Transaksi UMKM tetap ekspansif di tengah suku bunga BI 5,75%. BRI catatkan aset Rp 2.352 triliun & laba Rp 31,2 triliun berkat perbaikan kualitas aset.
Stabilitas.id – Penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% pada kuartal II-2026 dipastikan tidak menyurutkan langkah ekspansi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tanah air. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat optimisme sektor usaha kerakyatan ini justru semakin menguat, yang tecermin dari kenaikan Indeks Bisnis UMKM dari level 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada kuartal I-2026.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan bahwa posisi indeks yang berada di atas ambang batas 100 menandakan bahwa pelaku UMKM secara umum masih berada dalam fase pertumbuhan aktif dan sangat optimistis memandang prospek usahanya. Hery menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers pemaparan kinerja keuangan perseroan yang digelar secara daring pada Senin (31/8/2026).
Menurut Hery, ketahanan dan optimisme yang ditunjukkan oleh pelaku UMKM berjalan selaras dengan kondisi fundamental industri perbankan nasional yang tetap solid. Hingga kuartal II-2026, penyaluran kredit industri perbankan nasional tumbuh 12,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), diiringi dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 10,2% yoy. Dari sisi kualitas aset, rasio Loan at Risk (LAR) industri membaik turun dari 8,9% pada kuartal I-2026 menjadi 8,5% pada kuartal II-2026. Likuiditas industri juga terjaga longgar dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 88,3% serta imbal hasil aset (Return on Asset/ROA) yang kokoh di level 2,5%. Secara keseluruhan, industri perbankan Indonesia dinilai tetap kuat, resilient, serta menunjukkan intermediasi yang kian ekspansif.
BERITA TERKAIT
Guna merespons gairah sektor UMKM tersebut, BRI berkomitmen untuk terus menjaga pertumbuhan bisnis mikro melalui eksekusi transformasi yang terukur. Namun, perseroan menegaskan tidak sekadar mengejar kuantitas penyerapan kredit, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut berjalan secara sehat dan berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, BRI membenahi proses bisnis di lini mikro serta memperkuat penerapan manajemen risiko secara lebih granular, sehingga ekspansi pembiayaan yang agresif selalu diiringi oleh perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan.
Strategi penajaman bisnis inti dan pendanaan ini langsung tercermin pada pencapaian kinerja keuangan BRI hingga semester I-2026. Total aset perseroan melesat 11,7% yoy menembus Rp 2.352 triliun, yang ditopang oleh penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar Rp 1.646 triliun atau tumbuh 16,2% yoy. Di sisi pasiva, penghimpunan DPK meningkat 6,7% yoy menjadi Rp 1.581 triliun.
Kombinasi ekspansi kredit dan efisiensi pendanaan sukses mengerek pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) BRI sebesar 9,9% yoy menjadi Rp 80,5 triliun. Laba operasional sebelum pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) turut naik 12,8% yoy menjadi Rp 65,7 triliun, yang pada akhirnya mendorong perolehan laba bersih BRI tumbuh 17,5% yoy menjadi Rp 31,2 triliun pada semester I-2026.
Peningkatan profitabilitas ini diimbangi oleh efisiensi struktur biaya. Peningkatan porsi dana murah berhasil menekan biaya dana (Cost of Fund/CoF) secara bank only dari 3,0% pada kuartal II-2025 menjadi 2,4% pada kuartal II-2026. Rasio efisiensi operasional (Cost to Income Ratio/CIR) membaik dari 41,9% menjadi 39,2%. Sementara dari pilar kualitas aset, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) berhasil diturunkan dari 3,0% menjadi 2,9%, dan biaya kredit (Cost of Credit/CoC) membaik dari 3,4% ke level 3,1%.
Melihat hasil tersebut, Hery menegaskan bahwa BRI tidak hanya mampu tumbuh lebih cepat, melainkan kualitas pertumbuhannya semakin sehat dari waktu ke waktu. Ke depan, BRI masih melihat ruang yang sangat luas untuk memperluas cakupan bisnis, terutama pada pembiayaan sektor produktif dan ekonomi kerakyatan. BRI meyakini bahwa komitmen mendukung program kerakyatan pemerintah dan upaya menjaga kualitas aset bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan harus berjalan beriringan demi pertumbuhan bisnis yang sustain dalam jangka panjang. ***

















