Gelombang digitalisasi layanan perbankan yang tidak terbendung membuat layanan tradisional menjadi terpinggirkan. Apakah ini menjadi akhir dari era bank tradisional?
Oleh Syarif Fadilah
Pandemi yang sudah berlangsung lebih dari setahun ini memiliki dua sisi yang saling memunggungi. Tidak ada yang menyangkal bahwa bagi seluruh masyarakat dari lokal sampai global, wabah virus corona ini adalah sebuah musibah uang telah meluluhlantakkan ekonomi. Hingga akhirnya menjelma resesi.
Namun begitu, harus juga diakui bahwa wabah ini juga membawa anugerah. Ketika hampir seluruh pelaku bisnis menderita karena kebijakan pembatasan sosial untuk mengurangi penyebaran virus, mereka pun bergegas mengadopsi teknologi digital. Langkah itu dilakukan tidak hanya untuk menyelematkan kinerja keuangannya, tapi sekaligus agar bisa terus bertahan dan relevan dengan zaman.
BERITA TERKAIT
Di sektor keuangan fenomena itu benar-benar menjadi wajah yang dominan, dan hingga kini transformasi digital pada layanan keuangan terus berlangsung. Transformasi digital sepertinya menjadi satu-satunya opsi yang harus diterapkan perbankan saat ini, jika tidak ingin ditinggalkan nasabah. Risiko ditinggalkan nasabah sejatinya lebih menyeramkan bagi bank dibanding dengan risiko penurunan kinerja akibat pandemi ini.
Dalam sebuah pertemuan dengan pada pelaku usaha perbankan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana menegaskan kembali besarnya risiko bank jika tidak melakukan transformasi. “Mau tidak mau bank harus siap (dengan digitalisasi), kalau tidak siap akan ditinggalkan nasabah,” kata dia.
Berdasarkan data otoritas, dari 107 bank konvensional dan bank syariah yang ada di Indonesia, hampir seluruhnya mulai mengarah ke layanan digital. Bank besar seperti PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Permata Tbk mulai mentransformasi diri untuk bisa memberikan layanan digital. Sementara bank kelas menengah dan bank kecil sudah meminta izin untuk bisa menjadi bank digital.
Digitalisasi memang menjadi harga mati bagi bank untuk diikuti, sekarang ini. Meski demikian, sebagai lembaga kepercayaan masyarakat, bank tentunya tidak serta merta meninggalkan layanan yang dianggap masih tradisional.
Memang keinginan dan kebutuhan akan layanan digital dari bank sedang berada di puncaknya. Tetapi sejatinya di dalam portofolio nasabah bank, masih banyak nasabah yang tergolong generasi baby boomers dan gen X yang masih menginginkan layanan tradisional di pertahankan. Mereka masih membutuhkan untuk datang ke bank, mengobrol dan berbincang dengan pegawai bank, dan menyelesaikan transaksi dengan mendatangi langsung kantor bank.
Gelombang besar disrupsi teknologi yang makin meraksasa setelah adanya pandemi, membuat keinginan dan kebutuhan untuk mendigitalisasi layanan bank makin tak terbendung.
Kendati begitu, otoritas tidak ingin mendesak bank untuk secepatnya bertransformasi menjadi bank digital. Bank bisa melakukannya bertahap, dimulai dari proses bisnis sehingga lebih cepat dibanding bank tradisional. “Apabila belum bisa,maka diimbau untuk berkolaborasi, khususnya bank- bank kecil atau Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Kalau dulu disrupsi, sekarang kita upayakan tidak lagi, tapi sekarang trennya kolaborasi,” kata Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto.
Saat ini masih ada bank yang beroperasi mengandalkan layanan tradisional sehingga teap mengandalkan kontak fisik atau tatap muka. Lalu, ada bank tradisional yang memanfaatkan teknologi untuk mengubah layanannya menjadi digital, serta ada bank yang full digital atau digital first bank. Tetapi di Indonesia belum ada bank yang murni didirikan sebagai bank digital.
Harus Bertransformasi
Akan tetapi, hampir semua bank sudah siap terjun ke layanan digital, setidaknya itu ada dalam rencana utama mereka. Tidak ada bank yang ingin tertinggal dengan tren ini karena bisa berimbas pada ditinggalkannya layanan mereka oleh nasabah yang menganggap bank mereka tertinggal.
Menurut Direktur Teknologi dan Operasional PT Bank Permata Tbk Abdy D Salimin, layanan digital atau bahkan bank digital sengaja didesain khusus agar bisa menawarkan layanan keuangan melalui internet dan tidak memiliki cabang fisik. “Produk yang ditawarkan tentunya lebih terbatas dari bank tradisional, terkadang tidak lebih dari produk tabungan sederhana dan pinjaman pribadi,” jelas dia.
Singkatnya, bank digital ini dapat menawarkan produk dan jasanya kepada nasabah tanpa harus bertemu langsung. Pelanggan dapat membuka rekening atau mendapatkan pinjaman dan bertransaksi secara digital dari aplikasi mobile banking.
Abdy melanjutkan, transformasi digital bukan lagi menjadi pilihan bank tradisional. Transformasi digital ini malah menjadi sarana untuk meningkatkan efisiensi agar bertahan hidup dan bisa mendapatkan tempat di ekosistem keuangan yang baru dengan model bisnis dan kehadiran pemain baru.
