• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Kamis, Agustus 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Interview

Bank Harus Lebih Selektif soal Kredit

oleh Sandy Romualdus
9 Januari 2014 - 00:00
12
Dilihat
Tak Efisien, Kredit Bank Belum Optimal
0
Bagikan
12
Dilihat

Setelah hantaman badai krisis kecil Agustus lalu banyak target-target ekonomi yang diturunkan karena memang tak bisa lagi dicapai. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi. Hal ini diperkirakan akan berdampak besar pada sektor perbankan dan jasa keuangan lainnya terutama pada kinerja laba. Meski akan meningkatkan beberapa risiko di perbankan, Bank Indonesia menganggap bahwa kondisi perbankan nasional hingga saat ini masih cukup solid dan resilien. Namun demikian, faktor global seharusnya tidak boleh lepas dari perhatian para pelaku perbankan tahun depan, mengingat masih adanya ancaman dari perkembang ekonomi AS. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah menjawab beberapa pertanyaan dari Stabilitas seputar kondisi perbankan tahun ini dan outlook tahun depan. berikut petikannya:

Ekonomi Indonesia terkena guncangan pertengahan tahun lalu, bagaimana BI melihatnya?
Riak kecil dalam perekonomian Indonesia dalam beberapa bulan lalu merupakan imbas dari kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian dengan laju pertumbuhan ekonomi yang diprakirakan lebih rendah. World Economic Outlook (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2013 hanya sebesar 2,90 persen, Consensus Forecast sebesar 2,97 persen, sementara Bank Indonesia memperkirakan sebesar 2,94 persen. Pertumbuhan tersebut turun dibandingkan tahun 2012 sebesar 3,2 persen dan tahun 2011 sebesar 3,9 persen.
Penurunan pertumbuhan ekonomi global tersebut berdampak pada penurunan permintaan dan penurunan harga komoditas ekspor sehingga kinerja ekspor Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 2011 hingga 2013. Kondisi ini berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dikoreksi menjadi sekitar 5,7 persen (midpoint dari proyeksi sebesar 5,5 persen-5,9 persen) lebih rendah dari pertumbuhan tahun 2012 yang mencapai 6,23 persen. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut masih tergolong tinggi untuk kawasan Asia.

  • Baca juga: Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

Seberapa dalam dampak ‘krisis kecil’ pada Agustus lalu pada sektor perbankan (dan jasa keuangan lainnya)?
Sektor perbankan nasional cukup solid dan resilien, tidak banyak terpengaruh oleh kondisi keuangan global maupun gejolak nilai tukar yang terjadi. Hal ini karena perbankan nasional hanya memiliki eksposur yang relatif kecil pada portofolio global maupun eksposur kewajiban dalam valas. Kehati-hatian perbankan ini merupakan pelajaran yang dipetik dari krisis perbankan tahun 1997/98.
Kualitas kredit perbankan juga terjaga dengan baik dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loans/NPLs) yang rendah, yakni pada level 1,86 persen untuk NPLs-Gross pada bulan September 2013. Sisi permodalan juga cukup solid dengan CAR mencapai 18,0 persen atau jauh di atas ketentuan minimal sebesar 8 persen. Bahkan dengan skenario stress-test yang paling buruk pun (default) tidak banyak menganggu permodalan perbankan nasional.

BERITA TERKAIT

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Apakah sudah ada data resmi BI terhadap pelemahan kinerja keuangan sektor perbankan tersebut?
Seperti disampaikan di atas, kinerja sektor perbankan nasional tidak banyak terpengaruh oleh penurunan pertumbuhan ekonomi global maupun koreksi pertumbuhan ekonomi domestik. Data sampai dengan bulan September 2013 menunjukkan bahwa semua indikator kinerja perbankan masih mampu tumbuh positif. Hal ini tercermin dari public expose beberapa bank yang melaporkan terjadinya kenaikan kinerja dan laba yang diperoleh.

