• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Rabu, Mei 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Finance

Bank NTT: 63 Tahun Menenun Asa, Membangun Negeri dari Timur

oleh Sandy Romualdus
17 Juli 2025 - 13:28
63
Dilihat
Bank NTT: 63 Tahun Menenun Asa, Membangun Negeri dari Timur
0
Bagikan
63
Dilihat

Di tanah kering berbatu yang dikenal dengan kekayaan budaya dan semangat gotong royong masyarakatnya, sebuah lembaga keuangan lahir dengan mandat mulia: menjadi lokomotif pembangunan ekonomi daerah. Bank Nusa Tenggara Timur—atau lebih akrab disebut Bank NTT—tahun ini memasuki usia ke-63. Usia matang bagi sebuah bank daerah yang terus tumbuh, bertransformasi, dan beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bank milik rakyat NTT.

Kelahiran dari Semangat Daerah

Bank NTT didirikan pada 17 Juli 1962, sebagai bentuk jawaban atas kebutuhan layanan keuangan yang inklusif di wilayah kepulauan yang kala itu belum tersentuh oleh sistem perbankan nasional secara merata. Seiring berjalannya waktu, bank ini mengalami sejumlah transformasi hukum dan struktur organisasi—dari perusahaan daerah, menjadi perseroan terbatas, dan kini berstatus sebagai bank devisa.

Namun satu hal yang tak berubah: DNA Bank NTT adalah “melayani masyarakat kecil hingga ke pelosok”, begitu kata Harry Alexander Riwu Kaho, Direktur Utama Bank NTT periode 2020–2024. Dalam beberapa pernyataannya kepada media, ia menyebut Bank NTT bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tapi juga sebagai “alat perjuangan ekonomi” bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.

BERITA TERKAIT

Aset Konsolidasi Tembus Rp168,85 Triliun, KUB Bank Jatim Gerbang Aliansi Ekonomi Lintas Daerah

Babak Baru Konsolidasi Bank Daerah: Bank Jatim Resmi Suntik Modal, Bank NTT Siap Berbenah

Kinerja Moncer! Bank NTT Perpanjang Masa Jabatan Plt Dirut, Yohanis Landu Kembali Pimpin Hingga 2026

KRN Bank NTT Resmi Usulkan Nama Komisaris dan Direksi ke OJK: Antara Figur Karier Versus ‘Titipan’ Politik

“Kami percaya bahwa pembangunan daerah tidak bisa berjalan tanpa pembiayaan yang inklusif dan terjangkau. Bank NTT hadir untuk itu—untuk menjadi penggerak ekonomi dari desa ke kota, dari pasar tradisional ke skala ekspor,” ujar Harry saat meresmikan status Bank NTT sebagai bank devisa, 4 September 2023 silam.

Langkah besar diambil Bank NTT ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan izin status bank devisa. Ini bukan sekadar perubahan status administratif. Dengan status ini, Bank NTT membuka diri terhadap jaringan global: melayani remitansi tenaga kerja Indonesia (PMI) di luar negeri, mendukung pelaku UMKM ekspor, hingga menyediakan layanan transaksi valas yang dibutuhkan sektor pariwisata dan perdagangan luar negeri.

“Transformasi ini adalah bagian dari rencana besar kami menjadikan Bank NTT sebagai bank yang modern, profesional, namun tetap membumi,” tambah Harry.

Membangun dari Pinggiran: Kredit Mikro dan Inklusi

Bank NTT dikenal aktif menggelontorkan kredit mikro kepada sektor-sektor produktif: petani garam, nelayan kecil, peternak sapi, serta pedagang pasar. Produk unggulan seperti Kredit Merdeka, Kredit Mikro Sejahtera, dan KUR Tani menjadi tulang punggung pendanaan produktif di daerah yang belum terjangkau bank nasional.

“Kredit bukan hanya angka, tapi harapan. Ketika kami menyalurkan pembiayaan ke desa terpencil, kami sedang menanam benih masa depan,” ujar Yohanis Landu Praing, Pelaksana Tugas Direktur Utama Bank NTT sejak 2024.

Di bawah kepemimpinannya, Bank NTT semakin menegaskan peran sebagai agen inklusi keuangan, sejalan dengan target nasional inklusi 90% di tahun 2026.

Untuk itu, digitalisasi menjadi kata kunci dalam strategi bisnis Bank NTT selama dekade terakhir. Sejumlah inovasi telah diluncurkan: NTT Pay dan mobile banking berbasis komunitas, yang menyasar pelaku UMKM dan pelajar. Biller system untuk pembayaran pajak, retribusi, dan tagihan publik. Smart Branch di kota-kota besar NTT, dengan layanan self-service dan edukasi literasi keuangan.

Bank ini juga telah menjadi mitra pembayaran digital pemerintah daerah, termasuk dalam sistem Electronic Budgeting & Treasury untuk pengelolaan keuangan daerah yang transparan dan akuntabel.

Angka Berbicara

Alhasil dalam beberapa tahun terakhir, Bank NTT berhasil menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dan impresif — indikator nyata dari profesionalisme dan sinergi antara manajemen dan pemangku kepentingan.

📊 Aset & Dana Pihak Ketiga (DPK)

  • 2022: Aset Bank mencapai sekitar Rp 16,4 triliun, meningkat 5,26% dibanding tahun sebelumnya. DPK tumbuh menjadi Rp 12,2 triliun, termasuk giro Rp 2,02 triliun dan tabungan Rp 4,11 triliun .
  • Akhir 2023: Aset naik ke Rp 16,9 triliun, tumbuh nyaris 97,5% tahun ke tahun. DPK meningkat menjadi sekitar Rp 12,613 triliun, sedangkan kredit yang disalurkan mencapai Rp 12,552 triliun, menunjukkan pertumbuhan hampir 98% yoy .
  • September – Desember 2024: Aset menyentuh Rp 17,44–17,50 triliun, sedangkan DPK melonjak hingga Rp 13,770 triliun, terdiri dari giro Rp 4,74 triliun, tabungan Rp 3,59 triliun, deposito Rp 5,42 triliun .

📈 Kredit Tersalurkan

  • 2022: Kredit tumbuh sekitar 5,17% menjadi Rp 11,7 triliun. Kredit konsumsi menjadi motor utama pertumbuhan, sementara kredit investasi dan modal kerja sempat terkontraksi .
  • Akhir 2023: Bank menyalurkan kredit sebesar Rp 12,55 triliun, hampir menyentuh target dengan pertumbuhan kredit UMKM mencapai lebih dari 100% dari tahun sebelumnya .
  • Desember 2024: Kredit bank mencapai Rp 12,782 triliun, terdiri dari konsumsi Rp 10,734 triliun, investasi Rp 541 miliar, dan modal kerja Rp 1,504 triliun .

💰 Laba Bersih

  • 2022: Laba sebelum pajak tercatat Rp 296 miliar meski tekanan pandemi, dengan modal inti Rp 2,3 triliun dan CAR 26,05% .
  • 2023: Bank membukukan laba sebelum pajak Rp 146 miliar, hampir hampir menyamai target; pertumbuhan aset dan kredit juga menunjukkan tren positif .
  • 2024: Laba bersih Bank NTT pada tahun 2024 mencapai Rp 188,05 miliar, meningkat 70,72% dari Rp 110,15 miliar pada tahun 2023. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih dan penurunan beban bunga. 

🧾 Profitabilitas & Efisiensi

  • Net Interest Income (NII) tumbuh sekitar 4–4,2% YoY menjadi sekitar Rp 1,08 triliun, sementara beban bunga turun sekitar 3,9–6,7%, menghasilkan NIM meningkat dari 6,50% menjadi sekitar 7,02%.
  • Beban operasional turun sekitar 4,8%, meski rasio BOPO sempat meningkat dari 87% menjadi 91% karena upaya efisiensi masih berjalan.

⚖️ Kualitas Aset & Risiko

  • NPL Gross sempat meningkat dari 2,87% ke 3,44%, namun NPL Net justru merosot sedikit dari 1,23% menjadi 1,21%, menandakan penurunan risiko bersih secara hati-hati .
  • CAR tetap kokoh di atas 25–26%, meski ada sedikit penurunan dari 27,31% menjadi sekitar 25,35%, namun tetap berada di zona aman dan memadai secara prudensial.
  • LDR turun dari 106,5% ke 96,7%, mendekati rentang ideal dan menunjukkan likuiditas yang lebih sehat .

Di tengah gemuruh tantangan global dan dinamika ekonomi nasional, Bank NTT bergerak dengan penuh strategi dan fleksibilitas. Dari aura stabilitas modal pada 2022 hingga lonjakan laba 45–70% di 2024, angka-angka itu bukan hanya hasil perhitungan kuartalan—melainkan bukti ketahanan institusi yang tumbuh dari akar konektivitas lokal dan tata kelola modern.

