BERITA TERKAIT
Sektor perbankan adalah industri yang selalu berpacu dengan perubahan. Zaman yang bergerak selalu diimbangi perbankan dengan langkah-langkah penyesuaian yang dibutuhkan. Karenanya, bank selalu berupaya menyesuaikan bisnis dan layanannya dengan perubahan jika tidak ingin tertinggal.
Bank mengerti betul hal itu. Oleh karena itu, ketika gelombang baru dalam teknologi informasi dan komunikasi yang ditandai dengan penggunaan Internet secara masif, bank bjb berbenah diri. Layanan digital yang kemudian marak dalam beberapa tahun terakhir dan memunculkan cara-cara baru dalam praktik bisnis juga tak luput dari perhatian manajemen. Bahkan tren ini sudah menyentuh hampir semua sendi kehidupan masyarakat, tak terkecuali dalam hal transaksi pembayaran. “Sejak tahun 2010 tren ini sudah muncul. Ada perubahan perilaku dan kebutuhan nasabah yang menjadi tantangan bagi bank agar mempermudah layanannya dengan cara-cara baru,” ujar Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb), Ahmad Irfan.
Menurut dia, perubahan praktik bisnis terkait teknologi digital sudah tak bisa dielakkan lagi oleh perbankan. Yang bisa dilakukan bank hanya memanfaatkannya demi mencapai tujuan perusahaan. Meski demikian tidak hanya sekadar ikut arus perubahan tanpa bisa mengarahkannya kepada tujuan jangka panjang perseroan. Terkait tren digital, manajemen memiliki pandangan yang visioner. Pada perkembangannya, Irfan mengatakan bahwa layanan digitalisasi perbankan ke depan tidak akan lagi berbicara tentang kebutuhan (needs) melainkan sudah bersifat tren. “Ini konteksnya tren pasar. Bukan lagi soal kebutuhan. Ini soal lifestyle. Nggak keren kalau nggak pakai layanan digital. Malu kalau masih transaksi keuangan secara cash. Malu kalau kirim uang masih setor ke kantor Perubahan dalam teknologi digital yang
menyergap semua sendi kehidupan membuat bank bjb berbenah. Layanan BJB Digi, rencana masuk ke bisnis e-wallet dan membuka kerjasama dengan perusahaan fntech adalah strategi kunci bank tersebut. Berselancar dalam Perubahan Zaman bank. Hari gini…,” papar Irfan.
Dengan adanya perubahan lifestyle tersebut, maka perubahan pola transaksi pada masyarakat tinggal menunggu saatnya saja. Dalam hal ini pihak bank harus bersiap diri terkait ketersediaan teknologinya, mulai dari infrastruktur, aplikasi database hingga proses analisis nasabah yang dilakukan.
Menyadari hal itu, bank yang memiliki kode bursa BJBR ini sejak tahun 2014, telah mengembangkan layanan BJB Digi yang terdiri dari mobile banking dan Internet banking. Melalui layanan tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan penerimaan Dana Pihak Ketiga (DPK). Dengan strategi tersebut, diharapkan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) perusahaan dapat terus tumbuh dengan beragam kemudahan yang ditawarkan untuk nasabah. Tak heran kemudian jika pada tahun ini bank bjb sukses meraih penghargaan pada ajang Tempo Banking Award 2016 sebagai bank dengan digital service terbaik untuk kategori bank dengan aset di atas Rp50 triliun. Tak puas dengan itu, ke depan bank bjb juga berambisi untuk mulai masuk ke bisnis e wallet dan bahkan siap membuka jalinan kerjasama dengan perusahaan teknologi jasa keuangan (Financial Technology/fntech). Hal ini sesuai dengan tuntutan nasabah yang senantiasa menginginkan layanan yang cepat, mudah dan dapat dikendalikan oleh nasabah itu sendiri.
Layanan di customer service dan di back offce pun semakin cepat karena seluruh proses dilakukan secara digital, atau biasa dikenal dengan layanan digital end to end. “Saat ini ftur-ftur internet banking kami terdiri dari informasi,transfer dan layanan pembayaranpembelian. Kami terus kembangkan mulai dari telepon, PDAM, TV Berlangganan sampai pembayaran tiket atau pajak,” ungkap Irfan.
Perbankan Tanpa Batas
Dampak lain dari digitalisasi perbankan, menurut Irfan, adalah semakin ekspansifnya layanan bank bjb ke masyarakat wilayah perbatasan. Hal ini setidaknya tercermin dari peningkatan portofolio tabungan bank bjb pada triwulan III/2016 hingga 24 persen. Masyarakat jadi semakin mudah bayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) karena kami ada kerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Jawa Barat dan Banten. “Ini yang BPD lain belum punya. Makanya kami punya tagline ‘Ingat PBB Ingat BJB’,” ujar Irfan. Tak hanya itu, pihak bank juga diuntungkan karena transaksi dan layanan yang diberikan jadi lebih efsien. Semua orang kini bisa mengakses layanan perbankan tanpa harus bergantung pada ketersediaan kantor cabang atau pun mesin ATM. Memang pihak bank kemudian harus melakukan investasi IT yang tidak sedikit. Namun Irfan melihat hal itu bukan sebagai persoalan selama ada komunikasi yang baik antara regulator perbankan dan telekomunikasi. Hal itu mencakup juga langkah pengamanan data nasabah dan regulasi yang cukup karena pada akhirnya kembali pada manajemen risiko bank terkait. Sebagai bank besar di wilayah Jawa Barat dan Banten, bank bjb percaya tren digital banking secara umum bakal memudahkan dan memenuhi kebutuhan nasabah sampai di wilayah pelosok. Dengan adanya layanan tersebut, secara tidak langsung juga akan berpengaruh terhadap loyalitas nasabah terhadap ragam produk yang dimiliki
oleh bank bjb. Misalnya, kemudahan bertransaksi bagi pengusaha UMKM.
Hadirnya layanan digitalisasi perbankan menawarkan kemudahan akses bagi pelaku UMKM dalam mengakses berbagai produk keuangan. Sebut saja pembiayaan UMKM sampai connecting dengan pengusaha startup lain, jadi bisa dilakukan dengan adanya layanan digital. Layanan digitalisasi perbankan akan mempersolid hubungan dan komunikasi antara bank bjb dengan nasabah yang selama ini berlandaskan azas business to government, business to business, business to human hingga human to human. Mungkin saat ini masih ada pandangan bahwa teknologi digital hanya menyasar masyarakat perkotaan yang notabene memiliki pasokan jaringan internet yang memadai.
Sementara masyarakat pedesaan yang memiliki keterbatasan dalam hal jaringan koneksi internet dianggap masih cukup grogi dalam berinteraksi secara digital. Namun bank bjb meyakini bahwa cepat atau lambat inklusi keuangan bagi masyarakat di pelosok dan belum mengenal perbankan akan terjadi. “Pada saat itulah inovasi digital banking dan perusahaan fntech yang menawarkan kecepatan, efsiensi dan akuntabilitas akan berkembang. Akan ada perubahan perilaku dan kebutuhan nasabah, bergeser dari generasi baby boomers, generasi X hingga generasi Y yang saat ini juga turut mempengaruhi percepatan perubahan ini,” tegas Irfan.(adv)
















