• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Kamis, Agustus 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah

oleh Stella Gracia
3 Oktober 2022 - 12:47
31
Dilihat
Editorial : Perlindungan Data dan Kompetensi Pemerintah
0
Bagikan
31
Dilihat

Apa yang kita alami sekarang ini, ketika penjahat dunia maya seperti mengobrak-abrik sistem keamanan data, sejatinya sudah diperingatkan oleh banyak pihak sebelumnya. Pada 2017, misalnya, muncul kasus WannaCry yang menghebohkan dunia. Sebagai pengingat, WannaCry adalah serangan ransomware yang mengunci dokumen melalui pesan elektronik, dengan permintaan tebusan senilai 300 dollar AS. Indonesia termasuk salah satu negara yang terkena serangan itu.

Sejumlah media menyebut WannaCry sebagai salah satu serangan siber terbesar yang pernah terjadi di dunia. Berdasarkan laporan resmi, WannaCry telah melumpuhkan sistem jaringan sejumlah organisasi di Indonesia, seperti RS Harapan Kita, RS Dharmais, dan Universitas Jember.

  • Baca juga: Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

Meskipun ancaman ransomware tidak berkurang hingga saat ini, pembobolan data muncul dengan modus yang lebih serius. Di tengah kesadaran banyak pihak tentang pentingnya informasi yang tersimpan dari file-file komputer dan juga informasi sekunder mengenai kebiasaan seseorang, perebutan data tak terelakkan lagi. Bahkan startup-startup yang menjamur beberapa tahun lalu rela melakukan ‘bakar uang’demi mendapatkan data lebih banyak dan lebih luas.

BERITA TERKAIT

Editorial 191 : Risiko Laten dan Risiko Baru 2023

EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Editorial : Evaluasi dan Ekspektasi

Editorial : Kripto, CBDC, dan Keambiguannya

Perebutan data bahkan sudah naik level menjadi perang data ketika praktik pembobolan data makin marak karena pandemi membuat penggunaan transaksi online menjadi sangat massif. Data mengenai transaksi, kebiasaan, kebutuhan seseorang menjadi rebutan korporasi dan juga pihak-pihak yang ingin mengoptimalkannya demi kepentingannya sendiri.

Ironisnya di tengah perang memperebutkan data yang milik warga negara, posisi Indonesia ibarat pelanduk di tengah gajah-gajah yang sedang bertarung. Perlindungan data pribadi warga negara benar-benar rentan, bahkan banyak yang menyebutkan cenderung telanjang.

Mungkin sudah tidak terhitung lagi kerugian yang dialami oleh perekonomian, dari bocornya data yang kerap terjadi di Tanah Air. Hitungan kerugian data berasal dari akumulasi keuntungan yang diperoleh oleh para penjahat siber yang membobol data, ataupun manfaat monetize dari korporasi yang mengoptimalkan data curian itu.  Atau bisa jadi potensi pendapatan yang bisa dimonetisasi dari data yang dicuri tersebut.

Namun demikian geger kebocoran data sepertinya tidak sontak membuat pemerintah cepat bergerak.  Setidaknya memperbaiki atau meminta maaf atas keresahan yang disebabkan oleh rapuhnya keamanan data nasional. Yang terjadi adalah pengelakan dan pengalihan tanggung jawab. Bahkan yang paling mencengangkan adalah bocornya data 1,3 miliar pemilik kartu telepon selular. Sebagai informasi, data ini adalah informasi yang didapatkan provider telekomunikasi yang mewajibkan pemilik nomor untuk mendaftarkan data pribadinya  sebelum diperbolehkan memiliki kartu. Ketentuan ini diwajibkan beberapa tahun lalu.

  • Baca juga: EDITORIAL : Ancaman Setelah Ancaman

Parahnya lagi data yang bocor dan disanggah oleh pemerintah ini ketika ditelusuri tidak ada yang mengetahui tempat dan siapa lembaga yang menyimpannya. Ini tentu dagelan yang berbahaya. Ketika pada 2018 masyarakat
dipaksa untuk melakukan registrasi SIM card, kemudian data itu disimpan eh, yang meminta registrasi tidak tahu
dimana data itu disimpan.

