Jakarta, Stabilitas—Masuknya tenaga kerja asing yang didominasi oleh warga negara China tentu menimbulkan ketakutan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kurangnya lapangan pekerjaan ditambah dengan persaingan yang lebih ketat karena harus berhadapan dengan tenaga kerja asing menjadi hal yang sangat disayangkan. Menindaklanjuti hal tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah pun perlu berpikir keras dan mengambil langkah antisipatif ke depannya.
Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla dalam “Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia” di Jakarta, Selasa (3/1) mengemukaan kesulitannya menghadapi tenaga kerja asing khusunya Cina yang kini sudah menembus berbagai sektor. “20 ribu kira-kira buruh Cina masuk, seluruh Indonesia marah, tentu tidak mudah,”keluhnya.
Penanganan masuknya tenaga kerja asing di tingkat nasional dinilai tidak sebanding dengan pengelolaan resiko di dalam suatu perusahaan besar, sehingga hal tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga ekonomi masyarakat.
“Saya lihat pengalaman yang sama, namun dari pengusaha lalu ke pemerintahan. Mengelola perusahaan ke pemerintahan itu berbeda, apa yang dikatakan Trump, kalau korporasi itu mudah dibelokan kiri kanan, tapi sebagai negara besar tidak semudah itu,”lanjut JK.
Ketakutan masyarakat terhadap masuknya tenaga kerja Cina disebut sebagai dampak dari pemikiran yang salah. “Karena itu apa yang terjadi ke depan secara umum, pertama sistem, kalau sebelumnya selalu pikiran ekonomi dunia itu terbuka liberal, maka hampir di banyak negara mengalami banyak perubahan-perubahan lebih konservatif dan proteksionis dalam batas-batas tertentu.Coba lihat buruh Cina yang masuk banyak yang marah. Itu merupakan imbas dari pikiran yang memikirkan ekonomi suatu negara lebih protektif,”kata JK.
















