Stabilitas.id – Emiten bank digital PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) berhasil mempertahankan tren positif dengan membukukan laba bersih sebesar Rp136,98 miliar pada kuartal I/2026. Capaian ini menandai konsistensi perseroan dalam mencetak keuntungan sejak tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, kenaikan laba ini turut mengerek rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perseroan ke level 50,60%, naik signifikan dibandingkan posisi periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 35,81%.
Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono menjelaskan bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik global, BBYB tetap fokus pada pertumbuhan kredit di segmen digital retail secara hati-hati dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik.
BERITA TERKAIT
“Kami fokus mendorong pertumbuhan kredit secara pruden dan memperkuat ekosistem digital. Raihan laba Rp136,98 miliar pada kuartal pertama ini membuktikan tren kinerja positif yang melampaui target internal kami,” ujar Eri dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).
Strategi Dana Murah dan Efisiensi
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BBYB tercatat sebesar Rp13,42 triliun. Meskipun secara total terkontraksi 1,97% secara tahunan (year-on-year/YoY), perseroan berhasil memperbaiki struktur pendanaan.
Tabungan mengalami pertumbuhan 8,62% YoY menjadi Rp3,50 triliun, sementara deposito mengalami penyusutan 2,18% menjadi Rp9,35 triliun. Alhasil, rasio dana murah (current account savings account/CASA) BBYB berada di level 30,34% pada akhir Maret 2026.
Langkah ini berdampak pada efisiensi operasional. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) tercatat di level 83,68%, sementara Cost to Income Ratio (CIR) berada di angka 32,93%. Margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) perseroan pun berada di level yang cukup tinggi, yakni 13,50%.
Kualitas Kredit dan Rencana Ekspansi
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit tercatat sebesar Rp7,03 triliun atau terkontraksi 17,24% YoY. Penurunan ini sejalan dengan strategi perseroan yang lebih selektif dalam menyalurkan kredit guna menjaga kualitas aset. Terbukti, NPL Netto tetap terjaga di level rendah, yakni 0,43%.
Guna memacu pertumbuhan ke depan, BBYB berencana meluncurkan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) pada tahun ini sebagai bagian dari upaya memperluas akses pembiayaan yang aman dan relevan bagi nasabah.
Adapun dari pasar modal, saham BBYB resmi masuk dalam indeks Economic 30 per Maret 2026. “Masuknya BBYB dalam indeks tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap prospek perseroan yang konsisten mencatatkan kinerja keuangan meyakinkan,” tutup Eri. ***
Kinerja Keuangan Bank Neo Commerce (BBYB) 1Q26:
| Indikator Keuangan | Capaian (1Q26) | Keterangan |
| Laba Bersih | Rp136,98 Miliar | Tren Positif Berlanjut |
| Total Aset | Rp18,34 Triliun | Naik 0,94% YoY |
| NIM | 13,50% | Tinggi |
| CAR | 50,60% | Permodalan Sangat Kuat |
| NPL Netto | 0,43% | Kualitas Kredit Terjaga |
| BOPO | 83,68% | Efisiensi Terjaga |

