Pertumbuhan aset dari Rp 16,4 triliun pada 2022 ke Rp 17,5 triliun per akhir 2024 mencerminkan kepercayaan masyarakat yang kian kuat—disalurkan melalui tabungan, giro, dan deposito. Sementara penyaluran kredit yang sebagian besar diarahkan ke sektor konsumsi dan UMKM lokal menunjukkan prioritas terhadap inklusi dan multiplier effect ekonomi.

Laba bersih yang melonjak luar biasa menjadi tanda pencapaian strategis: margin bunga yang menguntungkan, efisiensi operasional, dan manajemen risiko yang efisien menciptakan ruang tumbuh meski tekanan di luar kurva—seperti naiknya biaya bunga dan volatilitas suku bunga.

Angka-angka ini menunjukkan momentum — bukan hanya pertumbuhan numerik, tapi akselerasi menuju bank daerah yang efisien, inklusif, dan resilient. Bank NTT membuktikan bahwa di balik setiap rupiah yang disimpan atau dipinjamkan, ada nilai yang tumbuh untuk masyarakat NTT.

KUB: Menenun Kekuatan Daerah 

Sementara itu, dalam peta industri perbankan nasional, sinergi antarbank milik daerah (BPD) tak lagi sekadar jargon. Di tengah tuntutan regulasi modal inti minimum Rp 3 triliun, transformasi digital, dan perubahan perilaku nasabah, Bank NTT menunjukkan ketepatan langkah dengan menjalin kemitraan strategis melalui skema Kolaborasi Antar Bank Umum (KUB) bersama Bank Jatim. Mengapa KUB Penting?

Sejak Peraturan OJK No. 12/POJK.03/2020 mewajibkan bank umum untuk memenuhi modal inti minimum Rp 3 triliun, bank pembangunan daerah yang belum mencapai batas itu dihadapkan pada dua pilihan: bergabung (merger) atau berkolaborasi (KUB). Bank NTT memilih yang kedua—dan melangkah cepat.

Dengan Bank Jatim sebagai induk KUB, Bank NTT tidak hanya berhasil memenuhi kewajiban modal, tapi juga membuka peluang kolaborasi bisnis dan penguatan kapasitas institusional. “KUB ini bukan sekadar strategi kepatuhan modal, tapi sebuah pintu gerbang menuju integrasi teknologi, jaringan antarbank, dan sinergi layanan lintas daerah,” ungkap Landu Praing, dalam sesi media brief awal 2025.

💹 Modal Inti Terpenuhi, Kapasitas Menguat

Berkat dukungan dari Bank Jatim dalam skema KUB, modal inti Bank NTT kini telah melampaui Rp 3 triliun, menjadikannya bank yang tidak hanya “selamat” dari tekanan regulasi, tapi justru berada dalam posisi ofensif untuk ekspansi layanan dan bisnis.

Per akhir 2024, OJK menyatakan bahwa struktur modal Bank NTT sehat dan memenuhi persyaratan Tier 1 capital, seiring dengan pertumbuhan laba, likuiditas, dan peningkatan kualitas aset yang terus dijaga.

🤝Kolaborasi Lintas Daerah: Bukan Sekadar Modal

Keberhasilan KUB antara Bank NTT dan Bank Jatim tidak hanya mengandalkan kekuatan neraca, tapi juga menyentuh aspek paling strategis dalam perbankan era digital: transfer teknologi, kolaborasi layanan, dan integrasi channel bisnis.

  • Transfer Teknologi Digital
    Bank Jatim berbagi pengalaman dan infrastruktur digital dalam pengembangan core banking system, e-channel, serta penguatan keamanan siber. Bank NTT kini dalam tahap lanjut integrasi sistem layanan digital dan aplikasi mobile banking baru dengan dukungan teknis dari Bank Jatim.
  • Layanan Cross-Selling dan Jaringan ATM Bersama
    Nasabah Bank NTT kini dapat menikmati perluasan akses jaringan ATM, EDC, dan layanan keuangan digital di wilayah Jawa Timur, sekaligus membuka peluang kerja sama lintas produk seperti kredit sindikasi antar-BPD dan tabungan diaspora NTT di Jawa.
  • Kolaborasi Kredit dan Pembiayaan UMKM
    Salah satu agenda besar dalam kemitraan KUB ini adalah pembiayaan UMKM berbasis komoditas unggulan daerah. Bank Jatim mendukung skema kredit mikro di sektor pertanian dan peternakan NTT, sementara Bank NTT ikut memasarkan produk-produk UMKM Jawa Timur di marketplace lokal NTT.
  • Manajemen Risiko & SDM
    Dalam kerja sama ini, Bank NTT juga mendapatkan mentoring dalam penguatan manajemen risiko, kepatuhan, dan pengembangan SDM. Program pelatihan bersama dan pertukaran pegawai telah dimulai sejak kuartal IV 2024, membuka ruang belajar yang luas untuk profesional muda Bank NTT.

“Kami membayangkan sebuah ekosistem bank daerah yang saling menopang: ketika warga NTT bisa mengakses layanan keuangan saat berada di Surabaya, dan pelaku usaha Jatim bisa memasarkan produknya di Maumere dengan pembiayaan dari Bank NTT,” tutur seorang eksekutif Bank Jatim dalam paparan sinergi antar-BPD tahun lalu.

OJK menyebut kemitraan antara Bank Jatim dan Bank NTT sebagai “model ideal KUB yang tidak hanya compliance-driven, tapi juga growth-oriented”. Sinergi ini dianggap sebagai jalan tengah terbaik bagi bank daerah yang ingin menjaga otonomi dan karakter lokal, namun tetap terkoneksi dalam ekosistem perbankan nasional.

Langkah berani Bank NTT menjalin KUB dengan Bank Jatim membuktikan bahwa transformasi bukan sekadar soal bertahan—tetapi soal memperluas horizon. Kini, Bank NTT tidak hanya tampil sebagai bank devisa yang siap go global, tetapi juga sebagai anggota aliansi BPD yang lebih kuat secara finansial, lebih siap secara digital, dan lebih kokoh dalam pelayanan publik.

Dalam era perbankan kolaboratif, sinergi lintas wilayah seperti inilah yang akan menenun kekuatan daerah—dari timur ke barat—menuju peta ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berdaulat.

Sinergi Pemerintah & Kepercayaan Publik

Sebagai bank milik daerah, keberadaan Bank NTT tak lepas dari peran para pemegang saham utama, yakni Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur. Dalam beberapa kesempatan, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menegaskan pentingnya menjaga profesionalisme dan integritas dalam pengelolaan bank.

“Kita ingin bank ini tidak menjadi alat politik, tetapi benar-benar dijalankan oleh orang-orang yang berkompeten dan profesional. Karena di sini ada uang rakyat, dan kepercayaan publik adalah segalanya,” tegas Gubernur Melki saat menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham, Mei 2025.

Bank NTT kini menerapkan proses rekrutmen direksi yang terbuka dan berbasis kompetensi, tanpa intervensi politik. Ini merupakan langkah penting menuju penguatan tata kelola dan pencapaian visi jangka panjang: menjadi bank daerah yang bersaing secara nasional dan terintegrasi secara digital.

Menatap Masa Depan: Dari Timur untuk Nusantara

Kini, di usia 63 tahun, Bank NTT bukan lagi bank kecil yang bermain di kolam sendiri. Ia kini pemain regional yang siap bersaing di pentas nasional. Dengan status devisa, kekuatan digital, dan jejaring sosial yang kuat, Bank NTT telah membuktikan bahwa membangun dari daerah bukanlah mimpi.

Dalam semangat tagline barunya—“Bertransaksi di Bank NTT = Membangun NTT”—bank ini menyerukan bahwa setiap rupiah yang disimpan, dipinjam, atau digunakan di Bank NTT, adalah kontribusi langsung untuk membangun kampung halaman. Karena di balik setiap transaksi, ada harapan. Dan di balik setiap harapan, Bank NTT hadir sebagai penggeraknya. ***

Tags: 63 Tahun Bank NTTBank NTT
 
 
 
 
Sebelumnya

106 Perusahaan Asuransi Raih Predikat Market Leaders 2025 Versi Media Asuransi

Selanjutnya

Luhut: Penurunan Tarif AS Jadi Peluang Strategis Bagi Ekonomi RI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Aset Konsolidasi Tembus Rp168,85 Triliun, KUB Bank Jatim Gerbang Aliansi Ekonomi Lintas Daerah

Aset Konsolidasi Tembus Rp168,85 Triliun, KUB Bank Jatim Gerbang Aliansi Ekonomi Lintas Daerah

oleh Sandy Romualdus
20 Mei 2026 - 19:46

Stabilitas.id — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM) atau Bank Jatim mencatatkan lompatan aset konsolidasi yang signifikan mencapai...

