Komposisi negara tujuan ekspor Indonesia berubah dalam setahun terakhir. Demi mengantisipasi krisis di daratan Eropa dan AS, pemerintah tengah bersiap untuk mengubah kembali komposisi itu.
Oleh : Romualdus San Udika
BERITA TERKAIT
Krisis yang masih melanda negara-negara di Amerika Serikat dan kawasan Eropa tidak hanya membuat kewaspadaan pemerintah di sektor keuangan meningkat, di sektor perdagangan pun tidak berbeda. Meskipun berulang-ulang kali menyatakan tidak mengkhawatirkan kondisi ekonomi di AS dan Eropa, pemerintah jelas tidak mau ambil risiko jika ternyata keadaan bergerak ke arah yang tak terduga.
Maka dari itu dalam melihat angka-angka ekspor yang menembus rekor tertinggi, pemerintah tidak buru-buru girang bukan kepalang. Seperti diketahui, pada Agustus 2011 lalu ekspor Indonesia kembali menembus rekor baru dengan nilai mencapai 18,81 miliar dollar AS. Memang jika dibandingkan dengan ekspor Juli 2011 sebesar 17,42 miliar dollar AS kenaikannya hanya 8 persen, tapi coba dibandingkan dengan Agustus tahun lalu, kenaikannya cukup signifikan mencapai 37,05 persen.
Malahan Kementerian Perdagangan terlihat optimistis target angka ekspor 200 miliar dollar AS bisa tercapai, jika melihat akumulasi angkanya sampai Agustus sudah menyentuh 134,8 miliar dollar AS. Mantan Wakil Menteri Perdagangan RI Mahendra Siregar mengungkapkan dengan pencapaian kinerja ekspor yang baik ini pihaknya yakin dapat mencapai target ekspor akhir tahun yakni sebesar 200 miliar dollar AS. “Dari target yang direvisi yaitu 200 miliar dollar AS, sisanya adalah 65 miliar dollar AS untuk empat bulan terakhir. Mungkin dengan 16,5 miliar dollar AS per bulan akan mencapai target itu,” ujar Mahendra yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan ini.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), secara keseluruhan angka perdagangan nasional masih surplus, dengan ekspor yang terus meningkat di saat impor juga terus tumbuh.
Meski begitu, Mahendra mengingatkan bahwa memasuki September Kementerian Perdagangan melihat akan ada perlambatan komoditas ekspor utama. Hal ini tercermin dari pelemahan (softening price) ekspor barang tambang yang melemah sejak akhir Agustus hingga medio September. Basis pertanian juga mengalami pelemahan mulai minggu pertama hingga ketiga September.
Pelemahan perdagangan memang bisa datang kapan saja ketika imbas krisis keuangan dan ekonomi di negara-negara maju menyebar ke segala arah, termasuk mitra perdagangan maupun Indonesia sendiri. Jika itu terjadi maka tak pelak, barang-barang dagangan kita akan kehilangan pembeli dan angka ekspor akan merosot.
Maka tidaklah berlebihan jika beberapa kalangan mengingatkan bahwa peningkatan ekspor dan surplus perdagangan tidak sampai membuat pemerintah dan pelaku usaha terlena. Seperti dikatakan Mantan Kepala BPS Rusman Heriawan bahwa kendati saat ini krisis ekonomi yang terjadi di AS dan Eropa tidak terlihat berpengaruh kepada kinerja perdagangan Indonesia, tetapi kewaspadaan mutlak tetap harus dijaga.
“Para pelaku usaha agar tetap waspada terhadap kemungkinan terburuk dari krisis tersebut dengan terus meningkatkan atau memperluas pasar ekspor ke wilayah di luar AS dan Eropa,” kata Rusman yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian.
AS selama ini selalu menjadi andalan tujuan ekspor Indonesia selain Jepang dan China selama hampir 10 tahun. Begitu juga dengan negara-negara di kawasan Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa. Kedua wilayah ini selalu menyerap barang-barang dari Indonesia berkisar di angka 10 persen dari total setiap tahun. Sepanjang tahun ini hingga Agustus ekspor ke Eropa mencapai 13,4 persen, sementara ke AS sebesar 9,9 persen. Maka jika negara Paman Sam dan Uni Eropa terpuruk akibat krisis maka tak pelak ekspor Indonesia terancam menyusut.