Mulai operator, Kementerian Kominfo, Kementerian Dalam Negeri hingga Otoritas Sistem Kependudukan dan Catatan Sipil semuanya mengaku bukan pihak yang menyimpan data. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar. Waktu menyiapkan kebijakan tersebut, mendesain sistem registrasi tersebut sebenarnya sudah harus disiapkan siapa pihak yang bakal menyimpan data tersebut. Jika ternyata memang tidak ditentukan berarti benar adanya bahwa ada yang salah dengan sistem Tata Kelola Teknologi Informasi di Negeri ini.

Malahan ada kejadian yang lebih parah. Dalam sebuah grup pertemanan nomor telepon, dibagikan sebuah tangkapan layar gambar tumpukan nasi bungkus yang dibungkus dengan foto kopi kartu keluarga. Bayangkan betapa mudahnya data milik Negara dibobol baik secara online maupun offline.

Maka pada ujungnya kita tidak bisa lagi heran jika pada akhirnya marak penipuan, judi online, pinjaman online illegal, pengambilalihan rekening bank, pembobolan dana. Kita harus rela menjadi bulan-bulanan.

Sebelumnya nasabah sudah ‘mulai terbiasa’ menerima telepon dari lembaga keuangan yang menawarkan kartu  kredit, pinjaman tanpa agunan, asuransi dan bahkan pinjaman online. Meski kita merasa tidak pernah  mengajukan diri, bahkan tidak pernah memberikan nomor telepon kita ke lembaga-lembaga itu.

Setelah data diri penting warga negara bocor, nasabah mungkin harus sudah bersiap-siap menerima kenyataan
lebih pahit dari itu. Bisa jadi informasi diri kita dan keluarga kita sudah berada di tangan suatu korporasi atau pihak yang nantinya dengan mudah digunakan untuk kepentingan mereka, baik komersial bahkan bisa lebih jauh yaitu kepentingan politik.

  • Baca juga: Editorial : Evaluasi dan Ekspektasi

Maka tidaklah berlebihan (dan memang redaksi tidak berniat untuk kasar) jika dikatakan bahwa apa yang
didengung-dengungkan pemerintah bahwa mereka akan segera mengadopsi teknologi 4.0, menerapkan digitalisasi, hanya berakhir pada slogan.

Memang harus diakui tingkat literasi masyarakat masih rendah terhadap perlindungan data. Namun begitu
faktor yang lebih menentukan adalah bagaimana publik melihat pemerintah selalu gagap menghadapi kebocoran data. Kondisi itu mungkin saja bisa memunculkan penilaian kurang bagus dari warga negara mengenai kompetensi dari pemerintah dalam melindungi data pribadi.*

Tags: Editorial
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Stabilitas Edisi 189 : Rapuhnya Keamanan Data Warga Negara

Selanjutnya

Inflasi September 2022 Sebesar 1,17 Persen, Kerek Inflasi Tahunan hingga 5,95 Persen

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

oleh Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

oleh Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

oleh Sandy Romualdus
18 Juni 2026 - 10:09

Oleh : Dimyauddin, Peneliti LPPI Bayangkan ada seorang petani peserta asuransi syariah di Nusa Tenggara yang gagal panen karena kekeringan...

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

oleh Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:16

Oleh : Dr. Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Tanggal 18 Maret 2025 pasar...

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

oleh Stella Gracia
26 Juni 2024 - 15:05

Oleh Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik dan Ekonom UPN Veteran Jakarta Baru-baru ini, Indonesia dikejutkan oleh serangan siber besar-besaran...

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

oleh Sandy Romualdus
21 September 2023 - 16:34

Oleh Ahmed Zulfikar, Relationship Manager LPPI SAAT ini isu perubahan iklim telah menjadi topik hangat yang hampir selalu dibahas dalam...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Potret Bankir Millenial dan Gen Z

    Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital

Gelar Pameran Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo 2026 Sabet Rekor MURI

Permodalan Negatif dan Gagal Penyehatan, OJK Cabut Izin Usaha BPR Citra Bersada Abadi

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Jaga Stabilitas Rupiah dari Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75%

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Inflasi September 2022 Sebesar 1,17 Persen, Kerek Inflasi Tahunan hingga 5,95 Persen

Inflasi September 2022 Sebesar 1,17 Persen, Kerek Inflasi Tahunan hingga 5,95 Persen

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance