Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK) Indonesia sepanjang 2025 tetap solid seiring terjaganya stabilitas perekonomian nasional dan sentimen positif pasar keuangan global.
Berdasarkan Siaran Pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, 9 Januari 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 8.646,94 per 31 Desember 2025, menguat 1,62% secara bulanan (mtm) dan melonjak 22,13% secara tahunan (yoy).
Sepanjang 2025, IHSG mencatatkan rekor all-time high (ATH) sebanyak 24 kali, dengan level tertinggi mencapai 8.710,70 pada 8 Desember 2025. Pada tanggal yang sama, kapitalisasi pasar saham juga mencetak rekor tertinggi sebesar Rp16.005 triliun.
Sementara itu, Indeks LQ45 dan IDX80 masing-masing tumbuh 2,41% yoy dan 10,07% yoy.
BERITA TERKAIT
Likuiditas Saham Menguat, Investor Ritel Kian Dominan
Likuiditas pasar saham domestik terus menguat, tercermin dari Rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham bulanan Desember 2025 yang mencapai Rp27,19 triliun, sekaligus menjadi rekor ATH. RNTH bulanan tercatat konsisten berada di atas Rp20 triliun sejak Agustus 2025.
Secara tahunan, RNTH 2025 tercatat Rp18,07 triliun, meningkat signifikan dibandingkan 2024 yang sebesar Rp12,85 triliun. OJK mencatat peningkatan likuiditas ini turut didorong oleh peran aktif investor ritel domestik, dengan proporsi transaksi ritel naik dari 38% pada 2024 menjadi 50% pada 2025.
Dari sisi investor asing, pada Desember 2025 tercatat net buy saham Rp12,24 triliun secara mtm, melanjutkan tren pembelian pada bulan sebelumnya. Namun, secara akumulasi sepanjang 2025, investor asing masih membukukan net sell Rp17,34 triliun.
Obligasi, Reksa Dana, hingga Investor Tumbuh Kuat
Di pasar obligasi, indeks komposit ICBI naik 1,08% mtm pada Desember 2025 dan terapresiasi 12,27% yoy. Yield SBN tercatat turun 4,84 bps secara bulanan dan 80,91 bps secara tahunan.
Investor nonresiden di pasar SBN membukukan net buy Rp6,49 triliun mtm, sementara di pasar obligasi korporasi mencatat net buy Rp0,21 triliun mtm.
Pada industri pengelolaan investasi, Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.033,81 triliun, tumbuh 3,08% mtm dan 23,46% yoy. Sementara Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana tercatat Rp675,32 triliun, meningkat 4,80% mtm dan 35,26% yoy, didukung net subscription Rp23,91 triliun mtm dan Rp138,69 triliun yoy.
Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Pada Desember 2025 terdapat 694 ribu investor baru, sehingga secara tahunan jumlah investor meningkat 5,49 juta menjadi 20,36 juta, atau tumbuh 36,95% yoy.
Fundraising Lampaui Target, Derivatif dan Bursa Karbon Bertumbuh
Dari sisi penghimpunan dana, target fundraising pasar modal 2025 sebesar Rp220 triliun berhasil terlampaui. Sepanjang 2025, nilai Penawaran Umum mencapai Rp274,80 triliun, termasuk kontribusi 20 emiten baru dengan total dana Rp16,21 triliun. Adapun pipeline mencatat 29 rencana Penawaran Umum dengan nilai indikatif Rp22,28 triliun.
Pada Securities Crowdfunding (SCF), hingga Desember 2025 tercatat 978 penerbitan Efek dari 585 penerbit dengan total dana dihimpun Rp1,82 triliun, melibatkan 191.981 pemodal.
Di pasar derivatif keuangan, total volume transaksi sepanjang 2025 mencapai 1.013.294 lot dengan frekuensi 4.433.781 transaksi. Sementara di Bursa Karbon, sejak diluncurkan hingga 30 Desember 2025, total volume transaksi mencapai 1,81 juta tCO₂e dengan nilai akumulasi Rp87 miliar.
Penegakan Hukum Tetap Ketat
Dalam aspek pengawasan, OJK mengenakan sanksi administratif denda Rp52,81 miliar kepada 52 pihak pada Desember 2025. Sepanjang 2025, total denda di bidang pasar modal mencapai Rp80,75 miliar, disertai pencabutan izin perseorangan, peringatan tertulis, serta perintah tertulis.
Selain itu, OJK juga menjatuhkan denda keterlambatan Rp50,38 miliar kepada 638 pelaku usaha jasa keuangan di pasar modal, serta sanksi administratif lainnya. ***





.jpg)










