BERITA TERKAIT
Tahun 2013 dapat dikatakan tahun gejolak. Baik itu gejolak ekonomi, sosial maupun gejolak politik. Tahun ini juga bisa disebut tahun kejar target, mengingat tahun depan akan diselenggarakan pemilihan umum untuk legislatif dan Presiden serta Wakil Presiden pada kuartal ke empat. Akan tetapi tahun ini juga tercatat sebagai tahun di mana target yang dikejar tak tercapai dan sasaran yang dibidikluput.
Pemerintah telah menurunkan target target yang sudah ditetapkan. Setelah hantaman badai krisis kecil Agustus lalu, banyak target-target ekonomi yang diturunkan karena memang tak bisa lagi dicapai. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi.
Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengharapkan kinerja perekonomian nasional pada triwulan IV dapat lebih baik dari triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 5,62 persen. Sehingga pada akhir tahun angka pertumbuhan ekonomi 5,8 persen dapat tercapai.
Memang angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan III merupakan angka realistis karena saat ini sedang terjadi perlemahan ekonomi terutama dari sisi investasi. Angka pertumbuhan itu bukanlah realisasi yang buruk dalam situasi saat ini, namun angka pertumbuhan ekonomi yang terlalu rendah dapat mengkhawatirkan karena ikut mempengaruhi tingkat pengangguran dan kemiskinan. Soal ini tentunya tidak bisa diatasi dengan kebijakan moneter maupun fiskal.
Untuk itu, perlu adanya upaya yang lebih maksimal untuk memperbaiki kinerja investasi, mempercepat penyerapan belanja pemerintah serta menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini dominan menjadi penyumbang angka pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah harus fokus pada kebijakan fiskal untuk mendorong dan melancarkan ekspor serta mengendalikan impor, dalam jangka pendek. Setelah itu, fokus ke investasi untuk jangka menengah.
Beberapa pengamat ekonomi mengungkapkan kondisi makroekonomi Indonesia menghadapi ancaman overheating atau kepanasan, walaupun masih dalam tingkat moderat. Sementara itu, kajian Bank Dunia terhadap ekonomi Indonesia yang pada 2014 akan lebih baik antara lain karena akan ada Pemilu, berubah menjadi lebih rendah dari 2013. Misalnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2013 diperkirakan mencapai 5,6 persen, kemudian pada 2014 diperkirakan lebih rendah yaitu mencapai 5,3 persen.
Pertumbuhan investasi yang pada 2013 diperkirakan 5,3 persen, untuk 2014 hanya 4,9 persen. Sementara ekspor pada 2013 diproyeksikan tumbuh 5,6 persen dan 2014 diperkirakan tumbuh 5,7 persen. Namun, pertumbuhan impor lebih besar lagi yakni pada 2013 diperkirakan 2,4 persen dan 2014 mencapai 4,5 persen.
Hampir seluruh pengamat ekonomi sepakat Indonesia menghadapi permasalahan struktural perekonomian sehingga membelenggu neraca pembayaran.
Indonesia memang mampu mempertahankan keseimbangan internal, namun mulai mengalami ketidakseimbangan eksternal. Ketidakseimbangan eksternal itu bersumber dari permasalahan di sektor pangan, energi, rendahnya daya saing energi, ketergantungan terhadap ekspor komoditas, dan ketergantungan terhadap impor bahan baku dan barang modal.
Komponen ekonomi yang mengalami overheating dan mengkhawatirkan adalah neraca transaksi berjalan yang defisit, pertumbuhan kredit yang terlalu tinggi, dan gejolak nilai tukar rupiah.
Sementara itu, BI mengatakan ada beberapa tantangan yang harus dilewati dari sisi perekonomian. Pertama adalah kesiapan untuk menghadapi perubahan landscape perekonomian global. Penarikan stimulus oleh Bank Sentral Amerika Serikat diperkirakan akan berlangsung pada tahun depan. Sehingga kemudian banyak negara berkembang, seperti Indonesia juga akan melakukan perubahan fundamental ekonomi.
Kedua adalah perbaikan ekonomi secara struktural. Kondisi seperti yang terlihat sekarang pada defisit transaksi berjalan ini pun yang menjadi alasan laju pertumbuhan ekonomi yang selama ini cepat, menjadi terhambat. Ketiga adalah bagaimana memastikan kemajuan ekonomi yang terkait dengan kesejahteraan rakyat.
