  • Baca juga: Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

Apa yang akan dilakukan BI untuk menahan agar pelemahan ekonomi tidak terlalu besar berdampak pada perbankan?
Walaupun pelemahan ekonomi global maupun domestik belum berpengaruh terhadap kinerja perbankan nasional, namun Bank Indonesia senantiasa mewaspadai beberapa potensi risiko yang dapat muncul, seperti risiko pemburukan kualitas kredit dan risiko likuiditas. Untuk itu, baru-baru ini Bank Indonesia menerbitkan beberapa aturan untuk memitigasi potensi risiko tersebut.
BI belakangan ini menghimbau kepada bank agar lebih berhati-hati dan selektif dalam penyaluran kredit. Untuk beberapa bank yang pertumbuhan kreditnya terlalu tinggi agar dapat lebih menahan diri, mengerem laju pertumbuhan kreditnya. Seperti kita ketahui bahwa pertumbuhan kredit bank selalu lebih tinggi dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sehingga dalam kondisi loan to deposit ratio (LDR) yang sudah relatif tinggi, laju pertumbuhan kredit yang tinggi dapat meningkatkan risiko likuiditas bank.
Untuk itu, Bank Indonesia menyesuaikan ketentuan range LDR yang dikaitkan dengan GWM dari 78 persen-100 persen menjadi 78 persen-92 persen. Sementara untuk menjaga kecukupan alat-alat likuid bank, Bank Indonesia meningkatkan ketentuan GWM sekunder dari 2,5 persen menjadi 4 persen yang dilakukan secara bertahab untuk memberikan waktu kepada bank melakukan penyesuaian portofolio penempatannya.
Kemudian untuk menurunkan risiko kredit pada sektor-sektor tertentu, Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan makroprudensial mengenai loan to value (LTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan besaran uang muka (down payment) untuk kredit kendaraan bermotor (KKB). Untuk sektor properti pertumbuhan kredit yang tinggi tersebut dapat mendorong terjadinya gelembung harga (bubble) yang tidak mencerminkan harga properti yang sebenarnya sehingga meningkatkan risiko kredit bank. Ketentuan LTV untuk sektor property juga sudah disempurnakan lagi dengan menurunan rasio LTV atau meningkatkan jumlah uang muka untuk akad kredit kedua dan seterusnya mengingat adanya beberapa nasabah yang memiliki KPR lebih dari satu

Apakah kebijakan menaikkan suku bunga memang menjadi faktor utama dalam pelemahan kinerja keuangan sektor perbankan?
Kebijakan meningkatkan BI Rate merupakan respons atas tekanan yang terjadi, baik pada kesimbangan eksternal maupun keseimbangan internal. Tekanan pada keseimbangan eksternal tercermin dari terjadinya defisit neraca transaksi berjalan yang sudah berlangsung selama 8 triwulan yang kemudian berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara tekanan pada keseimbangan internal tercermin pada meningkatnya laju inflasi tahun 2013 yang utamanya didorong oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Jadi kebijakan tersebut merupakan upaya untuk memperbaiki keseimbangan kondisi fundamental ekonomi yang sedang mengalami tekanan.
Memang kebijakan peningkatan suku bunga tersebut dapat berdampak pada kinerja perbankan, khususnya kompetisi dalam menarik dana pihak ketiga (DPK). Kompetisi ini dapat meningkatkan risiko likuiditas bagi bank-bank yang agresif dalam menyalurkan kredit dan memiliki LDR tinggi. Untuk itulah Bank Indonesia menyarankan agar bank lebih berhati-hati selektif dalam penyaluran kredit serta meningkatkan back up alat-alat likuid melalui GMW sekunder.

Berapa lama lagi sampai kondisi sektor keuangan akan kembali ke posisi sebelum kisruh pasar keuangan Agustus lalu?
Seperti saya utarakan sebelumnya bahwa dinamika kondisi ekonomi dan keuangan global tidak berpengaruh banyak pada sektor perbankan, tetapi berpengaruh cukup signifikan pada pasar modal dan pasar obligasi yang menerima banyak aliran modal asing masuk. Dinamika aliran modal asing (capital flows) inilah yang mempengaruhi kinerja pasar modal dan pasar obligasi (khususnya SBN).
Walaupun mengalami penurunan pertumbuhan, namun secara umum kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik. Dinamika aliran modal asing lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya terkait dengan kelangsungan kebijakan quantitative easing (QE) dan isu tapering off dari bank sentral Amerika (the Fed). Isu tapering off inilah yang menarik modal asing tersebut ke luar Indonesia sehingga menurunkan kinerja pasar modal dan pasar SBN.
Namun saya melihat fase yang bergejolak tersebut sudah dapat kita lewati dengan baik. Hal ini terlihat dari mulai stabil dan cenderung menguatnya nilai tukar rupiah, meningkatnya posisi cadangan devisa yang menandakan mulai kembalinya aliran modal masuk tersebut ke pasar keuangan Indonesia. Optimisme ini saya rasa tidak berlebihan mengingat hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada tanggal 30 Oktober 2013 memutuskan untuk mempertahankan rejim suku bunga rendah dan tetap melakukan pembelian surat berharga di pasar keuangan. Untuk itu, fase pemulihan (recovery) dari pasar keuangan kita akan terus berlangsung.

  • Baca juga: Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

Saat ini perekonomian juga masih dihadapkan pada situasi ketidakpastian karena ancaman default dari surat utang AS , bagaimana pengaruhnya pada Indonesia?
Saya rasa terlalu mahal biayanya jika Amerika benar-benar mengalami default sehingga segala upaya pasti akan dilakukan untuk menghindari default tersebut. Masalah Government Shutdown karena belum disetujuinya tambahan plafon utang pemerintah lebih dikarenakan faktor bargaining politik. Dan ini bukan yang pertama kali terjadi karena Pemerintah Amerika telah mengalami sebanyak 18 kali shutdown sejak tahun 1976 sehingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Akhirnya setelah 16 hari shutdown, toh akhirnya anggaran pemerintah Amerika disetujui juga oleh Kongres sehingga roda pemerintahan dapat berjalan normal kembali.
Pelaksanaan Government Shutdown memang akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi Amerika. Moody’s misalnya, memproyeksikan dampak shutdown akan menurunkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2013 hingga -1,4 persen jika berlangsung selama 1 bulan. Namun demikian, mengingat hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika tidak lagi dominan, dan penurunan pertumbuhan ekonomi Amerika yang terjadi juga tidak terlalu besar, maka dampaknya terhadap ekonomi Indonesia juga akan sangat minimal.

Bagaimana perkembangan transisi pengawasan dari BI ke OJK di saat pasar keuangan sedang tidak stabil?
Persiapan pengalihan fungsi pengawasan bank dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berlangsung dengan baik. Bahkan pada tanggal 18 Oktober 2013 yang lalu telah ditandatangani Nota Kesepahaman Bersama (MoU) anatar BI dan OJK sebagai bagian dari langkah-langkah persiapan pengalihan termasuk kerjasama, koordinasi dan kolaborasi yang akan dilakukan antara BI dan OJK pasca pengalihan fungsi pengawasan bank. Kami di Bank Indonesia sangat yakin bahwa proses pengalihan tersebut akan berjalan dengan lancar tanpa kendala yang berarti.
Saya rasa proses transisi pengalihan fungsi pengawasan bank dari BI ke OJK tidak terpengaruh oleh kondisi pasar keuangan saat ini karena perbankan dalam kondisi yang solid dan kuat. Sektor perbankan nasional tidak banyak terimbas oleh kondisi ekonomi global maupun dinamika pasar keuangan domestik karena eksposurnya relatif kecil.
Dinamika yang terjadi di pasar saham dan pasar obligasi sudah berada di bawah penanganan OJK karena pengawasan pasar modal sudah beralih terlebih dahulu dari Bapepam-LK ke OJK sejak awal tahun 2013.

 
 
 
 
 
Sebelumnya

Tahun Pengetatan Fiskal dan Moneter

Selanjutnya

Saatnya Perdalam Investotor Domestik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

oleh Stella Gracia
10 September 2025 - 12:17

Di tengah gejolak ekonomi global dan dinamika domestik, industri perbankan nasional masih menunjukkan resiliensi. Hal ini tercermin dari kinerja penyaluran...

Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

oleh Sandy Romualdus
24 Juli 2025 - 09:35

Pada konperensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Agusman selaku Kepala Eksekutif Pengawas PVML menyampaikan rangkaian update penting seputar...

Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

oleh Sandy Romualdus
24 Juli 2025 - 09:22

Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar pada 8 Juni 2025, berbagai isu strategis di sektor...

Integrasi Aset Kripto & Pentingnya Perlindungan Dana Nasabah

Integrasi Aset Kripto & Pentingnya Perlindungan Dana Nasabah

oleh Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:57

Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK (KE IAKD) Dalam konferensi...

Saatnya Fly To Service, Fly To Digital

Saatnya Fly To Service, Fly To Digital

oleh Sandy Romualdus
29 Mei 2021 - 13:14

Anung Herlianto, Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIGITALISASI perbankan mendapatkan momentum justru ketika pandemi meledak...

Kami Cukup Bahagia dengan Aturan Baru

Kami Cukup Bahagia dengan Aturan Baru

oleh Sandy Romualdus
16 April 2021 - 15:31

Michael Tjoajadi, CEO Schroder Investment Management Indonesia KITA lihat aturan OJK No 3/POJK 04/ 2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Pasar...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Potret Bankir Millenial dan Gen Z

    Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital

Gelar Pameran Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo 2026 Sabet Rekor MURI

Permodalan Negatif dan Gagal Penyehatan, OJK Cabut Izin Usaha BPR Citra Bersada Abadi

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Jaga Stabilitas Rupiah dari Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75%

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
CIMB Niaga Tawar Promo Menarik di Ajang Color Runâ„¢

CIMB Niaga Hadirkan The Color Runâ„¢ di Indonesia

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance