Stabilitas.id – Biaya dana (cost of fund) korporasi untuk penerbitan surat utang mulai merangkak naik dalam tiga bulan terakhir. Meski rata-rata kupon pada kuartal I/2026 masih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, tekanan dari kenaikan yield benchmark dan ketidakpastian geopolitik mulai mempersempit ruang penurunan bunga.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat rata-rata kupon obligasi tenor 3 tahun untuk peringkat AAA berada di level 5,5% pada kuartal I/2026, turun signifikan dari 6,8% pada kuartal I/2025. Namun, tren terkini menunjukkan yield mulai naik tipis, di mana obligasi AAA merangkak ke level 5,78% dari sebelumnya 5,75% di akhir tahun lalu.
Chief Economist Pefindo, Suhindarto, menjelaskan bahwa kenaikan ini didorong oleh dinamika pasar obligasi domestik yang mulai menyesuaikan diri dengan kenaikan yield benchmark. “Kupon relatif mulai mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan lalu,” ujarnya dalam konferensi pers, dikutip Jumat (17/4/2026).
BERITA TERKAIT
Analis Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, menilai selain dipicu kenaikan yield US Treasury dan pelemahan rupiah, ketidakpastian perang di Timur Tengah serta lonjakan harga energi turut membatasi ruang penurunan suku bunga.
Kondisi ini memicu pelebaran spread, terutama pada emiten dengan peringkat kredit rendah. Akibatnya, investor cenderung bersikap konservatif (risk-off). “Jika sebelumnya saat suku bunga turun investor memilih tenor panjang, kini dengan tren bunga yang cenderung naik, investor lebih berhitung dan memilih tenor pendek,” tambah Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana.
Sepanjang kuartal I/2026, Pefindo mencatat nilai penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp59,4 triliun, tumbuh 26,97% secara tahunan (yoy). Berbeda dengan tahun lalu yang didominasi untuk refinancing, penggunaan dana awal tahun ini justru lebih banyak dialokasikan untuk:
-
Modal Kerja: Rp30,91 triliun (naik hampir 60% dibanding kuartal I/2025).
-
Investasi: Melonjak drastis menjadi Rp15,60 triliun (dari Rp2,28 triliun di periode sebelumnya).
-
Refinancing: Melandai ke angka Rp12,85 triliun.
Melihat kondisi pasar yang fluktuatif, Chief Dealer Fixed Income & Derivatives BNI, Fudji Rahardjo, memprediksi emiten akan cenderung wait-and-see. Terjadi mismatch sementara antara ekspektasi yield emiten dan investor, sehingga aktivitas penerbitan diperkirakan akan lebih terkonsentrasi pada periode pasar yang stabil.
Meski demikian, Pefindo tetap optimistis target penerbitan obligasi korporasi 2026 mampu mencapai rentang Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun. Hal ini didorong oleh besarnya nilai surat utang yang akan jatuh tempo pada periode Mei-Desember 2026 yang mencapai Rp124,12 triliun. ***
















