Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 16–17 Desember 2025. Sejalan dengan keputusan tersebut, suku bunga Deposit Facility tetap 3,75% dan Lending Facility tetap 5,50%.
Bank Indonesia menyatakan keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam sasaran, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dalam siaran pers resminya, BI menilai inflasi domestik tetap terkendali. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2025 tercatat sebesar 2,72% secara tahunan (year on year/yoy), dengan inflasi inti berada pada level 2,36% (yoy). Sementara itu, inflasi kelompok volatile food tercatat 5,48% (yoy), terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga bawang merah.
BERITA TERKAIT
Dari sisi eksternal, kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus. Pada Oktober 2025, neraca perdagangan membukukan surplus sebesar US$2,4 miliar. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2025 tercatat sebesar US$150,1 miliar, setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Bank Indonesia juga mencatat transmisi pelonggaran kebijakan moneter terus berlanjut. Sejak September 2024 hingga November 2025, BI-Rate telah turun 150 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Sejalan dengan itu, suku bunga pasar uang antarbank (INDONIA) turun 191 bps, dari 6,03% pada awal 2025 menjadi 4,12% per 16 Desember 2025.
Penurunan suku bunga juga tercermin pada imbal hasil instrumen moneter dan pasar obligasi. Suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 6, 9, dan 12 bulan tercatat turun masing-masing sekitar 226–228 bps. Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 2 tahun dan 10 tahun masing-masing turun sekitar 199 bps dan 110 bps.
Di sektor perbankan, kredit perbankan pada November 2025 tumbuh 7,74% (yoy). Kondisi permodalan perbankan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 26,38%, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) bruto tercatat 2,25% dan NPL neto 0,90%.
Dari sisi sistem pembayaran, BI mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,66 miliar transaksi, tumbuh 41,12% (yoy). Volume transaksi BI-FAST tercatat sebanyak 439 juta transaksi dengan nilai Rp1.092 triliun, sedangkan transaksi BI-RTGS mencapai 0,87 juta transaksi dengan nilai Rp20.463 triliun.
Ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, termasuk melalui stabilisasi nilai tukar rupiah, operasi moneter pro-market, serta penguatan digitalisasi sistem pembayaran guna menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.***

















