JAKARTA, Stabilitas — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan (BI-rate) pada level 7% atau turun 25 basis poin.
Penurunan ini berlanjut setelah pada RDG Januari 2016, suku bunga acuan dipangkas menjadi 7,25% setelah bertahan selama 11 bulan pada level 7,5%.
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan terjaganya stabilitas makroekonomi khususnya tekanan inflasi yang mereda sekaligus memperkuat upaya pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung.
“RDG memutuskan menurunkan BI rate menjadi 7%,” kata dia dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (18/2).
Institute for Development Economic and Finance (Indef) mengungkapkan sejumlah faktor pendorong BI memutuskan menurunkan BI rate. Menurut Ekonom Indef, Eko Listianto, keputusan dipengaruhi dua faktor, yakni kondisi internal dan eksternal.
Dia menjelaskan, dari internal atau domestik dikarenakan inflasi masih dalam target Bank Indonesia di kisaran 4 plus minus 1%. Kemudian, nilai tukar rupiah stabil dan cenderung menguat seiring adanya capital inflow.
“Selain itu, pertumbuhan ekonomi kuartalan juga dalam tren meningkat seiring dengan defisit transaksi berjalan masih terjaga di sekitar 2% dari PDB,” ujar Eko di secara terpisah.
Selanjutnya, kata dia, faktor eksternal, yakni adanya sinyal penundaan kenaikan FFR (suku bunga Fed) dari Gubernur Bank Sentral AS Jenet Yellen saat pidato di depan kongres AS, pekan lalu. “Lalu adanya recovery AS, UE, Jepang yang belum sesuai harapan dan jatuhnya harga minyak dunia,” jelasnya.
Menurut Eko, seharusnya penurunan suku bunga acuan segera diikuti penurunan bunga simpanan, lalu bunga kredit. Ini menjadi sinyal optimisme perekonomian dari sisi moneter.
Apalagi, lanjut dia, kalau segera diikuti penurunan bunga kredit perbankan dalam porsi yang cukup besar, setara dengan penurunan BI rate, maka target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% bisa tercapai.
“Sementara terkait inflasi Februari, kemungkinan akan rendah. Dari sisi historis cenderung rendah dan penurunan BI Rate juga menggambarkan bahwa outlook inflasi Bank Sentral dalam beberapa bulan ke depan relatif rendah,” tandasnya.

