Kuartal I/2026: Aset BPD Tembus Rp1.036 Triliun di Tengah Evaluasi Ketat KUB oleh OJK

Kuartal I/2026: Aset BPD Tembus Rp1.036 Triliun di Tengah Evaluasi Ketat KUB oleh OJK

oleh Sandy Romualdus
20 Mei 2026 - 19:17

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan cetak biru manfaat strategis dari pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB) bagi penguatan jangkar...

Setoran PPN Melonjak 40%, Menkeu Purbaya Patahkan Isu Daya Beli Hancur

Kinerja Kuartal I/2026 Melesat: Laba Sebelum Pajak Krom Bank Meroket 99%

oleh Sandy Romualdus
20 Mei 2026 - 19:05

Stabilitas.id — Emiten bank digital milik Kredivo Group, PT Krom Bank Indonesia Tbk (IDX: BBSI), memutuskan untuk tidak membagikan dividen...

Genjot Inklusi Keuangan Pelajar, Bank Jakarta Kelola Dana Simpanan Rp1,81 Triliun

Genjot Inklusi Keuangan Pelajar, Bank Jakarta Kelola Dana Simpanan Rp1,81 Triliun

oleh Sandy Romualdus
19 Mei 2026 - 19:49

Stabilitas.id — Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) DKI Jakarta 2026 yang diorkestrasi oleh Bank Jakarta bersama Otoritas Jasa Keuangan...

Bank Mandiri Kukuhkan Peran di Ekonomi Kerakyatan, Realisasi KUR Tembus Rp14,54 Triliun hingga April 2026

Bank Mandiri Kukuhkan Peran di Ekonomi Kerakyatan, Realisasi KUR Tembus Rp14,54 Triliun hingga April 2026

oleh Sandy Romualdus
19 Mei 2026 - 16:34

Stabilitas.id - Bank Mandiri memperkuat komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat...

Survei BI: Kenaikan Harga Bahan Baku Bakal Dongkrak Inflasi Ritel Per Juni 2026

Kredit Mobil Listrik Melejit 70%, BI Siapkan Insentif GWM 1% untuk Bank Pelopor Hijau

oleh Stella Gracia
19 Mei 2026 - 10:58

Stabilitas.id — Otoritas moneter dan fiskal memperkuat fondasi arsitektur keuangan berkelanjutan (sustainable finance) tanah air demi memitigasi dampak risiko perubahan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Romy Wijayanto Resmi Terpilih Jadi Direktur Utama Bankaltimtara 2026-2030

    Romy Wijayanto Resmi Terpilih Jadi Direktur Utama Bankaltimtara 2026-2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPS Lippo Karawaci: Indra Yuwana Jabat Presiden Direktur, Bamsoet Masuk Jajaran Komisaris

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Manajemen Kinerja Kualitatif vs Kuantitatif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPST Bank Jateng Angkat Bambang Widiyatmoko Jadi Dirut, Adnas Jabat Komut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasar Properti On The Track, Penjualan Rumah Second Jadi Penopang Utama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Resmi Berlaku! PMK 23/2026: Aturan Baru Penagihan hingga Pelunasan Piutang Negara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Lampung Masuk 10 Besar Investor Terbanyak, OJK Ingatkan Rumus 2L Atasi Investasi Bodong

Aset Konsolidasi Tembus Rp168,85 Triliun, KUB Bank Jatim Gerbang Aliansi Ekonomi Lintas Daerah

Kuartal I/2026: Aset BPD Tembus Rp1.036 Triliun di Tengah Evaluasi Ketat KUB oleh OJK

Kinerja Kuartal I/2026 Melesat: Laba Sebelum Pajak Krom Bank Meroket 99%

Gempuran Geopolitik Global, Bank Indonesia Kerek Suku Bunga BI-Rate ke 5,25%

Tekan Kebocoran Finansial, KPR Takeover Jadi Solusi Hemat Cicilan Hingga 40%

Pasca-Lebaran: Penjualan Mobil Melonjak 55%, Optimisme Ekonomi Kuartal II Menguat

Tekan Emisi Konstruksi, SIG Gandeng BRIN Kembangkan Beton Pintar hingga Beton Maritim

Setoran PPN Melonjak 40%, Menkeu Purbaya Patahkan Isu Daya Beli Hancur

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Ekspor Tetap Tumbuh di Tengah Stabilisasi Harga

Luhut: Penurunan Tarif AS Jadi Peluang Strategis Bagi Ekonomi RI

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance