• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Interview

Saatnya Perdalam Investotor Domestik

by Sandy Romualdus
9 Januari 2014 - 00:00
17
VIEWS
Capital Inflow Positif Bagi Biaya Utang
0
SHARES
17
VIEWS

Setelah guncangan pada sektor keuangan Agustus lalu, instrumen obligasi khususnya yang diterbitkan pemerintah mulai naik daun. Bahkan menurut beberapa hedge fund, instrumen itu kini telah menjadi benchmark investasi. Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Rahmat Walujanto mengatakan bahwa hal itu merupakan sebuah perkembangan positif bagi sektor keuangan Indonesia. Rahmat yang merupakan ‘bapak’ surat berharga negara (SBN) saat masih berkarier di Kementerian Keuangan mengatakan penerbitan obligasi di dalam negeri harus diperbanyak guna memperdalam pasar keuangan dan basis investor domestik. Berikut petikan lengkap wawancara lengkapnya dengan redaksi STABILITAS di ruang kerjanya, belum lama ini.

Bagaimana kondisi pengelolaan utang negara saat ini, karena banyak kalangan menilai utang pemerintah terus meningkat?
Saya harus konsisten dan jujur mengatakan bahwa pengelolaan utang semakin baik. Bukti pertama, Indonesia tidak pernah default. Kedua, sekarang ini, pasar SBN sangat berkembang, sehingga kalau pasar modal bergejolak, maka SBN akan menjadi safe haven. Jadi, ketika terjadi penurunan terus menerus pada indeks harga saham, investor jangka panjang tidak langsung lari ke luar negeri, tetapi mereka mengalihkan dahulu dananya ke pasar SBN. Dan ini sudah terjadi dalam beberapa kesempatan yang lalu, SBN sudah jadi benckmark.
Dan ketiga, bahwa pemerintah sudah berhasil menjaga fiscal sutainibility. Fiskal tidak pernah kekurangan dana karena pemerintah tidak bisa menjual surat utang. Dari waktu ke waktu, dalam situasi apapun yang terjadi di pasar, pemerintah tetap mencapai target pembiayaan APBN.

  • Baca juga: Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

Jadi utang kita sudah beralih dari bilateral ke portofolio?
Begini, saya kira anggapan tersebut tidak salah. Tetapi juga belum tentu benar. Kita juga masih menjaga hubungan dengan kreditor dari luar negeri. Yang kita kurangi adalah berutang dari kreditor swasta asing, yang bunganya tinggi, dan risikonya cukup besar. Kita masih menjaga hubungan misalnya dengan MDB (multilateral development bank) seperti IDB, ADB, Word Bank, karena mereka selain memberikan pinjaman juga memberikan technical assistance. Expert mereka membantu kita bagaimanan terkait membangun infrasturktur pedesaan, membangun public governance yang lebih baik, dan sebagainya.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bagaimana mengontrol investor asing di SBN ?
Soal investor asing di SBN pada umumnya investor jangka panjang, bisa mencapai 60 hingga 70 persen itu investor jangka panjang. Dan mereka itu bisa disebut sebagai real money account. Karena mereka buy and hold. Sebenarnya saat masih di Dirjen Pengelolaan utang, dalam menerbitkan SBN, kita juga menerapkan yang namanya KYI (know your investor). Jadi kita bisa lihat siapa saja investor asing yang berminat dengan SBN. Dan kita sudah pasti mengutamakan investor yang real money account tadi, yang buy and hold. Mereka itu seperti asuransi asing, dana pensiun asing, dan asuransi yang lain. Kalau yang mulai berkurang adalah hedge fund asing.
Jadi tidak menutup asing, tetapi jangan sampai mendominasi. Karena seperti hedge fund asing juga kadang-kadang mereka meng-create market. Tetapi kita waspadai supaya jangan terlalu banyak juga. Nah, sekarang kita lihat basis investor ritel sudah cukup besar. Kemarin saya dengar untuk ORI 10 itu Rp20 triliun. Ini luar biasa.

  • Baca juga: Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

Kenapa obligasi negara terlihat begitu penting?
Pertama, karena kalau kita mempelajari tentang pasar keuangan, harga dari SBN itu menjadi patokan untuk menentukan instrument keuangan yang lain.
Kedua, SBN itu dimiliki hampir oleh semua jenis investor, bahkan boleh dikatakan semua jenis investor. Kalau saham, tidak semua investor atau lembaga membeli, BI tidak boleh beli saham, LPS juga tidak boleh, dan pemerintah negara lain juga tidak boleh beli saham. Oleh karena itu, SBN penting sekali sebagai investasi bagi institusi dan perorangan, dalam hal ini investor ritel.
Ketiga, SBN juga merupakan instrument fiskal pemerintah. Satu-satunya instrumen fiskal untuk membiayai defisit APBN dan refinancing utang.
Keempat adalah ia juga instrumen moneter. BI memerlukan SBN menjadi salah satu instrumen mengelola moneter. Misalnya BI mau mengurangi likuiditas di pasar, Bi akan menjual surat berharga yang dimiliki. Tetapi kalau BI mau menambah likuiditas pasar, dia akan membeli surat berharga.

