• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Kolom

Catatan Fundamental Transformasi Digital

oleh Sandy Romualdus
19 April 2022 - 13:09
101
Dilihat
Catatan Fundamental Transformasi Digital
0
Bagikan
101
Dilihat

Oleh : Chandra Dwipayana

Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia
Indonesian Strategic Management Society (ISMS) – Finance and Banking Council Member

LEBIH kurang dalam lima tahun terakhir, inisiatif transformasi digital telah merombak tatanan industri yang ada, terlebih setelah pandemi Covid-19 melanda. Kebiasaan lama dengan sekejap tergantikan dengan kebiasaan baru yang serba online dan digital, memaksa pergeseran rasionalitas pasar. Dampaknya, banyak perusahaan yang berlomba-lomba mencanangkan transformasi digital, bahkan memicu maraknya aksi korporasi untuk memupuk permodalan, termasuk pula merger dan akuisisi dengan tema tersebut.

Semua itu, harus diakui sebagai buah dari kekuatan disrupsi fintech yang telah mendobrak paradigma tentang bagaimana bisnis perbankan harus dilakukan dan menciptakan lanskap kompetitif baru di sektor itu. Kondisi itu akhirnya memaksa sektor perbankan sebagai petahana melakukan manuver strategis karena dihadapkan “dilema” apakah akan berubah atau mempertahankan status quo. Apa yang dilakukan bank kemudian, pada gilirannya, menggeser logika industri dari dominasi lama ke dominasi baru.

Bertahan atau Menyerang?

BERITA TERKAIT

BNI Gelar Market Outlook 2026, Perkuat Ketahanan Pasar Modal di Tengah Tantangan Siber

SPRINT OJK Terintegrasi dengan SPEK KSEI, Perizinan Reksadana Makin Efisien

Maybank Indonesia Genjot Transformasi Digital, M2U ID App Masuki Fase Pengembangan Baru

Standar Akuntansi Diperbarui, BI–IAI Siapkan Ekosistem Keuangan yang Lebih Transparan

Ketika dihadapkan dengan dilema tersebut, bank sebagai petahana seakan dipaksa untuk memilih antara meningkatkan ketahanan lembaga dalam mengantisipasi ketidakpastian atau meningkatkan kelincahan untuk menangkap peluang. Faktanya, dalam dinamika berkompetisi, baik kemampuan bertahan maupun menyerang, keduanya memiliki peranan yang penting. Yang menjadi faktor pembeda adalah arah, intensitas dan waktu yang tepat dalam mengeksekusi strategi pada lanskap kompetitif baru sesuai dengan ketersediaan sumberdaya. Dalam hal ini, kemampuan adaptasi dinamis sangat penting untuk menghadapi perubahan lingkungan. Jika tidak, perubahan yang dilakukan justru akan menimbulkan kegagalan stratejik akibat ketidakjelasan dalam meracik sumberdaya.

Merujuk pada Ashby (1956), lingkungan internal organisasi harus mampu mengimbangi lingkungan eksternalnya. Untuk menanggapi perubahan, organisasi harus “melampaui logika dominan lama yang berlaku” agar selaras dengan logika industri yang ada (Bettis et al., 2011; Thorén dan Vendel, 2018). Tepatnya, organisasi membutuhkan logika dominan dinamis yang memiliki kemampuan untuk memindai dan mengidentifikasi perubahan lingkungan dengan rentang yang lebih luas (Bettis et al., 2011).

Perlu kita sadari bahwa saat ini perbankan perlahan kehilangan karpet merahnya seiring dengan peningkatan efisiensi pasar sebagai dampak pesatnya kemajuan teknologi. Teknologi yang sebelumnya ditempatkan sebagai komplementer, telah menjelma menjadi subsitusi dari produk dan layanan perbankan itu sendiri. Lantas, bagaimana bank harus menyikapinya?

Setidaknya ada tiga hal. Pertama, berdasarkan perspektif “upper echelon,” organisasi merupakan cerminan dari manajemen puncak berdasarkan strategi yang dipilih dan kinerja yang dicapai (Hambrick dan Mason, 1984; Schriber dan Löwstedt, 2018). Jadi, proses pemecahan masalah kompleks oleh manajemen puncak dapat membantu terbentuknya logika dominan dinamis untuk memecahkan masalah organisasi. Yang menjadi perhatian, hal ini merupakan keterampilan khusus yang tidak selalu dimiliki oleh bankir saat ini.

Kedua, kemampuan memecahkan masalah kompleks perlu juga didukung oleh kapasitas adaptif organisasi. Elemen ini sangat penting untuk dapat menciptakan mekanisme pertahanan pada keunggulan kompetitif yang telah dimiliki seraya memanfaatkan peluang dari perubahan lingkungan yang dihadapi.

Ketiga, dari sisi lain, langkah-langkah disrupsi fintech tentunya tidak menghilangkan logika industri perbankan yang sudah ada. Logika industri yang berlaku hanya mengalami pergeseran secara bertahap seiring hambatan dari perilaku kelembagaan yang ada dalam menanggapi perubahan struktur industri yang lebih kompetitif. Oleh karena itu, bank dapat menyeimbangkan logika industri lama dan baru melalui rangsangan sebagaimana disebutkan di atas.

Contohnya, digitalisasi bisnis oleh fintech sebagai penantang telah menambahkan logika industri baru tentang bagaimana bisnis bank dapat dijalankan. Tidak hanya dengan cara yang lebih sederhana, namun juga melalui pengelolaan risiko yang lebih terintegrasi dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Hal ini kemudian menggugah perbankan untuk melakukan inisiatif transformasi digital dengan mengadopsi di antaranya advanced analytical tools, artificial intelligence, dan machine learning untuk menciptakan bisnis yang lebih efisien dan tumbuh berkesinambungan.

Di sisi lain, fintech memiliki keterbatasan ruang gerak yang tidak hanya disebabkan oleh regulasi, namun juga tingkat praktik bisnis yang masih relatif baru. Sehingga, belum sepenuhnya dipahami dengan baik oleh masyarakat. Dengan demikian, ini adalah kesempatan bagi perbankan untuk dapat memanfaatkan momentum yang ada. Karena, inovasi yang diciptakan oleh fintech dan supper–apps telah mengubah paradigma bisnis perbankan, sementara penyesuaian regulasi hanyalah masalah waktu.

Terakhir yang perlu menjadi perhatian, pembelajaran organisasi tidak sama dengan tiru-meniru. Jadi, bagi para bankir, this is your wake-up call! Something must strategically be done beyond your prevailing action since mimicking without understanding can be nothing! Transformasi digital bukan sekedar tema pemasaran, namun inisiatif strategis untuk meningkatkan keunggulan daya saing.***

Tags: Chandra Dwipayanadisrupsi fintechtransformasi digital
 
 
 
 
Sebelumnya

Di Bawah Bayang Kenaikan Harga Komoditas

Selanjutnya

Saat Dokter Gigi Jadi Top Bankers

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

oleh Stella Gracia
12 Februari 2026 - 12:20

Stabilitas.id — PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar pelatihan Finance for Non Finance bagi 21 pekerja lintas unit kerja pada...

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

oleh Sandy Romualdus
8 Februari 2026 - 11:31

Stabilitas.id — Bank Syariah Nasional (BSN) menegaskan penguatan peran developer sebagai mitra utama dalam ekosistem pembiayaan perumahan syariah melalui penyelenggaraan...

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

oleh Stella Gracia
3 Februari 2026 - 09:48

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan langkah tindak lanjut konkret setelah menggelar pertemuan dengan tim Morgan Stanley Capital International...

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

OJK Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan TI, Perkuat Keamanan Digital BPR dan BPR Syariah

oleh Stella Gracia
9 Januari 2026 - 09:40

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan ketentuan baru terkait penyelenggaraan teknologi informasi (TI) bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR)...

Ingin Punya Rumah Pertama? Ini Tips Keuangan dan KPR untuk Pasutri

Ingin Punya Rumah Pertama? Ini Tips Keuangan dan KPR untuk Pasutri

oleh Stella Gracia
8 Januari 2026 - 14:07

Stabilitas.id — Memiliki rumah pertama masih menjadi salah satu impian sekaligus prioritas utama bagi pasangan suami istri (pasutri) baru. Namun,...

Transaksi Digital Tumbuh 44%, CIMB Niaga Gaspol Pengembangan OCTO

Transaksi Digital Tumbuh 44%, CIMB Niaga Gaspol Pengembangan OCTO

oleh Stella Gracia
11 November 2025 - 04:31

Stabilitas.id — PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) kembali memperkuat posisinya sebagai pemain utama di perbankan digital dengan meluncurkan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

Outlook Moody’s Negatif, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Jumbo Tetap Solid

Barter Tarif: 1.819 Produk Ekspor RI Jadi 0%, Gandum & Kedelai AS Bebas Bea Masuk

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Saat Dokter Gigi Jadi Top Bankers

Saat Dokter Gigi Jadi Top Bankers

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance