 8,38 persen adalah 6,22 persen.
Saat ditanya berapa tingkat inflasi Januari 2014, Sasmito mengatakan, “Desember, Januari, kan periode inflasi tinggi. Mudah-mudahan tidak beda jauh dengan Desember. Januari kan biasanya mendekati 1 persen.” Sebagai gambaran, inflasi Januari 2013 tercatat 1,03 persen, Januari 2012 0,76 persen dan Januari 2011 0,89 persen.

















