Stabilitas.id – Pasar modal Indonesia mencatatkan performa impresif sepanjang pekan kedua April 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak tajam meskipun dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang menembus level psikologis baru.
Berdasarkan data mingguan Manulife Investment Management yang berakhir 10 April 2026, IHSG ditutup menguat 6,14% ke level 7.458,50. Penguatan ini sejalan dengan indeks saham IDX80 yang juga terkerek naik 5,41%.
Sentimen Global: Gencatan Senjata vs Blokade
BERITA TERKAIT
Sentimen positif pasar pekan lalu dipicu oleh de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata sementara selama 14 hari. Kabar ini sempat membawa angin segar bagi pasar global dan regional, mengingat status negara-negara Asia sebagai importir minyak neto.
Namun, optimisme tersebut bersifat temporer. Pada Senin pagi (13/4), Presiden Trump menyatakan akan melakukan blokade terhadap Iran menyusul buntunya perundingan di akhir pekan.
“Harga minyak Brent sempat turun ke USD95 per barel pekan lalu, namun kembali melonjak ke level USD102 per barel pada Senin pagi akibat eskalasi terbaru ini,” tulis laporan Manulife Investment Management, dikutip Senin (13/4/2026).
Kinerja Sektoral dan Domestik
Di dalam negeri, seluruh sektor saham mendarat di zona hijau. Sektor Material (IDXBASIC) memimpin penguatan dengan kenaikan 12,44%, disusul oleh sektor Konsumen Non-primer (IDXCYC) sebesar 10,97%, dan Infrastruktur (IDXINFRA) 8,77%.
Meskipun pasar saham bergairah, instrumen mata uang justru mengalami tekanan. Rupiah tercatat melemah 0,58% terhadap Greenback ke level 17.098 per USD. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh intervensi Bank Indonesia (BI) untuk stabilisasi yang menyebabkan cadangan devisa tergerus ke level USD148,2 miliar—posisi terendah sejak Juli 2024.
Ruang Pemangkasan Suku Bunga Tertutup?
Gubernur Bank Indonesia mengisyaratkan bahwa ruang untuk pemangkasan BI Rate semakin tertutup. Hal ini dipicu oleh tingginya ketidakpastian konflik Timur Tengah dan berlanjutnya penguatan USD.
Di sisi fiskal, pemerintah melaporkan defisit APBN hingga akhir Maret 2026 telah melebar menjadi Rp240,1 triliun atau setara 0,93% dari PDB. Lonjakan belanja negara yang mencapai 31,4% YoY melampaui pertumbuhan penerimaan negara yang hanya sebesar 10,5% YoY.
Menteri Keuangan menekankan bahwa stabilitas harga BBM bersubsidi dapat dijaga apabila rata-rata harga minyak dunia tetap di bawah USD97 per barel tahun ini untuk menjaga defisit tetap di bawah ambang batas 3% dari PDB.
Data Ekonomi Mendatang
Investor kini menantikan sejumlah data penting yang akan dirilis pekan ini:
- Amerika Serikat (14 April): Rilis data PPI YoY yang diproyeksikan naik ke 4,6%.
- Amerika Serikat (14 April): Data neraca perdagangan dengan proyeksi defisit USD107,6 miliar.
- China (16 April): Rilis data PDB Kuartal I-2026 dengan proyeksi pertumbuhan di level 4,8%.
- China (16 April): Data penjualan ritel dengan proyeksi sebesar 2,4%. ***
















