• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Senin, Juni 8, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Laporan Utama

Jalan Terjal ‘BPJS Kesehatan’ di AS

oleh Sandy Romualdus
20 Maret 2014 - 00:00
108
Dilihat
Jalan Terjal ‘BPJS Kesehatan’ di AS
0
Bagikan
108
Dilihat

BERITA TERKAIT

Langkah Raymond/Joaquin di Final BWF Super 1000 Perkuat Optimisme Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia

BNI Raih Predikat Best Companies to Work for in Asia untuk Ketiga Kalinya

BNI-PBSI Cetak Generasi Baru Juara, Raymond/Joaquin Melaju ke Final Indonesia Open 2026

Pasar Global Tembus US$6,8 Triliun, BRI (BBRI) Pacu Kredit UMKM Sektor Wellness

Pagi hari, di Anderson Free Clinic, South Carolina, Amerika Serikat, akhir tahun lalu. Musim dingin yang lembab di wilayah itu, tak menyurutkan langka orang-orang berbaris untuk bertemu dokter di klinik yang bisa merawat lebih dari 2000 orang setiap tahun.
Sebagian besar pasien, seperti Ronnie Green (60) yang hanya berharap pada uang pensiun yang kecil karena ia sudah tidak bisa bekerja lagi, benar-benar menggantungkan hidupnya pada klinik tersebut.
“Syaraf saya benar-benar terganggu, saya menangis setiap kali memikirkannya. Saya gemetar dan tidak bisa memegang apapun. Syaraf saya benar-benar sudah hilang,” keluh Green seperti dikutip dari VoA Indonesia.
Amerika Serikat telah memulai program jaminan kesehatan untuk rakyat miskin dengan meluncurkan Patient Protection and Affordable Care Act. Program yang belakangan disebut Obamacare oleh para pengeritik, mewajibkan setiap warga AS memiliki asuransi kesehatan mulai 1 Januari 2014 atau kena denda saat membayar pajak tahunan dengan IRS di tahun 2015.
Sebelum program tersebut dijalankan, AS memiliki program jaminan kesehatan yang disebut Medicaid dan juga Medicare, yang merupakan hasil kerjasama pemerintah federal dan negara bagian untuk orang miskin. Medicaid adalah jaminan kesehatan khusus warga AS yang tidak mampu sedangkan Medicare adalah asuransi kesehatan yang disediakan untuk penduduk AS yang berusia 65 tahun ke atas.
Kedua program tersebut merupakan warisan Presiden Lyndon Johnson pada 1965, dan sejak itu tidak pernah ada program reformasi kesehatan yang baru. Presiden Clinton pernah mencoba pada 1993, tapi gagal karena politik partisan.
Buat Amerika Serikat, reformasi kesehatan memang mendesak. Amerika Serikat adalah satu-satunya negara maju yang tidak memiliki akses universal atas jaminan kesehatan. Harga yang mahal dan tidak adanya mekanisme yang mewajibkan individu untuk punya asuransi jadi sebab utama. Selain akses, layanan kesehatan di sana juga yang termahal di seluruh dunia. Ironisnya, indikator kesehatan negeri itu termasuk yang terburuk untuk standar negara maju.
Maka dari itu, hadirnya Obamacare merupakan langkah pemerintah AS untuk mereformasi sistem jaminan kesehatan rakyatnya. Dalam program tersebut, pemerintah mewajibkan setiap warga negara memiliki asuransi kesehatan yang disediakan swasta dan disubsidi pemerintah. Bagi warga yang menolak membeli asuransi, akan diberi sanksi denda.
Lebih jauh, Obamacare melarang perusahaan asuransi kesehatan untuk menolak membayar klaim berdasarkan pre-existing condition (kondisi pernah sakit berat sebelumnya). Selain itu, program tersebut juga memperluas fungsi Medicaid, mensubsidi premi asuransi, menyediakan insentif untuk para pengusaha untuk menyediakan health care benefit, membangun Health Insurance Exchanges, dan mendukung penelitian dalam bidang kesehatan.
Health Insurance Exchange adalah suatu pasar asuransi yang diorganisir oleh pemerintah AS (perwakilan badan lainnya) dan juga tempat masyarakat biasa membeli asuransi kesehatan.
Program Obamacare juga tidak gratis, seluruhnya berasal dari penarikan pajak, seperti dari pajak indoor tanning dari alat medical tertentu, dan dari penghematan biaya dari program tradisional Medicare. Selain itu, biaya ini juga akan didapat dari denda warga yang tidak mau bergabung dalam program Obamacare.
Menolak Obamacare
Meski sudah berjalan, orang-orang miskin AS masih memilih klinik-klinik yang memberikan layanan kesehatan gratis berdasarkan program Medicaid karena dianggap lebih menguntungkan dan lebih luas cakupannya.
Di AS, dalam program kesehatan sebelumnya, rumah sakit-rumah sakit yang menerima dana federal, secara hukum juga diwajibkan untuk memberi layanan darurat (UGD) tanpa memandang kemampuan seseorang membayar biaya rumah sakit.
Akan tetapi, Obamacare akan menghentikan program federal tersebut. Inilah yang membuat penduduk di South Carolina, salah satu negara bagian AS yang mayoritas penduduknya pendukung Partai Republik ini menolak Obamacare.
Bill Manson, Kepala salah satu rumah sakit (RS) di South Carolina, mengatakan, keputusan South Carolina untuk tidak memperluas Medicaid membuat RS-nya terkena potongan subsidi federal dan tidak memperooleh manfaat apa-apa dari Obamacare.
“Dengan tidak berpartisipasi dalam perluasan itu, kami akan mengalami segala macam pengurangan tanpa ada kenaikan memadai dari warga yang terasuransikan. Jumlah warga miskin tanpa layanan kesehatan akan bertambah dan rumah sakit akan semakin menghadapi risiko kesulitan keuangan,” papar Manson.
Selain itu, program Obamacare juga memiliki kekurangan lain yaitu kenaikan ongkos layanan kesehatan bagi pemerintah federal di awal implementasinya. Ini karena banyak warga Amerika akan memperoleh perawatan pencegahan penyakit untuk pertama kali dalam hidupnya. Menurut Study on Preventive Health Care, hal ini bisa mengarah pada perawatan penyakit yang sebelumnya tidak ketahuan dan dapat menaikkan biaya Obamacare pada permulaan. Tak heran, inilah yang membuat beberapa negara bagian, seperti South Carolina, menolak berpartisipasi pada program Obamacare.

