• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Kamis, Oktober 15, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

by Sandy Romualdus
5 Januari 2023 - 09:59
20
VIEWS
Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023
0
SHARES
20
VIEWS

Sesungguhnya pergantian waktu selalu ada pelajaran. Dari siang ke malam, dari bulan ke bulan lain, dari tahun ke tahun berikutnya. Setiap perpindahan waktu ada kegelisahan dan kekhawatiran. Tetapi perpindahan waktu juga menyediakan gairah dan antusias.

Begitu juga saat ini ketika seluruh penduduk dunia menantikan perpindahan waktu dari 2022 ke 2023. Bagi sektor keuangan, terutama perbankan, ketika tahun baru menjelang para pengambil  sudah menyiapkan panduan dalam menjalani  bisnis tahun depan.

  • Baca juga: EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Tiga tahun belakangan harus diakui menjadi tahun yang paling dinamis karena pandemi. Beragam tantangan silih berganti dalam rentang waktu yang berdekatan bahkan bersamaan. Sebut saja soal risiko perubahan teknologi, risiko regulasi, risiko perekonomian, dan juga risiko perubahan perilaku pasar.

Tahun 2023 yang akan dijalani, tidak kurang menyimpan risiko seperti tahun sebelumnya, meski pandemi mulai terkendali. Salah satu yang paling kentara dan sering disebut-sebut adalah risiko resesi. Sudah sejak paro kedua 2022, banyak riset dan perkiraan dari lembaga ekonomi global yang sudah memperkirakan bahwa tahun depan dunia akan kembali terjerembab dalam resesi, dimulai dari Eropa. Jika demikian, maka ini menjadi resesi jilid kedua setelah pada 2021 lalu ekonomi dunia mengalaminya.

BERITA TERKAIT

EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

Editorial : Evaluasi dan Ekspektasi

Editorial : Kripto, CBDC, dan Keambiguannya

Di samping itu, pelaku di sektor jasa keuangan juga harus terus waspada akan kemungkinan munculnya inovasi baru di bidang layanan keuangan yang bisa menjadi game changer baru persaingan bisnis. Sudah seharusnya, para risk managers harus selalu ‘pasang mata dan telinga’ memperhatikan perubahan yang terjadi.

Mitigasi terhadap gelombang perkembangan teknologi itu tidak boleh berkurang mengingat inovasi di teknologi digital belum akan melambat. Selain itu, bankir perlu memikirkan strategi kolaborasi dengan perusahaan keuangan berbasis teknologi agar bank bisa mempersingkat waktu penyesuaian bisnisnya dengan perkembangan baru.

Risiko lainnya yang tidak boleh dianggap remeh adalah soal meningkatnya concern global mengenai praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan. Meningkatnya pamor istilah ESG yang merupakan kepanjangan dari Environment, Social, and Governance menjadi bukti betapa isu perubahan iklim, kesetaraan gender, ketimpangan sosial dan juga kepatuhan menjadi makin mendapat tempat.

  • Baca juga: Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

Perkembangan lainnya dari praktik ramah lingkungan ini akan bermunculan kebijakan pendukung kendaraan listrik, infrastruktur yang sustainable dan lainnya. Jadi sudah sepantasnya setelah kalender baru terpasang atau duduk manis di meja, perbankan sudah memiliki kebijakan yang bisa meng-grab potensi dari kecenderungan itu sekaligus memitigasi risikonya. Siap-siap saja terhantam risiko reputasi jika pengambil keputusan di bank abai untuk menyesuikan bisnisnya dengan perhatian yang meningkat terhadap lingkungan ini.

Risiko Anyar

Selain risiko-risiko tersebut, ada beberapa ancaman lain yang perlu mendapat perhatian para pengambil keputusan. Menurut survei dari McKinsey, pada September 2022, ada satu risiko yang menjadi agenda utama dan perhatian para CEO terkemuka: risiko geopolitik. Selama tiga dekade terakhir, isitilah globalisasi berarti membuka spesialisasi dan skala, mengembangkan pasar, dan menciptakan perusahaan multinasional.

Tetapi praktik globalisasi saat ini berada di bawah tekanan. Tanda yang paling kentara adalah dengan munculnya berbagai gangguan yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina. Dunia tampaknya tertambat pada krisis, atau ancamannya. CEO perlu mengetahui apakah mereka masih bisa tetap menjadi pemain global dan, jika ya, bagaimana caranya.

Ke depan, tantangannya cenderung menjadi lebih akut. Menurut laporan tren Global 2040 Dewan Intelijen Nasional AS, dalam dua dekade mendatang, persaingan untuk pengaruh global kemungkinan akan mencapai tingkat tertinggi sejak Perang Dingin: “Tidak ada satu negara pun yang cenderung mendominasi semua wilayah atau domain, dan lebih luas berbagai aktor akan bersaing untuk memajukan ideologi, tujuan, dan kepentingan mereka.”

Kondisi tersebut akan mendorong persaingan dari beberapa negara berpengaruh untuk berebut perhatian di kawasan maupun di seluruh dunia. Risiko dari perkembangan itu adalah kemungkinan munculnya gesekan-gesekan di antara negara-negara tersebut. kecenderungan tersebut sudah mulai ketika China mulai menggoyang hegemoni AS di dunia. Saat ini muncul Rusia sebagai negara yang pengaruhnya makin meningkat.

  • Baca juga: Editorial : Evaluasi dan Ekspektasi

Belakangan, tanpa dinyana, juga mulai mencuat risiko baru yaitu risiko fragmentasi perekonomian dunia. Hal tersebut mengacu pada ancaman terhadap perekonomian terkait perbedaan kondisi dan posisi dari ekonomi suatu negara setelah terdampak pandemi Covid-19. Sebagaimana bisa dilihat bahwa pandemi memberi dampak berbeda kepada masing-masing negara, yang tidak bisa dilepaskan dari kebijakan dan juga ketahanan perekonomiannya.

Bisa dilihat saat ini ada negara yang recovery-nya cepat dan lambat, ada negara yang makin maju dan juga ada yang kian menderita. Artinya ada fragmentasi. Ada yang bagus, ada yang parah, dan ada yang modest. Risiko fragmentasi ini tidak bisa diabaikan karena dalam dunia yang terkoneksi satu sama lain dengang baik, implikasinya akan besar. ***

Tags: EditorialEditorial 191Risiko Baru 2023Risiko Laten
 
 
 
 
 
Previous Post

Stabilitas Edisi 191 : Titik Terpanas 2023

Next Post

Round Up : Meraba Titik Nyeri Terpanas 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Stabilitas Edisi 226 : Apa Setelah Patriot Bond?

Kredit Petani Rumput Laut Sumba Timur Cetak NPL 0 Persen: Bank NTT Raih Apresiasi dari ILO

Optimalkan Pemulihan Aset: Gelegar Lelang BNI 2026 Bukukan Penjualan Agunan Rp510,77 Miliar

Kenalkan Tokenisasi Aset Riil di Unair: OJK Minta Mahasiswa Cermati Prinsip 2L dan Hindari FOMO

Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

Dari Sanur ke Hamburg: Bakti BCA Antar Batik Gemah Sumilir dan Wastra Tenun Go Global

Dorong UMKM Naik Kelas, BNI Buka Lapak Kuliner Nusantara di Ajang Balap Dunia

Hadapi Ketidakpastian Bisnis: BCA Gelar Indonesia Knowledge Forum XV di The Kasablanka Hall

Transformasi Layanan Pelanggan Diakui ICCA: BRI Borong 10 Platinum di Ajang Contact Center 2026

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Round Up : Meraba Titik Nyeri Terpanas 2023

Round Up : Meraba Titik Nyeri Terpanas 2023

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance