STABILITAS, Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk melakukan kerjasama dengan STIE Indonesia Banking School (IBS) dalam peningkatan kemampuan tenaga kriya (magang) perseroan untuk menjawab kebutuhan tenaga perbankan di era digital. Dalam program beasiswa ini, tenaga kriya Mandiri yang potensial dan berprestasi akan diusulkan mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru dan setelah dinyatakan lulus seleksi, akan mendapatkan kesempatan kuliah di Program Perbankan IBS dan meraih gelar S1.
Tenaga kriya adalah program pemagangan atau belajar bekerja secara terpadu di Bank Mandiri dengan penempatan di berbagai unit kerja/kantor cabang Bank Mandiri di seluruh Indonesia dalam periode 1 tahun dan bisa diperpanjang maksimal 3 tahun.
Kerjasama Nota Kesepahaman tentang penyelenggaraan program pendidikan S1 bagi peserta program kriya Mandiri ini ditandatangi oleh Direktur Teknologi Informasi dan Operasional Bank Mandiri Rico Usthavia Frans dan Ketua STIE IBS Subarjo Joyosumarto di sela-sela Seminar Nasional Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Revolusi Industri 4.0 (Digital) di Kampus Bumi LPPI Kemang, Jakarta, Senin (7/5).
BERITA TERKAIT
“Tantangan industri perbankan saat ini adalah persaingan ketat dengan pelaku usaha berbasis teknologi informasi. Untuk itu, kami merasa perlu mempersiapkan sumber daya manusia di Bank Mandiri, bahkan untuk tenaga kriya, agar memiliki kemampuan dasar perbankan digital yang mumpuni,” ujar Direktur Kepatuhan Bank Mandiri Agus Dwi Handaya yang turut menyaksikan penandatanganan MoU tersebut.
Kerjasama ini juga akan memberikan peluang yang lebih baik kepada tenaga kriya dalam membangun kompetensi serta meningkatkan karier, baik di Bank Mandiri maupun di tempat lain.
Dalam proses pendidikan yang dilaksanakan di program studi yang direncanakan, para tenaga ahli Bank Mandiri juga diberi kesempatan untuk ikut membagikan ilmu dan pengetahuannya sebagai dosen tamu di IBS.
“Hal ini tentau dapat menambah kompetensi lulusan sesuai dengan harapan dunia kerja, karena akan emndapatkan contoh kasus-kasus nyata dan penyelesainnya sebagai pengayaan materi pembelajaran,” tambah Agus Dwi.
















