• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Ekonomi

Perlukah Kita Khawatir?

by Sandy Romualdus
14 November 2011 - 00:00
10
VIEWS
Perlukah Kita Khawatir?
0
SHARES
10
VIEWS

Krisis yang tengah berkecamuk di Eropa dan AS belum juga menunjukkan tanda-tanda positif. Apakah hal itu akan menghantam perekonomian Indonesia dalam jangka waktu dekat?

 

  • Baca juga: ULN Indonesia Agustus 2026 Terjaga US$459,3 Miliar, BI Tegaskan Struktur Tetap Sehat

Oleh: Romualdus San Udika

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

 

Ibarat sebuah bola, jika satu sisinya tak bulat, maka putaran bola tersebut tidak akan mulus dan akan bergelombang. Demikian pula dengan aktivitas perekonomian di dunia, jika satu belahan dunia mengalami stagnasi bahkan kemerosotan ekonomi maka akan menciptakan guncangan yang akan berimbas pada bagian dunia lain.

Itulah sebabnya setiap negara di dunia ini sudah mengambil ancang-ancang untuk menyiapkan bantalan guna menahan guncangan ekonomi dunia yang disebabkan krisis di wilayah Eropa dan Amerika Serikat (AS). Termasuk Indonesia.

Persiapan kebijakan antisipatif memang mendesak dilakukan mengingat kondisi ekonomi Eropa terus memburuk. Hal itu tergambar dari pertemuan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 pada 13-14 Oktober lalu di Paris yang menyebutkan bahwa situasi perekonomian global saat ini lebih buruk dari tiga pekan sebelumnya. Jika situasi tidak berubah, pertemuan tersebut memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan turun dari 4 persen menjadi sekitar 1 persen.

Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir selalu bisa mencatatkan pertumbuhan yang terus meningkat tentu tidak ingin terbawa arus krisis di Eropa dan AS yang berujung pada melemahnya perekonomian.

Oleh karena itu, Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo yang menghadiri pertemuan G20 itu benar-benar mengumpulkan data dan fakta yang terjadi di Eropa dan AS untuk kemudian bisa digunakan untuk mempersiapkan kebijakan antisipatif.

Ada lima peringatan awal yang membuat perekonomian dunia terkoreksi, dan itu harus sudah diwaspadai Indonesia. Peringatan itu adalah intensifikasi risiko krisis ekonomi Eropa, perlambatan ekonomi AS, goncangan pada pasar surat utang pemerintah di seluruh dunia, ancaman panasnya (overheat) ekonomi di negara berkembang, dan risiko krisis Timur Tengah.

Sementara itu, Agus menyimpulkan peringatan itu bisa jadi akan membuat krisis di Eropa menjalar ke Indonesia yang diperkirakan akan melaui tiga jalur yaitu kepercayaan, perdagangan, dan keuangan. Artinya, jika kepercayaan investor menurun kepada negara berkembang, maka Indonesia bakal tak luput dari krisis global tersebut.

Untuk jalur perdagangan yang sementara ini didominasi ekspor ke Jepang, China, dan India, dampak krisis akan sampai juga ke Indonesia jika ketiga negara tersebut mengalami overheat ekonomi. Seperti diketahui, China yang digadang-gadang tengah bersiap menggantikan AS sebagai benchmark perekonomian dunia, juga mengalami goncangan di sektor keuangan. Indikator shahih bisa dilihat di saat pemerintah Tirai Bambu itu merekapitalisasi empat bank papan atasnya dengan dana senilai 400 juta dollar AS pada pertengahan Oktober lalu. India diketahui saat ini tengah digerogoti ancaman inflasi yang tinggi, sedangkan Jepang dihadang tingginya harga surat utang pemerintahnya.

Pada jalur keuangan, krisis akan menjamah Indonesia jika negara-negara Asia Pasifik yang memiliki hubungan finansial langsung ke perbankan kawasan Eropa juga ikut limbung. Hal itu dipastikan akan menjalar ke Indonesia.