Bank Permata, kata dia, harus beradaptasi dengan kebiasaan nasabah yang baru, mengadopsi cara kerja yang baru, seperti multi channel, menawarkan layanan eksklusif baru yang mendorong dan mempromosikan persaingan serta memberikan layanan pelanggan yang lebih baik. “Kami juga mempercepat transformasi digital, meluncurkan produk dan layanan digital baru,” kata Abdy.
Lain halnya dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk yang memilih jalan untuk membentuk anak usaha bank digital. Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan, transformasi anak usaha BRI, yakni PT BRI Agroniaga Tbk menjadi bank digital masih dalam tahap koordinasi dengan OJK. “Setelah rencana bisnis BRI Agro disetujui OJK, maka akan segera dilakukan keterbukaan informasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di pasar modal,” kata dia.
Namun demikian, BRI juga melakukan transformasi digital di perusahaannya sendiri. Aestika mengungkapkan, transformasi ini diarahkan kepada beberapa hal, antara lain digitalisasi proses untuk memperoleh kecepatan proses, kemudahan, akurasi (ketepatan) menuju efisiensi.
Selanjutnya, BRI menciptakan nilai tambah baru dengan model bisnis yang baru. BRI juga menciptakan pola-pola distribution channel maupun ekosistem baru seperti membangun jaringan melalui prinsip keagenan, yakni Agen BRILink.
Ekosistem Digital
Di lain pihak, bank yang sedang mengarah menjadi bank digital juga ingin transformasi ini berlangsung secara berkesinambungan dan bukan hanya fenomena sesaat. Pasalnya, antusiasme investor dan masyarakat sangat tinggi terhadap bank digital ini.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) Tjandra Gunawan menjelaskan, nilai saham BBYB melonjak cukup signifikan pada bulan Februari hingga awal Maret 2021, yakni dari Rp 340 pada Februari 2021 menjadi Rp 1.010 pada 26 Maret 2021.
“Kenaikan harga saham BBYB yang cukup signifikan juga mendapat perhatian Bursa Efek Indonesia (BEI). Kami sangat senang karena hal ini menunjukkan bahwa antusiasme dan kepercayaan masyarakat terhadap bank digital,” terang Tjandra.
Tjandra menjelaskan untuk memenuhi aspirasi masyarakat tersebut, Bank Neo Commerce memperkuat ekosistemnya dengan menggandeng Akulaku. Pada 2019, perusahaan fintech ini resmi menjadi pemegang saham di Bank Neo Commerce.
Menurut Tjandra, pengalaman Akulaku dalam menjalankan aktivitas keuangan digital menjadi nilai tambah bagi Bank Neo Commerce untuk menjadi bank digital. Dukungan dari Akulaku ini pula yang membuat Bank Neo Commerce memiliki posisi yang berbeda dibandingkan dengan lainnya. “Dukungan dari pemegang saham terkait pemenuhan modal inti minimum bank juga dapat menjadi bukti keseriusan Bank Neo Commerce dalam bertransformasi menjadi bank digital,” terang dia.
Ke depan, untuk bisa meningkatkan fundamental menjadi bank digital, Bank Neo Commerce akan menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan digital ternama seperti Huawei, Sunline, dan Tencent Cloud. Kerja sama ini untuk mewujudkan pengalaman perbankan digital yang aman dan terlindungi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi atas kerahasiaan data nasabah.
Bank Neo Commerce juga sedang menyiapkan mobile banking apps bernama Neo+ yang diluncurkan akhir bulan Maret 2021, sambil menunggu proses persetujuan OJK terkait proses opening account online. Menurut rencana, proses onboarding atau pembukaan rekening akan dilakukan fully digital dan e-KYC juga dilakukan dengan proses biometric. “Selain itu, Bank Neo Commerce juga akan menggandeng perusahaan financial technology dan ritel untuk bekerja sama dengan skema channeling,” papar dia.
Pembentukan ekosistem untuk mendukung fundamental bank digital ini juga dilakukan oleh PT Bank Jago Tbk. Bank yang dahulunya bernama Bank Artos ini secara resmi memboyong Gojek masuk menjadi pemegang saham. Masuknya Gojek diharapkan bisa membentuk ekosistem keuangan digital dengan Bank Jago sebagai medianya. Di samping dengan Gojek, Bank Jago juga membangun kemitraan dengan Akseleran dan Kredit Pintar.
Founder Bank Jago Jerry Ng dalam Indonesia Data and Economic Conference 2021 oleh Katadata mengatakan, kolaborasi tersebut dapat menjadi strategi kunci untuk mengakselerasi pertumbuhan bisnis bank digital. Bentuk kolaborasi ini dilakukan oleh bank digital di Tiongkok dan Korea Selatan sehingga mereka bisa meningkatkan pertumbuhan melalui produk dengan spektrum yang lebih luas. Model ini berbeda dengan bank digital di Eropa dan Amerika Serikat yang fokus pada pengembangan layanan bersifat life centric.
“Bank is no longer the centre of ecosystem, tetapi bagian dari ekosistem. Jika menempatkan diri dengan tepat, kami akan punya peranan strategis karena apapun yang dilakukan konsumen, ujung-ujungnya adalah pembayaran,” kata Jerry.

