Sebagai orang yang sudah lama bergelut dalam pengelolaan, kapan saat terberat dalam tugas Anda?
Masa-masa sulit pengelolaan utang Indonesia terjadi ketika terjadi krisis reksadana di 2005. Kala itu terjadi redemption besar-besaran, dan yang paling terpukul adalah pasar SBN (Surat Berharga Negara). Karena waktu itu, jumlah bond yang menjadi underlyng reksadana, hampir Rp100 triliun, turun sampai Rp30 triliun. Harganya juga jatuh karena waktu itu banyak investor melalukan redemption, sementara pengelola reksadana tidak mempunyai uang. Akhirnya mereka menjual dengan harga yang sangat murah. Bagaimana dengan pemerintah? Saat itu, andaikata pemerintah mau menerbitkan bond, yield-nya sudah pasti sangat tinggi, jadi sulit bagi pemerintah. Ada dua faktor yang menjadi penyebab. Pertama, waktu itu pemerintah menyesuaikan harga BBM (bahan bakar minyak) sebanyak dua kali di 2005. Ini menyebabkan tingkat suku bunga naik, yield SBN juga naik, sementara harganya turun. Maka reksadana juga terkoreksi. Kedua, saat itu bersamaan dengan ketentuan mark to market, 4 C kalau ga salah. Jadi ada kewajiban mark to market di saat harga yang sangat rendah.

Apa yang dilakukan pemerintah?
Nah, karena ada target, saya dan teman-teman di Diten Pengelolaan Utang menerbitkan SBN untuk menutup defisit APBN, maka saya harus jualan ke luar negeri dan sebagainya. Tetapi waktu itu saya mempunyai strategi, yang kalau dilihat sekarang, cukup berhasil. Pada saat itu, kendati ada redemption, investor asing yang masuk ke Indonesia masih banyak karena mereka melihat fundamental jangka panjang Indonesia bagus. Nah, dengan harga SBN yang turun, mereka tetap ambil (yang kita terbitkan). Tak heran sejak 2005 kepemilikan asing di SBN terus meningkat.
Kemudian waktu itu saya memutar otak bagaimana supaya investor asing tidak begitu menguasai SBN. Karena yang dibeli oleh asing saat itu adalah SBN dengan tenor 5 tahun ke bawah, padahal sebenarnya mereka menginginkan SBN yang tenornya 10 tahun ke atas. Jadi saya katakan ke mereka, saya tukar saja deh, saya ambil yang 5 tahun ke bawah, nanti saya issued yang 10 tahun ke atas. Mau dia.

  • Baca juga: Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

Bagaimana dengan kondisi krisis 2008?
Krisis 2008 juga menjadi saat terberat buat pengelolaan utang kita. Saat itu indeks jatuh mendekati 1000, nilai tukar hingga Rp14.000, SBI kalau di angka 9 persen. Ini membuat kita susah tidur. Karena waktu itu likuiditas di dalam negeri kering. Jadi kalau salah terbitkan bond saat itu, akan terjadi crowding out. Dan swasta saat itu kalau mencari pembiayaan dari pasar pun sulit, akan terjadi crowding out karena pemerintah akan masuk dalam jumlah besar. Nah, kalau pemerintah masuk saat itu maka yield akan semakin tinggi, harga turun, biaya bunga utang membengkak dan membebani APBN.

Solusi untuk itu?
Saya meminta izin menteri keuangan untuk menerbitkan bond di pasar internasional. Tetapi orang pada menertawakan, karena dalam situasi krisis seperti ini berani-beraninya menjual bond di pasar internasional. Nah, yang paling penting bagi saya, pemerintah saat itu adalah bahwa APBN aman, berapa pun cost yang harus ditanggung. Jika APBN aman, agenda pembangunan ekonomi akan jalan, dan tidak ada gejolak. Andai saja APBN tidak aman, Indonesia pasti jatuh, reputasi pemerintah akan hancur. Jadi kita menerbitkan bond di luar negeri untuk menjaga kredibilitas fiskal, karena kalau di dalam negeri akan terjadi crowding out, beban utang tinggi.

 
 
 
 
 
Previous Post

Bank Harus Lebih Selektif soal Kredit

Next Post

CIMB Niaga Hadirkan The Color Runâ„¢ di Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

by Stella Gracia
10 September 2025 - 12:17

Di tengah gejolak ekonomi global dan dinamika domestik, industri perbankan nasional masih menunjukkan resiliensi. Hal ini tercermin dari kinerja penyaluran...

Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

by Sandy Romualdus
24 Juli 2025 - 09:35

Pada konperensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Agusman selaku Kepala Eksekutif Pengawas PVML menyampaikan rangkaian update penting seputar...

Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

by Sandy Romualdus
24 Juli 2025 - 09:22

Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar pada 8 Juni 2025, berbagai isu strategis di sektor...

Integrasi Aset Kripto & Pentingnya Perlindungan Dana Nasabah

Integrasi Aset Kripto & Pentingnya Perlindungan Dana Nasabah

by Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:57

Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK (KE IAKD) Dalam konferensi...

Saatnya Fly To Service, Fly To Digital

Saatnya Fly To Service, Fly To Digital

by Sandy Romualdus
29 Mei 2021 - 13:14

Anung Herlianto, Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIGITALISASI perbankan mendapatkan momentum justru ketika pandemi meledak...

Kami Cukup Bahagia dengan Aturan Baru

Kami Cukup Bahagia dengan Aturan Baru

by Sandy Romualdus
16 April 2021 - 15:31

Michael Tjoajadi, CEO Schroder Investment Management Indonesia KITA lihat aturan OJK No 3/POJK 04/ 2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Pasar...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
CIMB Niaga Tawar Promo Menarik di Ajang Color Runâ„¢

CIMB Niaga Hadirkan The Color Runâ„¢ di Indonesia

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance