• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Kecerdasan Finansial

by Sandy Romualdus
4 Februari 2014 - 00:00
314
VIEWS
BNI – Mandiri Kucurkan KMD Pelindo II Rp1 Triliun
0
SHARES
314
VIEWS

Ada banyak ragam kecerdasan. Secara tradisional kecerdasan sering diidentikkan dengan Intellectual Quotient (IQ) atau kecerdasan intelejensia. Semakin tinggi IQ seseorang maka makin cerdas orang tersebut. Tingkat IQ normal ada dikisaran 90 – 109. Di bawah angka itu berarti kurang cerdas dan jika di atas itu dinilai sangat cerdas. Sedangkan IQ untuk orang jenius adalah 130 ke atas.

Secara teoritis seharusnya orang yang memiliki IQ tinggi akan lebih sukses daripada mereka yang hanya dikarunia IQ rata-rata. Namun dalam praktiknya ternyata tidak selalu demikian. Justru ada banyak mereka yang dikategorikan jenius ternyata tidak mampu meraih kesuksesan. Sebaliknya, mereka yang ber-IQ sedang-sedang saja malah mampu menggapai tangga-tangga kesuksesan.

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Fenomena ‘kegagalan’ IQ ini membuat para ahli mencari bentuk kecerdasan yang memang benar-benar bertanggung jawab terhadap tingkat kesuksesan manusia. Pada tahun 1990, Peter Salovey, seorang ilmuwan dari Universitas Harvard, AS, yang kemudian berhasil menemukan bentuk kecerdasan ‘baru’ itu. Salovey menamainya sebagai Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional. Salovey mendefinisikan EQ sebagai “kemampuan untuk memahami perasaan sendiri, untuk berempati terhadap perasaan orang lain, dan untuk mengatur emosi, yang secara bersama berperan dalam meningkatkan taraf hidup seseorang.”

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Salovey berkeyakinan, EQ adalah kecerdasan yang paling dibutuhkan manusia untuk sukses. Dengan kata lain, semakin tinggi EQ seseorang maka peluang untuk menggapai tangga-tangga kesuksesan kian terbentang lebar. Namun tidak seperti IQ yang bersifat tetap, artinya mereka yang ber-IQ 100 tidak akan mungkin IQ-nya naik menjadi 130, EQ bisa berubah alias ditingkatkan.

Pasca diperkenalkan EQ, beragam bentuk kecerdasan ‘baru’ yang bersifat variabel atau bisa di-upgrade pun kian marak diperkenalkan. Salah satunya adalah kecerdasan finansial. Perdefinisi kecerdasan finansial dapat diartikan sebagai kecerdasan terkait pengetahuan, pemahaman, dan penggunaan lembaga maupun produk keuangan. Dengan kata lain, semakin tinggi pengetahuan, pemahaman, dan penggunaan kita terhadap lembaga dan produk keuangan maka dapat dikatakan peluang kita untuk meraih kesuksesan di bidang keuangan akan kian tinggi juga.

Kesuksesan di bidang keuangan hanya mungkin kita dapatkan jika memiliki tingkat kecerdasan finansial yang baik. Paling tidak ada empat tingkat kecerdasan finansial yang wajib kita asah agar cita-cita keuangan kita tersebut bisa terwujud, yaitu kecerdasan dalam rangka bagaimana mendapatkan uang, kecerdasan dalam hal bagaimana menjaga uang, dan selanjutnya melipatgandakan uang tersebut, serta yang terakhir bagaimana memaknai uang.

Mendapatkan Uang

Tujuan keuangan hanya mungkin kita capai bila kita memiliki uang. Untuk memperoleh uang, ada banyak caranya. Tetapi secara umum, ada tiga cara untuk memperoleh uang, yaitu: bekerja, berbisnis, dan berinvestasi. Tentu saja ada cara yang lain, misalnya menang undian, main judi, atau menerima warisan. Namun, terkait mengasah kecerdasan finansial, ketiga cara di atas yang lebih tepat untuk dilakukan.

Bekerja, berarti kita menjual tenaga dan pikiran kita kepada pemberi kerja. Sebagai imbalannya, pemberi kerja akan membayar kita dengan sejumlah uang. Dengan mekanisme inilah kita mendapatkan uang. Sementara dalam berbisnis, kita mendapat uang dengan cara menjual produk atau jasa yang kita buat atau miliki kepada konsumen. Dari hasil penjualan tersebut maka kita akan mendapat uang.

Adapun berinvestasi adalah kita menggunakan uang untuk mendapatkan uang. Caranya, antara lain, mendepositokan uang di bank, membeli produk investasi (saham, obligasi, reksadana dan sebagainya), atau menanamkan uang di sektor riil (tanah, properti, dan sebagainya).

Dengan mendepositokan uang di bank maka kita akan memperoleh pendapatan berupa bunga deposito. Dengan membeli produk investasi berupa saham dan obligasi maka kita memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan dari dividen saham dan bunga obligasi. Sementara dengan berinvestasi di tanah dan properti maka kita bisa menerima uang dari kenaikan harga tanah dan properti yang kita jual.

  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

Menjaga Uang

Mengetahui bagaimana cara mendapatkan uang memang penting. Namun tidak cukup. Kita mungkin pernah mendengar banyak cerita, bagaimana seorang yang dulu sangat kaya raya, tiba-tiba jatuh miskin. Misalnya Mike Tyson. Di era tahun 1990-an, mantan juara dunia tinju kelas berat di tiga kelas berbeda ini pernah dinobatkan sebagai olah ragawan terkaya sejagat. Sayangnya, pasca gantung sarung tinju, Tyson tidak mampu menjaga kekayaannya. Gaya hidup foya-foya ‘Si Leher Beton’ lambat laun mengikis keuangannya. Perlahan-lahan hartanya habis , utang-utangnya menumpuk, dan Mike pun bangkrut.

Mike hanya satu dari contoh bahwa mengelola (menjaga) uang tidak kalah penting dari mendapatkan uang. Seberapa pun banyaknya uang yang kita dapatkan, jika tidak diimbangi dengan cara pengelolaan keuangan yang baik maka uang tersebut tidak akan banyak artinya. Sebaliknya, sekecil apapun uang yang kita dapatkan, jika kita mampu mengelolanya dengan baik maka akan sangat besar manfaat yang diberikannya.

Prinsip menjaga uang pada dasarnya sederhana. Pertama, selalu menjalankan nasehat pepatah lama bahwa jangan besar pasak daripada tiang. Dengan kata lain, kita seyogyanya menjaga agar pengeluaran kita tidak lebih besar daripada pemasukan. Kedua, membelanjakan uang atas dasar kebutuhan (need) bukan keinginan (want). Mampu membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya keinginan membuat kita bisa mengalokasikan uang dengan cermat dan tepat sasaran.

Menggandakan Uang

Kecerdasan keuangan tidak hanya tentang mendapatkan dan menjaga keuangan. Kecerdasan keuangan juga menyangkut bagaimana kita menggandakan uang. Definisi menggandakan uang di sini adalah melipatgandakan keuangan (kekayaan) kita. Misalnya, jika semula harta kita berjumlah Rp1 miliar maka tahun berikutnya kita mampu melipatgandakannya menjadi Rp2 miliar atau lebih. Tentu saja cara melipatgandakan kekayaan ini dilakukan secara legal, bukan model penipuan berkedok penggandaan uang yang sempat marak beberapa waktu lalu.

Cara untuk melipatgandakan kekayaan pada prinsipnya tidak jauh beda dengan cara mendapatkan uang, yaitu bisa dengan bekerja, berbisnis, atau berinvestasi. Kenaikan kekayaan dari bekerja bisa kita dapatkan dari kenaikan gaji atau berpindah kerja ke tempat lain yang menawarkan gaji lebih baik. Sementara peningkatan kekayaan melalui bisnis bisa diperoleh dengan meningkatkan volume penjualan, menaikkan kapasitas produksi, dan menjalankan efisiensi biaya.

Bagaimana dengan berinvestasi? Peningkatan kekayaan melalui investasi dapat kita lakukan dengan menanamkan uang kita pada produk-produk investasi, seperti saham, obligasi, reksa dana, unitlink, tanah, dan properti. Para pakar perencana keuangan umumnya menilai investasi sebagai alat melipatgandakan kekayaan yang lebih efektif dibandingkan cara-cara lain. Sebab, investasi pada dasarnya bisa dilakukan siapa saja dan uang yang relatif kecil.

Dalam berinvestasi, syarat yang wajib kita miliki adalah mengasah kecerdasan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan kita terkait produk investasi yang akan kita beli. Dengan demikian kita mampu memilah dan memilih investasi yang paling sesuai dengan tujuan, karakter, dan keahlian kita. Hanya dengan begitu baru kita bisa terhindar dari risiko berinvestasi membabi buta atau seperti membeli kucing dalam karung.

Memaknai Uang

Kecerdasan finansial bukan semata tentang mendapatkan, mengelola, dan melipatgandakan uang. Kecerdasan finansial juga menyangkut bagaimana kita memaknai uang, yaitu terkait apa arti uang bagi kita. Memahami makna uang akan mengasah kecerdasan kita dalam hal bagaimana kelak kita akan menggunakan uang tersebut untuk kebaikan kita.

Tidak dipungkiri uang adalah benda yang sangat penting dalam sistem ekonomi modern saat ini. Dengan uang kita bisa memperoleh apa-apa yang kita butuhkan. Tetapi satu hal yang harus selalu kita sadari, uang sejatinya bukan tujuan. Ketika kita menjadikan uang sebagai tujuan maka hal itu hanya akan membuat kita diperbudak oleh uang. Padahal semestinya kitalah majikan yang mengendalikan uang.

  • Baca juga: Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Seorang yang memiliki kecerdasan finansial baik semestinya mampu melihat uang dari perspektif yang sebenarnya, yaitu uang hanyalah alat untuk mencapai tujuan dan bukannya tujuan itu sendiri. Jadi, pada hakikatnya, uang harus kita maknai sebagai alat untuk membantu kita mencapai tujuan hidup kita, yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Selamat mengasah kecerdasan finansial.

 

 
 
 
 
 
Previous Post

Regulasi Harusnya BIsa Diperlunak

Next Post

Tak Pernah Berhenti Meraih Mimpi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Euforia Uang Digital

Bitcoin, Uang Digital Kontroversial

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance