Ada banyak ragam kecerdasan. Secara tradisional kecerdasan sering diidentikkan dengan Intellectual Quotient (IQ) atau kecerdasan intelejensia. Semakin tinggi IQ seseorang maka makin cerdas orang tersebut. Tingkat IQ normal ada dikisaran 90 – 109. Di bawah angka itu berarti kurang cerdas dan jika di atas itu dinilai sangat cerdas. Sedangkan IQ untuk orang jenius adalah 130 ke atas.
Secara teoritis seharusnya orang yang memiliki IQ tinggi akan lebih sukses daripada mereka yang hanya dikarunia IQ rata-rata. Namun dalam praktiknya ternyata tidak selalu demikian. Justru ada banyak mereka yang dikategorikan jenius ternyata tidak mampu meraih kesuksesan. Sebaliknya, mereka yang ber-IQ sedang-sedang saja malah mampu menggapai tangga-tangga kesuksesan.
Fenomena ‘kegagalan’ IQ ini membuat para ahli mencari bentuk kecerdasan yang memang benar-benar bertanggung jawab terhadap tingkat kesuksesan manusia. Pada tahun 1990, Peter Salovey, seorang ilmuwan dari Universitas Harvard, AS, yang kemudian berhasil menemukan bentuk kecerdasan ‘baru’ itu. Salovey menamainya sebagai Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional. Salovey mendefinisikan EQ sebagai “kemampuan untuk memahami perasaan sendiri, untuk berempati terhadap perasaan orang lain, dan untuk mengatur emosi, yang secara bersama berperan dalam meningkatkan taraf hidup seseorang.”
BERITA TERKAIT
Salovey berkeyakinan, EQ adalah kecerdasan yang paling dibutuhkan manusia untuk sukses. Dengan kata lain, semakin tinggi EQ seseorang maka peluang untuk menggapai tangga-tangga kesuksesan kian terbentang lebar. Namun tidak seperti IQ yang bersifat tetap, artinya mereka yang ber-IQ 100 tidak akan mungkin IQ-nya naik menjadi 130, EQ bisa berubah alias ditingkatkan.
Pasca diperkenalkan EQ, beragam bentuk kecerdasan ‘baru’ yang bersifat variabel atau bisa di-upgrade pun kian marak diperkenalkan. Salah satunya adalah kecerdasan finansial. Perdefinisi kecerdasan finansial dapat diartikan sebagai kecerdasan terkait pengetahuan, pemahaman, dan penggunaan lembaga maupun produk keuangan. Dengan kata lain, semakin tinggi pengetahuan, pemahaman, dan penggunaan kita terhadap lembaga dan produk keuangan maka dapat dikatakan peluang kita untuk meraih kesuksesan di bidang keuangan akan kian tinggi juga.
Kesuksesan di bidang keuangan hanya mungkin kita dapatkan jika memiliki tingkat kecerdasan finansial yang baik. Paling tidak ada empat tingkat kecerdasan finansial yang wajib kita asah agar cita-cita keuangan kita tersebut bisa terwujud, yaitu kecerdasan dalam rangka bagaimana mendapatkan uang, kecerdasan dalam hal bagaimana menjaga uang, dan selanjutnya melipatgandakan uang tersebut, serta yang terakhir bagaimana memaknai uang.
Mendapatkan Uang
Tujuan keuangan hanya mungkin kita capai bila kita memiliki uang. Untuk memperoleh uang, ada banyak caranya. Tetapi secara umum, ada tiga cara untuk memperoleh uang, yaitu: bekerja, berbisnis, dan berinvestasi. Tentu saja ada cara yang lain, misalnya menang undian, main judi, atau menerima warisan. Namun, terkait mengasah kecerdasan finansial, ketiga cara di atas yang lebih tepat untuk dilakukan.
Bekerja, berarti kita menjual tenaga dan pikiran kita kepada pemberi kerja. Sebagai imbalannya, pemberi kerja akan membayar kita dengan sejumlah uang. Dengan mekanisme inilah kita mendapatkan uang. Sementara dalam berbisnis, kita mendapat uang dengan cara menjual produk atau jasa yang kita buat atau miliki kepada konsumen. Dari hasil penjualan tersebut maka kita akan mendapat uang.
Adapun berinvestasi adalah kita menggunakan uang untuk mendapatkan uang. Caranya, antara lain, mendepositokan uang di bank, membeli produk investasi (saham, obligasi, reksadana dan sebagainya), atau menanamkan uang di sektor riil (tanah, properti, dan sebagainya).
Dengan mendepositokan uang di bank maka kita akan memperoleh pendapatan berupa bunga deposito. Dengan membeli produk investasi berupa saham dan obligasi maka kita memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan dari dividen saham dan bunga obligasi. Sementara dengan berinvestasi di tanah dan properti maka kita bisa menerima uang dari kenaikan harga tanah dan properti yang kita jual.
Menjaga Uang
Mengetahui bagaimana cara mendapatkan uang memang penting. Namun tidak cukup. Kita mungkin pernah mendengar banyak cerita, bagaimana seorang yang dulu sangat kaya raya, tiba-tiba jatuh miskin. Misalnya Mike Tyson. Di era tahun 1990-an, mantan juara dunia tinju kelas berat di tiga kelas berbeda ini pernah dinobatkan sebagai olah ragawan terkaya sejagat. Sayangnya, pasca gantung sarung tinju, Tyson tidak mampu menjaga kekayaannya. Gaya hidup foya-foya ‘Si Leher Beton’ lambat laun mengikis keuangannya. Perlahan-lahan hartanya habis , utang-utangnya menumpuk, dan Mike pun bangkrut.
Mike hanya satu dari contoh bahwa mengelola (menjaga) uang tidak kalah penting dari mendapatkan uang. Seberapa pun banyaknya uang yang kita dapatkan, jika tidak diimbangi dengan cara pengelolaan keuangan yang baik maka uang tersebut tidak akan banyak artinya. Sebaliknya, sekecil apapun uang yang kita dapatkan, jika kita mampu mengelolanya dengan baik maka akan sangat besar manfaat yang diberikannya.
Prinsip menjaga uang pada dasarnya sederhana. Pertama, selalu menjalankan nasehat pepatah lama bahwa jangan besar pasak daripada tiang. Dengan kata lain, kita seyogyanya menjaga agar pengeluaran kita tidak lebih besar daripada pemasukan. Kedua, membelanjakan uang atas dasar kebutuhan (need) bukan keinginan (want). Mampu membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya keinginan membuat kita bisa mengalokasikan uang dengan cermat dan tepat sasaran.
Menggandakan Uang
Kecerdasan keuangan tidak hanya tentang mendapatkan dan menjaga keuangan. Kecerdasan keuangan juga menyangkut bagaimana kita menggandakan uang. Definisi menggandakan uang di sini adalah melipatgandakan keuangan (kekayaan) kita. Misalnya, jika semula harta kita berjumlah Rp1 miliar maka tahun berikutnya kita mampu melipatgandakannya menjadi Rp2 miliar atau lebih. Tentu saja cara melipatgandakan kekayaan ini dilakukan secara legal, bukan model penipuan berkedok penggandaan uang yang sempat marak beberapa waktu lalu.
Cara untuk melipatgandakan kekayaan pada prinsipnya tidak jauh beda dengan cara mendapatkan uang, yaitu bisa dengan bekerja, berbisnis, atau berinvestasi. Kenaikan kekayaan dari bekerja bisa kita dapatkan dari kenaikan gaji atau berpindah kerja ke tempat lain yang menawarkan gaji lebih baik. Sementara peningkatan kekayaan melalui bisnis bisa diperoleh dengan meningkatkan volume penjualan, menaikkan kapasitas produksi, dan menjalankan efisiensi biaya.
Bagaimana dengan berinvestasi? Peningkatan kekayaan melalui investasi dapat kita lakukan dengan menanamkan uang kita pada produk-produk investasi, seperti saham, obligasi, reksa dana, unitlink, tanah, dan properti. Para pakar perencana keuangan umumnya menilai investasi sebagai alat melipatgandakan kekayaan yang lebih efektif dibandingkan cara-cara lain. Sebab, investasi pada dasarnya bisa dilakukan siapa saja dan uang yang relatif kecil.
Dalam berinvestasi, syarat yang wajib kita miliki adalah mengasah kecerdasan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan kita terkait produk investasi yang akan kita beli. Dengan demikian kita mampu memilah dan memilih investasi yang paling sesuai dengan tujuan, karakter, dan keahlian kita. Hanya dengan begitu baru kita bisa terhindar dari risiko berinvestasi membabi buta atau seperti membeli kucing dalam karung.
Memaknai Uang
Kecerdasan finansial bukan semata tentang mendapatkan, mengelola, dan melipatgandakan uang. Kecerdasan finansial juga menyangkut bagaimana kita memaknai uang, yaitu terkait apa arti uang bagi kita. Memahami makna uang akan mengasah kecerdasan kita dalam hal bagaimana kelak kita akan menggunakan uang tersebut untuk kebaikan kita.
Tidak dipungkiri uang adalah benda yang sangat penting dalam sistem ekonomi modern saat ini. Dengan uang kita bisa memperoleh apa-apa yang kita butuhkan. Tetapi satu hal yang harus selalu kita sadari, uang sejatinya bukan tujuan. Ketika kita menjadikan uang sebagai tujuan maka hal itu hanya akan membuat kita diperbudak oleh uang. Padahal semestinya kitalah majikan yang mengendalikan uang.
Seorang yang memiliki kecerdasan finansial baik semestinya mampu melihat uang dari perspektif yang sebenarnya, yaitu uang hanyalah alat untuk mencapai tujuan dan bukannya tujuan itu sendiri. Jadi, pada hakikatnya, uang harus kita maknai sebagai alat untuk membantu kita mencapai tujuan hidup kita, yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Selamat mengasah kecerdasan finansial.
