Untungnya dalam beberapa tahun belakangan ini ketergantungan ekspor Indonesia ke dua negara itu mulai berkurang. Jika melihat kebelakang, pada 2005, negara tujuan ekspor Indonesia paling banyak ke Jepang (14,39 persen), Amerika Serikat (14,31 persen), China (5,96 persen), Singapura (10,64 persen), India (4,31 persen), Malaysia (4,98 persen), Korea (3,91 persen), Belanda (3,36 persen), Taiwan (2,69 persen), dan Thailand (2,89 persen).
Malahan pada 2009, tujuan ekspor Indonesia bergeser ke China yang mengalami peningkatan menjadi 9,15 persen, India (7,54 persen), Korea (5,31 persen), Malaysia (5,78 persen), Taiwan (2,95 persen).
Sementara ke negara lain mengalami penurunan yakni ke Singapura menjadi 8,15 persen, AS menjadi 10,74 persen, Jepang menjadi 12,29 persen, Belanda menjadi 2,98 persen, dan Thailand menjadi 2,67 persen.
Tetap Waspada
Entah direncanakan atau tidak, akan tetapi kondisi ini jelas melegakan terutama di saat kedua kawasan baik AS maupun UE tengah dilanda krisis ekonomi. Jika mencermati catatan BPS, kinerja ekspor nonmigas selama tahun 2011 ini ditopang oleh diversifikasi pasar ekspor nonmigas terutama ke negara mitra perdangan bebas (Free Trade Area/FTA dan emerging market lainnya. Salah satunya China yang diketahui merupakan negara utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia selama periode Januari-Agustus 2011. Selama Januari-Agustus 2011 ekspor nonmigas ke China meningkat sebesar 56,2 persen, tumbuh jauh lebih cepat daripada ekspor ke negara-negara lain.
Selain China, ekspor nonmigas ke India juga mengalami peningkatan signifikan pasca FTA. Ekspor Indonesia ke India meningkat sebesar 49,3 persen, menggeser Singapura dan Malaysia, menjadi posisi ke-4. Negara-negara ASEAN serta Asia lainnya merupakan pasar utama ekspor nonmigas Indonesia. Kontibusi ekspor ke pasar tersebut menyumbang sebesar 56,8 persen terhadap ekspor nonmigas nasional.
“Dengan struktur pasar seperti ini, apabila krisis melanda Eropa dan AS, hal itu tidak banyak mempengaruhi kinerja ekspor kita, meskipun kita tetap harus mewaspadainya,” tegas Mahendra Siregar.
Kemungkinan terburuknya, lanjut dia, dampak krisis Eropa dan AS baru akan terasa pada kegiatan ekspor impor Indonesia di bulan Oktober. Hal itu akan segera terlihat pada penurunan harga di sektor komoditas. “Mungkin bisa terjadi demikian, harga turun, nilainya jadi turun,” ujarnya.
Meski demikian, ia memperkiraan pertumbuhan ekonomi di China dan India pada 2011 dan 2012 akan lebih baik dibanding perkiraan pertumbuhan ekonomi AS, Eropa, dan Jepang sehingga tidak berpengaruh besar pada ekspor impor Indonesia.
Tautan: Distributor Besi Import
Akan tetapi Mahendra menekankan perlunya mencermati dampak langsung dan tidak langsung dari gejolak krisis di Eropa dan AS tersebut. Untuk mengantisipasinya, Kementerian Perdagangan melakukan diversifikasi pasar ekspor. “Di satu pihak ini bisa jadi antisipasi, tapi disisi lain bisa dilihat sebagai blessing in disguise. Kalau gejolak krisis tidak terjadi, kita tidak akan menekuni pasar yang lain. Ini kesempatan bagi kita,” ujar dia.
Salah satu diversifikasi pasar yang dilakukan, adalah mulai dijajakinya pasar ekspor ke benua Afrika. Pemerintah bahkan sudah pasang target bahwa ekspor langsung Indonesia ke Afrika diperkirakan meningkat menjadi 10,5 miliar dollar AS dalam dua hingga tiga tahun mendatang, seiring dengan upaya diversifikasi pasar dan produk ekspor di sejumlah wilayah Afrika.
Tahun lalu, kinerja ekspor Indonesia ke Afrika tercatat sebesar 3,5 miliar dollar AS, meningkat hampir 30 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. SP

