Sederet persoalan yang mengancam ekonomi nasional itu membuat Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan prediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2012. Tahun depan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6,3 persen atau melambat dibandingkan prediksi PDB tahun ini yang sebesar 6,4 persen.

  • Baca juga: Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

Senior Resident Representative IMF untuk Indonesia Milan Zavadjil mengatakan, penurunan PDB akibat sentimen negatif yang cukup kencang yang tengah melanda perekonomian dunia saat ini, khususnya krisis utang yang diderita beberapa negara kawasan Eropa dan AS.

Tidak hanya Indonesia, IMF juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi sebesar 4 persen baik untuk tahun 2011 maupun 2012. Padahal pertumbuhan 2010 masih sebesar 5,1 persen. Khusus untuk Negeri Paman Sam, IMF meramalkan pertumbuhan akan sebesar 1,5 persen pada 2011 dan 1,8 persen pada 2012. Sementara untuk kawasan yang seringkali menjadi sumber masalah dunia, Zona Eropa, lembaga tersebut memperkirakan PDB menurun dari 1,6 persen pada 2011 menjadi 1,1 persen pada 2012.

Namun demikian, penurunan PDB Indonesia, jelasnya, tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Sebab, Indonesia memiliki modal yang sangat baik untuk menunjang pertumbuhan. Di samping itu, rendahnya ketergantungan Indonesia pada aset-aset Eropa, kuatnya konsumsi domestik, cadangan devisa yang tebal serta neraca perekonomian pemerintah yang kuat; membuat ekonomi Indonesia tidak terlalu rentan. Itulah yang membedakan dengan negara lainnya apalagi dengan kondisi yang terjadi di AS dan kawasan Eropa.

Maka dari itu wajar saja jika pemerintah tetap yakin pertumbuhan ekonomi tetap bisa meningkat dan bisa mencapai 6,5 persen tahun ini dan 6,7 persen pada 2012 seperti target semula. “Kita lihat di dunia itu mengatakan Indonesia yang termasuk kinerjanya baik. Di antara pertemuan G-20 ada catatan Indonesia yang pertumbuhan dan kondisi fundamentalnya baik,” ujar Agus, Menteri Keuangan.

Meski begitu, bukan berarti tak perlu memikirkan risiko terburuk dari krisis global itu. Pemerintah menilai tetap ada risiko pada pasar surat utang pemerintah yang kemungkinan akan berfluktuasi dan tertekan apalagi saat ini porsi asing masih cukup besar, yaitu sekitar 34 persen.

Untuk itu Kementerian Keuangan tetap akan mengandalkan kerja sama dengan otoritas moneter dalam bauran kebijakan demi menjaga stabilitas harga instrumen tersebut. “Kalau untuk sovereign bond, kita meyakini bahwa kerja sama dengan BI (Bank Indonesia) begitu baik, sehingga prestasi sovereign bond kita bisa dikatakan justru lebih baik,” tutur Agus.

Keputusan bank sentral yang telah menurunkan bunga acuan menjadi 6,5 persen dinilai juga tak lepas dari antisipasi krisis global. Dengan langkah itu diharapkan bank-bank juga menurunkan suku bunga pinjaman baik ritel maupun korporat agar bisa memperkuat sektor riil. Sektor riil yang kuat dinilai akan menjadi penopang ekonomi di saat krisis.

Krisis Politik

Sementara itu, analisis berbeda datang dari Wakil Presiden Boediono. Menurut mantan Gubernur BI yang juga dosen moneter itu, krisis ekonomi yang melanda dunia dan sampai saat ini tak kunjung pulih lebih disebabkan krisis politik, dan krisis pengambilan keputusan politik di banyak negara. “Untuk itulah, jangan sampai Indonesia juga mengalami kelumpuhan pengambilan keputusan dalam mengantisipasi dampak eknomi dunia,” kata dia.

Berlarut-larutnya pengambilan keputusan karena masing-masing negara Eropa ingin menyelamatkan negaranya saja dan tak ingin bertanggung jawab terlalu jauh terhadap krisis yang mendera sejak 2008. Negara di kawasan yang menguasai 27 persen produk domestik bruto dunia tetap mengutamakan kepentingan dalam negerinya terlebih dahulu.