Respons Positif

Akan tetapi, kebanyakan masyarakat AS merespon positif kebijakan reformasi kesehatan pemerintah Obama itu.. Sebagaimana dikutip dari BBC, jelang peluncuran program tersebut waktu itu, warga berduyun-duyun untuk mendaftar di berbagai gerai penjualan.
Bahkan, situs Obamacare (situs Healthcare.gov) sempat bermasalah akibat banyaknya pengakses untuk membuat akun polis. Sebagian pengguna mengeluh karena harus menunggu terlalu lama, sementara pengguna lainnya mengalami kendala ditolaknya kata kunci. Ada juga pengguna yang bilang, mereka diberi harga berbeda untuk asuransi kesehatan yang sama.
Akibat kejadian ini, Menteri Urusan Kesehatan dan Kemanusiaan AS, Kathleen Sebelius meminta maaf kepada rakyat Amerika. Di hadapan Rapat Dengar Pendapat di parlemen, Sebelius mengatakan, ia bertanggung jawab atas kegagalan itu. Dia juga mengatakan, departemennya telah menempatkan manajemen baru untuk memperbaiki situs dan telah memperbaiki performanya, sehingga memungkinkan warga AS bisa membeli paket asuransi dengan lebih cepat dan dengan kekeliruan yang lebih sedikit.
Kekisruhan di web program andalan Presiden Obama itu langsung dimanfaatkan oposan dari Partai Republik, yang sempat menyebabkan terjadinya krisis anggaran yang berujung pada shutdown Pemerintah AS tahun lalu. Para senator Partai Republik yang menentang program tersebut mencibir dengan menyatakan, masalah komputer itu menggambarkan bahwa undang-undang asuransi kesehatan itu belum siap dilaksanakan.
Namun, perseteruan selama hampir empat tahun di kancah perpolitikan AS berakhir setelah Undang-Undang Kesehatan Terjangkau (Affordable Care Act) resmi berlaku mulai 1 Januari 2014.
Salah satu hal penting dari Obamacare adalah menentukan jenis-jenis perawatan yang harus ditanggung oleh asuransi. Semua perusahaan asuransi sekarang harus menanggung biaya rawat inap, temasuk biaya-biaya yang keluar di unit gawat darurat. Adapun untuk layanan pencegahan, seperti pemeriksaan dini terhadap penyakit diabetis atau kanker, vaksin, atau kontrasepsi, biayanya akan diganti penuh.Warga termiskin atau yang berusia di atas 65 tahun, layanan kesehatannya dijamin melalui program jaminan sosial.
“Undang-undang ini (Obamacare) adalah sebuah perubahan besar bagi sistem layananan kesehatan kita,” ujar Kathleen Sebelius.
Bagi sekitar 150 juta warga AS yang mendapat asuransi via perusahaan asuransi tempatnya bekerja, nyaris tidak ada perubahan dalam Obamacare. Namun, bagi sekitar 25 juta yang memiliki asuransi sendiri via perusahaan asuransi swasta tanpa manfaat group rate, berhak mendapatkan manfaat.
Sampai medio Februari 2014 lalu, lebih dari 3,3 juta warga AS tercatat telah mendaftar program asuransi baru ini. Laporan pemerintah menyebutkan, ada kenaikan tipis jumlah penduduk muda yang mendaftar layanan kesehatan tersebut. Hal ini menjadi sebuah faktor penting karena pemuda yang sehat dibuthkan untuk mendanai jaminan untuk pasien sakit yang lebih tua.
“Ini berita yang sangat menggembirakan, kami sedang melihat pertumbuhan yang sehat dalam jumlah pendaftar,” tutur Sebelius.
Sementara itu, salah seorang warga Indonesia yang bermukim di AS, Indah Nuritasari mengaku masyarakat Indonesia seperti mayoritas masyarakat AS lainnya masih menunggu dan melihat perkembangan Obamacare. Soalnya, kalau pakai perhitungan sederhana, satu orang dewasa mesti membayar sekitar 300 dollar AS per bulan, jika tidak masuk kategori layak mendapat subsisi.
“Padahal, kalau tidak ikut, kan cuma bayar denda 95 dollar AS. Tapi deadline kan masih April, jadi masih ada waktu untuk kami mikir. Idenya (Obamacare) sih bagus sekali, agar semua orang bisa mendapatkan layanan asuransi kesehatan. Tapi harga polisnya masih kemahalan untuk masyarakat umum,” papar Indah kepada Stabilitas.

 
 
 
 
 
Sebelumnya

CIMB NIAGA Indonesian Masters Tingkatkan Bantuan Rumah

Selanjutnya

Jalan Terjal ‘BPJS Kesehatan’ di AS

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Apresiasi Nasabah Milenial, BNI Syariah Gelar Customer Online Gathering

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

oleh Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

oleh Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

oleh Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

oleh Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

KUR BRI Tingkatkan Omzet, Pengusaha Genteng di Majalengka Banjir Pesanan

KUR BRI Tingkatkan Omzet, Pengusaha Genteng di Majalengka Banjir Pesanan

oleh Stella Gracia
9 Maret 2026 - 18:35

Stabilitas.id – Program gentengisasi yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto membawa angin segar bagi para pelaku usaha kecil di sektor...

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

oleh Stella Gracia
12 Februari 2026 - 12:20

Stabilitas.id — PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar pelatihan Finance for Non Finance bagi 21 pekerja lintas unit kerja pada...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Manjakan Investor Ritel, BBCA Berencana Bagikan Dividen Interim Setiap Kuartal

    Tekanan Rebalancing MSCI Mereda, Saham BCA (BBCA) Siap Rebound ke Level Rp6.000

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Danamon-Manulife Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPS Lippo Karawaci: Indra Yuwana Jabat Presiden Direktur, Bamsoet Masuk Jajaran Komisaris

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Plus Minus Perdagangan Karbon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Freeport Indonesia Setor Rp4,8 Triliun ke Pemda Papua, Total Kontribusi Negara Tembus Rp75 T

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Langkah Raymond/Joaquin di Final BWF Super 1000 Perkuat Optimisme Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia

BNI Raih Predikat Best Companies to Work for in Asia untuk Ketiga Kalinya

BNI-PBSI Cetak Generasi Baru Juara, Raymond/Joaquin Melaju ke Final Indonesia Open 2026

Pasar Global Tembus US$6,8 Triliun, BRI (BBRI) Pacu Kredit UMKM Sektor Wellness

Buntut Aduan Konsumen, OJK Instruksikan Solusiku Setop Sementara Penagihan Bermasalah

Rapor Sektor Keuangan Mei 2026: Pasar Saham Konsolidasi, Intermediasi Perbankan Tetap Solid

Rumah Impian Anti Ribet, BTN Gandeng Pinhome Hadirkan KPR Digital

Direktur Utama BRI Sebut Adopsi Kecerdasan Buatan Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah

Kasus Investasi Bodong Mantan Pegawai Bank, OJK Buka Posko Pengaduan di Purwokerto

STABILITAS CHANNEL

 
Selanjutnya
Jalan Terjal ‘BPJS Kesehatan’ di AS

Jalan Terjal 'BPJS Kesehatan' di AS

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance