Saat tulisan ini ditulis, jutaan Muslim yang berangkat haji, baru saja menyelesaikan ritual wuquf di Arafah. Rukun haji yang menggambarkan miniatur bagaimana kelak manusia berkumpul di padang makhsyar. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Datang pada waktu yang sama, dengan pakaian yang sama, menuju titik yang sama, berharap yang sama: mendapatkan ampunan dan haji mabrur.
Bersamaan dengan itu, umat Islam di seluruh dunia juga merayakan Hari Raya Iedul Adha, menyembelih hewan qurban sebagai cerminan kesiapan berkurban demi meraih kecintaan Allah. Seperti halnya haji, menyembelih hewan qurban juga memerlukan kecukupan finansial bagi pekurbannya, meskipun tidak sebesar menjalankan ibadah haji. Namun, itu sama sekali tidak ada artinya, bila dibandingkan pengorbanan Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah menyembelih anaknya sendiri, Ismail.
Menyembelih anak sendiri, tentulah perintah yang tak terbayangkan. Sebuah perintah yang super berat, hampir mustahil dijalankan. Apalagi bila sang anak terlahir setelah sang orang tua sudah menantinya sekian lama hingga menginjak usia tua. Namun, itu tidak berlaku bagi Ibrahim (dan Siti Hajar, sang istri). Kecintaan mereka kepada Allah jauh lebih besar dari pada kecintaan kepada anak sendiri. Ibrahim memilih menjalankan perintah Allah, dari pada memenuhi egonya sendiri. Ibrahim lulus melewati ujian ini. Allah menghadiahkan seekor kambing gibas yang gemuk, menggantikan Ismail yang dengan ikhlas dan pasrah menyerahkan dirinya kepada Allah untuk dikorbankan sang ayah.
BERITA TERKAIT
Haji dan kurban tak pelak ibadah napak tilas Nabi Ibrahim berikut keturunannya. Ketika melakukan Sa’i, misalnya, menggambarkan betapa kebingungannya Siti Hajar mencari air minum untuk si kecil Ismail, hingga hilir mudik dari bukit Shofa ke Marwa sampai tujuh kali. Ketika melempar jumroh, mengulang kembali bagaimana Nabi Ibrahim melempari setan yang menghalang-halanginya untuk mengorbankan Ismail.
Ibadah Miliaran Dollar
Kini ibadah haji dan kurban tidak lagi hanya cerminan ibadah. Tapi juga melibatkan perputaran uang miliaran dollar yang rutin dilakukan tiap tahun. Jamaah haji menghabiskan dana yang besar untuk menunjang kegiatan mereka di sana. Praktis ini membangkitkan ekonomi. Berapa banyak restoran yang hidup dari haji. Mereka bisa mempekerjakan ribuan atau bahkan ratusan ribu orang untuk mendukung kebutuhan jamaah. Yang tidak kalah besar, adalah berapa banyak hotel dan penginapan dibangun. Meski demikian, pada waktu-waktu puncak belum bisa memenuhi permintaan jamaah. Berapa travel agent yang terlibat dalam perhelatan ini? Berapa banyak maskapai penerbangan yang turut menangguk untung? Berapa banyak perusahaan seluler yang turut kebagian rezeki karena selama di Makkah, jamaah terus melakukan komunikasi dengan keluarga yang ditinggalkannya? Menurut laporan BBC yang mengutip sumber dari Chamber of Commerce of Mecca (Kamar Dagang Makkah), pada tahun 2011 saja, kegiatan ini melibatkan bisnis 10 miliar dollar AS.
Laporan terbaru yang dirilis oleh The Economist, ibadah ini memberikan berkah bagi penduduk Makkah dengan omset bisnis tak kurang dari 16,5 miliar dollar AS pada tahun 2013. Bagi penduduk Makkah, jumlah itu membuat mereka tidak perlu bertani atau berindustri, Allah sudah menggantinya dengan industri haji yang magnitude-nya jauh lebih besar dari itu semua.
Hebatnya, bisnis ini tidak hanya dinikmati oleh penduduk lokal, tapi juga global. Tidak hanya Muslim saja yang mendapat berkahnya, tapi juga non muslim. Contoh kecil, bisnis suvenir haji seperti sajadah, karpet, pernik-pernik mainan, kebanyakan tidak disuplai dari negara-negara Islam sendiri, tapi dari China.
Bagi Indonesia, haji juga perhelatan ekonomi yang tidak kecil. Sebagai gambaran awal, seorang jamaah dari Indonesia harus merogoh kantong hingga kira-kira 35-an juta rupiah. Kalau setiap tahun, katakanlah, Pemerintah mendapatkan kuota yang berangkat haji hingga 200 ribu jamaah saja, maka sekali keberangkatan haji dari Indonesia akan mengeluarkan biaya kurang lebih Rp7 triliun. Ini belum termasuk dana calon haji lain yang masuk dalam daftar waiting list sehingga uangnya mengendap dalam rekening haji.
Bayangkan, kalau setiap memberangkatkan haji itu bisa dikelola dengan baik, tidak sulit untuk mendapatkan keuntungan. Anggap saja, “hanya” bisa menyisihkan untung lima persen. Jumlah itu sudah senilai Rp350 miliar. Jumlah yang cukup untuk menyantuni guru-guru madrasah, pembangunan tempat ibadah hingga tidak perlu ‘gerilya’ di jalanan, juga mendukung dan memberdayakan kaum dhuafa.
Visi Ekonomi Ibrahim
Dalam perspektif Quranomics, ekonomi yang digerakkan oleh ritual ibadah haji, bukan sebuah kebetulan. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Makkah, Ibrahim dan keluarga: Siti Hajar dan Ismail, mendapati tempat itu bukan tempat yang berpenghuni. Bukitnya berbatu, terjal, dan panas. Hampir tidak ada pepohonan. Tidak ada air sebagai sumber kehidupan.
Itulah tempat yang ditunjukkan Malaikat Jibril untuk anak turun Ibrahim. Ibrahim tidak mengeluh, tidak pula menolak. Namun alih-alih melakukan negosiasi untuk pindah ke tempat lain yang lebih prospektif, Ibrahim memanjatkan doa:
Ya, Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim, 14:37).
Dalam Surat al-Baqarah, doa Nabi Ibrahim versi lain juga disampaikan kepada Allah:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. 2:126)
Dalam ayat pertama (14:37), Nabi Ibrahim berdoa agar keturunanya diberikan kecukupan buah-buahan. Dengan kata lain, agar kecukupan bahan pangannya terjamin. Sementara dalam ayat kedua (2:126), ia memohon kelimpahan rezeki anak turunnya dalam arti luas, bukan hanya pangan (buah-buhan). Di samping itu, ia juga mohon kepada Allah agar anak turunnya yang tinggal di Makkah dijamin keamanannya. Ibrahim sudah melihat isu penting bagi penunjang keberlanjutan ekonomi: keamanan.
Saat ini dunia menempatkan dua hal yang menjadi konsen Ibrahim –makanan (food shortage) dan keamanan (security issue)—sebagai dua hal dari 10 masalah genting teratas yang dihadapi umat manusia. Menurut FAO, organisasi Pangan dan Pertanian PBB, ada sekitar 925 juta orang atau seperdelapan dari populasi dunia dalam kelaparan. Sekitar 98 persen dari mereka hidup di negara berkembang.
Apakah dunia tidak cukup memproduksi makanan? Tidak. Tidak sama sekali. Sebaliknya, dunia menghasilkan 17 persen pangan yang lebih banyak dari apa yang diproduksi 30 tahun lalu, meskipun 70 persen populasi meningkat. Jumlah itu, menurut FAO, cukup untuk memberi asupan kalori bagi tiap orang di seluruh dunia.
Persoalannya, masyarakat dunia ketiga tidak semua orang memiliki lahan untuk menanam atau uang untuk membeli bahan pangan. Sementara di Negara maju, banyak orang yang menghambur-hamburkan makanan. Mereka membeli makanan jauh lebih banyak dari apa yang mereka butuhkan, namun tidak memanfaatkannya secara benar. Alhasil, banyak di antara mereka yang kemudian membuangnya percuma. Menurut FAO, tiap tahun negara-negara kaya memubazirkan 220 juta ton makanan. Atau rata-rata tiap orang membuang 95-115 kg makanan di Eropa maupun Amerika Utara.
Sudah saatnya dunia mengatasi kesenjangan dari dua kutub ini agar kebutuhan dan ketercukupan pangan bisa dinikmati oleh semua. Bila kesenjangan terus terjadi, ketika sebagian tidur lelap karena kekenyangan, sementara lainnya tidak bisa mengatupkan mata karena lapar, bisa memicu kriminal. Karena orang-orang yang lapar, kata orang bijak, tidak bisa belajar dan bekerja, kecuali mungkin kejahatan. Benarlah Ibrahim, pangan dan keamanan adalah prasarat kesejahteraan.
