Apalagi beberapa kebijakan yang ditelurkan oleh Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (European Financial Stability Facility /EFSF) beberapa bulan lalu tampaknya mubazir. Lembaga itu telah memutuskan bailout kedua untuk Yunani –salah satu negara terparah dalam krisis Eropa, rekapitalisasi bank dan fleksibilitas lebih untuk EFSF dalam memberikan bantuan.

Salah satunya adalah persoalan terkait mata uang. Masalah itu memang menjadi urusan kawasan Eropa sebagai sebuah kesatuan, tapi anggaran dan persoalan ekonomi hanya sebagian saja yang terintegrasi. Masing-masing negara pun ingin membatasi tanggung jawab dalam menanggung utang negara lain dan untuk mencegah campur tangan negara lainnya dalam kebijakan ekonomi.

  • Baca juga: Riset Paramadina: 8 Juta UMKM Pangan Belum Tersertifikasi, Wajib Halal Serentak Berisiko Tekan Daya Beli

Hal itulah yang berpotensi untuk membuat keadaan Eropa memburuk. Karena itulah, Boediono mewanti-wanti bahwa ketidaktegaskan pengambilan keputusan di Eropa bakal berpengaruh ke Indonesia, kendati saat ini kondisi ekonomi Indonesia masih baik. Jika krisis dunia berlanjut sampai enam bulan, atau sampai satu tahun ke depan tanpa solusi yang jelas, tentu akan berpengaruh pada kondisi ekonomi Indonesia. Jadi patutkah kita khawatir? SP

 

 
 
 
 
 
Previous Post

Bersiap Mengubah Kemudi Ekspor

Next Post

Saat Kebijakan Berpihak ke China

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Survei BI: Kenaikan Harga Bahan Baku Bakal Dongkrak Inflasi Ritel Per Juni 2026

ULN Indonesia Agustus 2026 Terjaga US$459,3 Miliar, BI Tegaskan Struktur Tetap Sehat

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:51

Bank Indonesia mencatat ULN Indonesia Agustus 2026 tetap sehat sebesar US$459,3 miliar (tumbuh 5,6% yoy) dengan rasio PDB 30,9% didominasi...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:00

Indonesia peringkat 1 dunia sektor modest fashion SGIE 2025/2026. Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman buka IN2MOTIONFEST x JMFW...

Porsi Kredit UMKM BRI Capai 83,86%, Bukti Komitmen BRI pada Pemberdayaan Usaha Mikro

Riset Paramadina: 8 Juta UMKM Pangan Belum Tersertifikasi, Wajib Halal Serentak Berisiko Tekan Daya Beli

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 08:18

Riset Paramadina memproyeksikan kewajiban sertifikasi halal serentak berisiko membebani 8 juta UMKM pangan dan menekan daya beli rumah tangga. Stabilitas.id...

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

by Stella Gracia
13 Oktober 2026 - 13:23

Kementerian Pariwisata meluncurkan rute wisata Camino de Flores. Program ini bertujuan meratakan distribusi wisatawan dan memulihkan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara...

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

by Stella Gracia
12 Oktober 2026 - 12:21

Survei Konsumen BI September 2026 mencatat IKK tetap optimis di level 118,1 di tengah kenaikan rasio belanja konsumsi masyarakat menjadi...

Kikis Inefisiensi, Kemenkeu Selamatkan Anggaran Rp170 Triliun Tanpa Ganggu Birokrasi

Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026, Menkeu Pastikan Postur Fiskal Tetap Kredibel

by Stella Gracia
9 Oktober 2026 - 14:13

APBN membukukan defisit Rp319 triliun atau 1,24 persen PDB per September 2026, Menkeu Suahasil Nazara pastikan disiplin fiskal terjaga. Stabilitas.id...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Ketika Risiko Harus Dikelola

Ketika Risiko Harus Dikelola

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance