• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Antara Stimulis The Fed dan ECB

by Sandy Romualdus
31 Mei 2015 - 00:00
11
VIEWS
Antara Stimulis The Fed dan ECB
0
SHARES
11
VIEWS

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Pendulum ekonomi dan keuangan dunia agaknya bersiap untuk beralih arah. Jika sebelumnya Amerika Serikat (AS) –sebagai motor negara maju—jatuh ke jurang resesi ganda (double-dip recession) dan negara berkembang tumbuh kian cepat, maka kini yang terjadi sebaliknya. AS menampakkan sinyal kestabilan menuju level rata-rata pertumbuhan normal sekitar 2-3 persen (yoy) per tahun.
Di sisi lain, kelompok emerging market yang dimotori China (kekuatan ekonomi terbesar ketiga dunia) justru tengah melambat. Bahkan, dua kekuatan lain, Zona Euro dan Jepang, masih terbelit pertumbuhan yang rendah. Perekonomian Jepang bahkan terkontraksi (tumbuh minus) dan mengalami deflasi alias penurunan harga secara umum yang bisa mencerminkan lemahnya permintaan.
Di pasar, indikasi pulihnya ekonomi negeri Paman Sam, telah memicu berkurangnya likuiditas global. Pasalnya, stimulus moneter yang sebelumnya dilakukan untuk menambah jumlah dollar AS (likuiditas) di pasar, dihentikan bertahap (tapering-off) oleh the Fed dan suku bunga acuannya diisukan segera naik. Normalisasi kebijakan moneter itu membuat dollar AS menguat terhadap hampir semua mata uang kuat dunia dalam satu hingga setengah tahun terakhir. Sebaliknya, penurunan harga terjadi di pasar komoditas yang selama ini menjadi tempat bagi dana ekses likuiditas dollar AS hasil stimulus quantitative easing (QE) the Fed.
Selain pasar komoditas, pasar modal terutama di emerging market seperti Indonesia juga mengalami tekanan. Harga obligasinya turun dan yield naik. Di samping akibat spekulasi akan naiknya Fed Fund Rate Desember 2014, turunnya bond price dan aset-aset finansial lain memang menjadi konsekuensi logis dari berkurangnya ekses likuiditas di AS. Tapi bukankah the Fed hanya mengurangi—tidak menghentikan—stimulus moneternya? Benar.
Stimulus moneter the Fed memang masih berjalan. Hal itu tampak dari jumlah dana perbankan (banks reserve) pada rekening di the Fed yang belum turun signifikan. Sebagai catatan, kebijakan moneter kuantitatif the Fed dilakukan melalui pembelian (atau penjualan) obligasi pemerintah AS. Dengan membeli (menjual) obligasi tersebut, The Fed menambah (mengurangi) likuiditas dollar AS ke sistem perbankan dan perekonomian secara umum. Ketika membeli (menjual) bonds, The Fed meng-kredit (mendebit) rekening bank terkait senilai harga beli (jual) obligasi sehingga menaikkan (menurunkan) nilai bank reserve di neraca (pasiva) bank sentral AS itu. Di Indonesia, bank reserve sepadan dengan giro pada Bank Indonesia/BI (GWM) maupun penempatan (bank) pada BI seperti dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI), term deposit, dll.

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Suplai Likuiditas

Mengapa dalam kondisi moneter AS yang masih longgar itu nilai aset finansial turun? Jawabannya adalah karena ekses likuiditas sejak akhir 2014 turun signifikan. Ada dua pandangan dalam menilai perubahan nilai ekses likuiditas atau kelebihan likuiditas (dollar AS). Pertama, dalam konteks sistem perbankan, perubahan ekses likuiditas adalah kelebihan nilai likuiditas internal perbankan AS, termasuk dari QE, dibandingkan dengan yang disalurkan sebagai kredit.
Kedua, dalam konteks perekonomian makro-moneter, perubahan ekses likuiditas adalah kelebihan suplai dibandingkan dengan permintaan dollar AS
untuk membiayai defisit APBN Amerika (yang bersifat menyerap likuiditas).
Proyeksi suplai likuiditas dollar AS secara sederhana dapat dihitung dari nilai stimulus moneter atau QE ditambah dengan dollar AS yang menjadi cadangan devisa di bank sentral di seluruh dunia.
Rencana nilai QE dapat dilihat dari jadwal tentatif tapering-off oleh The Fed dan proyeksi defisit APBN dari Congressional Budget Office parlemen AS. Perubahan cadangan devisa dollar AS di berbagai negara dapat diwakili oleh nilai surplus (defisit) transaksi berjalan AS.
Jika transaksi berjalan defisit berarti AS mengeluarkan likuiditas dollar AS ke negara lain untuk membayar impor, transfer pendapatan, dll. Begitupun sebaliknya. Nah, tambahan suplai dollar AS dari QE plus cadangan devisa dunia dibandingkan defisit APBN AS terus mengecil hingga minus pada akhir 2014. Kebijakan stimulus moneter kuantitatif yang terlihat efektif di AS coba diterapkan di Zona Euro. Setelah suku bunga acuannya turun ke level terendah 0,05 persen sejak September 2014, European Central Bank (ECB) menjalankan program seperti EAPP (Expanded Asset Purchased Program) untuk menambah likuiditas pada perekonomiannya. Namun, samakah dampaknya dengan dampak QE The Fed?
Kebijakan ECB terutama dilakukan dengan membeeri pinjaman kepada bank dengan jaminan aset, sehingga tidak berpengaruh langsung terhadap yield obligasi dan saham sebagaimana QE The Fed yang selalu menyita reaksi pelaku pasar modal. ECB praktis hanya mempengaruhi pasar uang. QE (1 & 2) The Fed juga telah menaikkan harga komoditas termasuk emas. Adapun harga komoditas diperkirakan terus turun di tengah realisasi QE ala ECB.
Selain itu, alat yang digunakan dalam QE ECB adalah pinjaman sehingga dapat dilunasi oleh perbankan. Pelunasan itu menyebabkan nilai aset ECB turun— begitupun dengan likuiditas euro di pasar—“di luar” kendali bank sentral Eropa itu. Sementara itu, The Fed bisa mengurangi likuiditas dollar dengan menjual (me-repo-kan) obligasi negara yang dibeli dalam QE-nya. Selama The Fed belum me-repo-kan dan masih memborong obligasi maka likuiditas
masih longgar yang tercermin dari aset The Fed yang masih cenderung meningkat.

  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital
 
 
 
 
 
Previous Post

Tertolong Program Perumahan

Next Post

Penjahat Siber Mulai Menyerang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
BTN Layani Transaksi Pendaftaran Dan Iuran BPJS

BTN Layani Transaksi Pendaftaran Dan Iuran BPJS

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance