BERITA TERKAIT
Setiap orang pasti punya citacita. Tetapi rumusannya tentu bisa berlainan antara satu orang dengan orang lainnya. Bagi Friderica Widyasari Dewi, cita-cita itu ibarat kue lapis, warna-warni. Setiap lapisan “kue lapis” itu merekam jejak perjalanannya yang digenangi keringat kerja keras dan harapan sederhana menjadi manusia seutuhnya.
Kini, kiki, begitu dia biasa disapa, sudah menjejak karier yang bagi sebagian orang masih menjadi cita-cita. Menjadi salah satu direktur pada otoritas bursa jelas bukan posisi sembarangan yang bisa dicapai banyak orang, bahkan bagi mereka yang memang berniat berkarier di pasar modal. Namun begitu, jabatan tersebut tampaknya bukan merupakan ujung karier dari mantan model ini. Posisinya sekarang justru mengingatkan dia pada cerita masa kecilnya di Yogyakarta.
“Di tempat tinggal saya di Jakarta, saya sering membayangkan rumah saya yang tenang dan teduh di Yogya. Salah satu yang mengesankan adalah kue lapis yang selalu disediakan ibu setiap pulang dari pasar. Ketika masih kanak-kanak, kue lapis itu seperti benda ajaib yang sulit saya bayangkan bagaimana cara membuatnya. Kini ‘kue lapis’ itu hadir kembali pada pita ingatan saya. Kue lapis bernama cita-cita itu sudah terkelupas satu-persatu, hingga sampai pada lapisan saat ini,” cerita Kiki, yang kini menjadi Direktur Pengembangan Bisnis Bursa Efek Indonesia (BEI).
Cita-cita bagi Kiki juga seperti bunga seruni, yang terus hidup dan tumbuh. Ketika dirinya bercita-cita menjadi model, jalan pun terbuka. Sejak SMA Kiki sudah malang melintang “bergaya” di depan kamera, berlenggang-lenggok di atas catwalk. Dari situ Kiki memasuki jagad kontestasi model. Semasa menempuh S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Kiki pernah didaulat menjadi Diajeng Yogyakarta (1994) dan Putri Ayu Yogyakarta (1995). Dunia entertainment pun dia masuki, sebagai model, presenter dan pemain sinetron serta bintang iklan. “Saya mencoba memahami dunia entertainment tidak semata-mata sebagai rich and famous, kaya dan terkenal.
Itu tidak buruk sepanjang dijalankan dengan sikap tanggung jawab dan bernilai. Namun lebih penting dari itu adalah mencoba belajar banyak tentang realitas kehidupan, bahkan yang paling keras sekali pun. Saya mencoba belajar tentang etos kerja, etos kreatif dan profesionalisme,” ujar perempuan ayu kelahiran Cepu, 28 November 1975 ini.
Namun dalam perjalanan, Kiki merasa aktualisasi sebagai selebritas tidak sesuai dengan hatinya dan keinginan ibunya. Akhirnya dia memutuskan secepatnya menyelesaikan kuliahnya di UGM dan kemudian segera meneruskan pendidikan S2 di bidang ekonomi. Tahun 2002, anak pasangan Soegih Hidayat dan Caecilia Hanggarini ini lalu terbang ke Amerika Serikat, meninggalkan ketenaran yang dipunyainya saat itu. Kiki pun tenggelam dalam kesibukan akademis, mempelajari dunia bisnis dan keuangan di California State University di Fresno. Dua tahun kemudian dia lulus dengan nilai sangat baik.
Profesional di Pasar Modal
Kembali ke Indonesia, Kiki banyak mendapat tawaran mengajar di beberapa perguruan tinggi ternama. Maklum, ketika menimba ilmu di AS, dia didapuk menjadi asisten dosen mata kuliah keuangan. Ia juga banyak mendapat pinangan dari beberapa perusahaan besar, tentu dengan tawaran gaji besar dan fasilitas menggiurkan.
Kiki menolak semua tawaran itu. Ia ingin bekerja dari level bawah, dari level yang paling rendah terlebih dahulu, membangun kariernya secara bertahap. Ia lantas bergabung dengan Bursa Efek Jakarta (kini BEI).
Lalu mengapa ia tertarik memasuki dunia profesionalisme semacam BEI? Menurut dia ada banyak alasan, salah satunya karena bidang yang ditekuninya adalah ilmu ekonomi, bisnis, keuangan dan pasar modal. Alasan lain,adalah karena ingin bekerja di lembaga yang keberadaannya signifikan dengan jenjang karier yang jelas. “Alasan lainnya, membahagiakan orang tua dan keluarga yang menginginkan saya menjadi ‘priyayi’, meskipun saya sama sekali tidak pernah berpikir soal predikat itu. Karena bagi saya, setiap pekerjaan yang baik dan bernilai selalu mulia. Konotasi ‘kepriyayian’ yang melekat dalam pekerjaan, hanyalah kategori sosial yang boleh dilupakan,” ungkap Kiki.
Kiki memulai karier perdananya di BEI sebagai kepala unit. Setahun kemudian, ia menjabat sebagai Head of Corporate Communication. Dua tahun di posisi tersebut, karier Kiki menanjak menjadi Corporate Secretary (2007-2009). Bermodal prestasi dan kepercayaan pemegang saham, Kiki yang pada 2005 didapuk menjadi karyawan terbaik, dipromosikan menjadi salah satu direksi BEI pada 2009. Penunjukan direksi BEI berbeda dengan organisasi lainnya. Calon direksi BEI harus mengkampanyekan program dan visi-misinya kepada pemegang saham.
Singkat cerita, setelah berkampanye dan menjalani fit and proper test di Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK, kini melebur di OJK), Kiki akhirnya lulus dan ditunjuk sebagai Direktur Pengembangan Bisnis BEI.
Bungsu dari enam saudara ini mengaku sempat tak percaya diri. Maklum, Kiki tercatat menjadi direksi termuda di BEI dan faktor gender yang sempat diragukan banyak orang. Karena yakin mampu mengemudikan roda organisasi, ibu satu anak dan suami dari Kombes Pol. Eddy Hartono ini berani tampil. Baginya, untuk menduduki posisi itu bukan dilihat dari kematangan umur, apalagi jenis kelamin karena dia percaya semuanya based on competence. “Kita harus bisa mengukur diri, kalau kita sanggup dan yakin, kenapa tidak?” ucapnya.
Seorang sahabat karibnya pernah mengatakan kepada Kiki bahwa hidupnya merupakan “revolusi” radikal dari dunia mitos (baca: jagad entertainment) ke jagad rasional (dunia birokrasi ekonomi).
“Dunia entertainment, kata sahabat saya, adalah jagad yang dibalut mitos-mitos tentang popularitas, kehidupan serba gemerlap, penuh buncah-buncah impian. Sedangkan dunia birokrasi keuangan dan ekonomi semacam BEI adalah dunia realitas yang dibangun oleh kepastian, dunia yang menuntut rasionalitas karena semuanya serba terukur dan ternilai,” tandasnya.
Dan kini Kiki sedang menikmati lapisan dari kue ajaib yang disukainya di masa kecilnya.

















