Pinhome rilis Indonesia Property Market Signal Q2 2026 di skor 50,3. Aktivitas pasar properti melandai, pergerakan beli bergeser ke Bekasi & Tangerang.
Stabilitas.id – Aktivitas pasar properti residensial di Indonesia pada Kuartal II-2026 menunjukkan tren yang lebih moderat. Platform teknologi properti (prop-tech) Pinhome mencatat, indikator kesehatan pasar Indonesia Property Market Signal pada Kuartal II-2026 berada di level skor 50,3 dari skala 0–100, melandai dibandingkan posisi puncak aktivitas pada akhir tahun 2025.
Meski melandai, kondisi pasar properti nasional dinilai masih relatif stabil. Hal ini didukung oleh ketersediaan pasokan (supply) rumah yang tetap kuat serta membaiknya indikator kecepatan transaksi.
Pencegerahan paling signifikan terjadi pada indeks aktivitas pencarian (penggunaan filter, fitur wishlist, dan pembagian listing) yang berada di skor 38,8/100. Kendati demikian, interaksi calon pembeli untuk menghubungi agen maupun pemilik properti tetap terjaga. Pola ini mengindikasikan bahwa minat beli tetap ada, namun konsumen menjadi jauh lebih selektif.
BERITA TERKAIT
CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata menyampaikan bahwa proses pertimbangan pembeli saat ini berlangsung lebih matang dan terukur.
“Calon pembeli kini lebih fokus pada properti yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka. Artinya, yang melambat bukan minat untuk membeli, melainkan proses pengambilan keputusan yang menjadi lebih terukur,” jelas Dara dalam keterangan resminya, Rabu (26/8/2026).
Ruang Tawar Harga Membesar bagi Pembeli
Dari sisi pasokan, indeks ketersediaan properti menjadi penopang utama kesehatan pasar dengan raihan skor 56,8/100. Jumlah listing baru tetap melimpah, diiringi peningkatan proporsi penjual yang memiliki urgensi tinggi untuk melepas propertinya. Kondisi ini memberi fleksibilitas harga serta memperbesar ruang negosiasi tawar-menawar bagi pihak pembeli.
Di sisi lain, indeks kecepatan transaksi (speed of transaction) mencatatkan pemulihan dengan skor 55,4/100. Setelah sempat melambat pada Kuartal I-2026, durasi sebuah properti untuk memperoleh penawaran pertama (first offer) kembali membaik per Juni 2026, terutama untuk unit yang dipasarkan melalui jaringan agen resmi.
Pergeseran Pusat Aktivitas ke Wilayah Penyangga (Suburban)
Riset Pinhome bersama data Kantor Agen Properti Eksklusif (APEX) merekam adanya pergeseran peta minat beli antarwilayah:
Penurunan Minat Beli: Terjadi paling tajam di kawasan Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Kota Depok. Jakarta Selatan bahkan mengalami pelemahan dari sisi permintaan maupun pasokan baru.
Penguatan Minat Beli: Terjadi di wilayah penyangga seperti Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor.
Pasar Paling Dinamis: Koridor Kabupaten/Kota Bekasi, Tangerang, serta Kota Surabaya menjadi pasar paling bergairah dengan pertumbuhan minat beli dan penambahan listing baru yang sama-sama menguat.
Pasar Kompetitif & Negosiatif: Kabupaten Bogor menjadi pasar sangat kompetitif akibat lonjakan permintaan di tengah pasokan yang menyusut. Sementara Kota Bandung dan Jakarta Timur memberikan ruang negosiasi harga lebih longgar karena pertumbuhan pasokan melampaui daya serap pasar.
Pinhome memproyeksikan tren pergeseran pusat pencarian hunian ke kawasan penyangga ini masih akan berlanjut hingga beberapa kuartal mendatang. ***

















