• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Minggu, Februari 22, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Laporan Utama

Korban Ketidaksinkronan Kebijakan

oleh Sandy Romualdus
24 November 2016 - 00:00
2
Dilihat
0
Bagikan
2
Dilihat

SATU hari setelah Sri Mulyani Indrawati diangkat sebagai Menteri Keuangan pada Kamis, 28 Juli 2016, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardjo mendatangi kantor Sri Mulyani di bilangan Lapangan Banteng, Jakarta. Kedua petinggi negara tersebut menjadi tamu resmi pertama yang menyambangi kantor Kementerian Keuangan setelah Ani –panggilan akrab Sri Mulyani–kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Usai pertemuan, Darmin mengatakan pertemuan Jumat pagi itu untuk merancang waktu koordinasi reguler antara moneter, fskal, dan sektor riil ke depannya. “Kita ngobrol-ngobrol untuk melakukan pertemuan teratur yang kami rancang waktunya,” kata Darmin. Nantinya dimungkinkan adanya pertemuan secara teratur, entah dwimingguan atau bulanan untuk membahas perkembangan perekonomian terkini. “Mungkin bisa saja yang pertemuan pertama di Kemenkeu, nanti bergantian di BI di tempat Pak Agus,” ujar Darmin

Agus menambahkan, pertemuan reguler antarmoneter, fskal, dan sektor riil tersebut memang perlu dilakukan. Salah satu tujuannya yakni ingin membuktikan bahwa koordinasi antara ketiganya terjaga dengan baik. “Koordinasi untuk meyakinkan bahwa hubungan harmonis antara kebijakan fskal, moneter dan sektor riil. Karena akan berdampak pada pembangunan Indonesia yang berkesinambungan,” jelas Agus.

BERITA TERKAIT

HPSN 2026: BNI Perkuat Aksi Lingkungan, 423 Kg Sampah Berhasil Diangkut dari Pantai Mertasari

BNI Rayakan Imlek 2577 Kongzili Bersama Nasabah, Perkuat Komitmen Tumbuh Berkelanjutan

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Harmonisasi kebijakan memang menjadi isu penting ketika pemerintah menggebu-gebu untuk terus menerbitkan surat utang sebagai solusi mudah menambal defsit dan membuat tren penurunan bunga terhambat. Selain itu, sektor perbankan pun akhirnya yang menjadi korban.

Kebijakan penerbitan obligasi negara dengan bunga menggiurkan –di tengah keinginan BI untuk menurunkan bunga ke level single digit– jelas membuat perbankan disorientasi. Tugas utama mendorong fungsi intermediasi pada akhirnya terbengkalai karena danadananya dinilai lebih aman ditaruh di surat berharga negara yang hampir tanpa risiko.

Apalagi saat ini, perekonomian masih lesu yang ditandai dengan terus melemahnya pertumbuhan. Dalam dua triwulan yang sudah lewat, pertumbuhan masih di bawah level 5,2 persen, angka yang menjadi target dalan anggaran negara.

Salah satu dampak yang menimpa perbankan adalah angka undisbursed loan yang terus membesar. Kredit yang sudah disetujui namun belum dicairkan oleh nasabah itu menunjukkan peningkatan yang cukup mengkhawatirkan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit yang belum ditarik naik 4,31 persen menjadi Rp 1.245 triliun per Juli 2016 ketimbang tahun lalu. Yang menarik, bank-bank yang masuk dalam lima besar merupakan bank yang paling banyak memiliki tumpukan undisbursed loan.

Bank kakap masuk kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) III dan IV berkontribusi sebesar 92,45 persen dari total undisbursed loan di industri perbankan. Gabungan kredit menganggur bank besar ini mencapai Rp 1.151,80 triliun. Selain itu, undisbursed loan BUKU III dan IV mencatatkan pertumbuhan tertinggi. Per Juli 2016, kredit menganggur BUKU III dan IV masing-masing naik sebesar 11,48 persen dan 13,32 persen.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan nilai undisbursed loan tertinggi dari seluruh bank yaitu Rp161,09 triliun. Jumlah ini tumbuh sebesar 7,72 persen secara tahunan. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BCA mengatakan, tingginya undisbursed loan disebabkan sejumlah debitur mengembalikan kredit karena kebutuhan modal kerjanya berkurang drastis. “Ini terjadi di hampir semua sektor penyaluran kredit,” ujar Jahja.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatatkan kenaikan kredit yang belum ditarik sebesar 8,66 persen menjadi Rp13,65 triliun pada Juli 2016. Direktur Keuangan BTN Iman Nugroho Soeko mengatakan, mayoritas undisbursed loan merupakan kredit konstruksi. “Karena realisasi kredit konstruksi bertahap sesuai kemajuan proyek,” ujar Iman. Faktor lain, permintaan pasar perumahan khususnya sektor menengah atas, masih belum terlalu kencang.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk juga mencatatkan kenaikan undisbursed loan tinggi. Per Juli 2016, kredit yang belum ditarik di bank ini melesat 22,54 persen menjadi Rp 32,19 triliun. Tren kenaikan undisbursed loan diprediksi masih berlanjut hingga akhir tahun nanti karena nasabah masih berhati-hati dalam mencairkan plafon kredit. “Permintaan kredit masih lemah dan nasabah punya banyak pilihan bank mana yang menguntungkan secara harga kredit,” ujar Taswin Zakaria, Direktur Utama Maybank Indonesia. Otoritas berkali-kali menebarkan optimisme bahwa kondisi ekonomi akan membaik dan pencairan kredit yang sudah disetujui akan meningkat.

“Tumpukan undisbursed loan akan menurun karena sektor rill sudah mulai berjalan,” kata Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.

Sayangnya, bankir tak seoptimistis regulator dan momok kredit belum ditarik itu masih akan menghantui. Direktur Utama Citibank Indonesia Batara Sianturi mengatakan, kredit yang belum ditarik tergantung kondisi ekonomi. Pada kuartal I, kredit menganggur Citibank naik 8,27 persen menjadi Rp 56,9 triliun. “Trennya menunggu outlook ekonomi,” ujar dia.

Namun demikian, kata bos BI, Agus Martowardojo, permintaan kredit dalam mata uang rupiah masih dalam kondisi yang cukup baik. “Permintaan kredit dalam rupiah cukup, tapi outstanding pinjaman dalam valuta asing turun tajam. Karena pinjaman valas turun, pertumbuhan kredit gabungan kelihatan terbatas,” ungkap Agus.

Investasi bukan Intermediasi Selain ke obligasi negara, bank juga dinilai banyak menempatkan dananya di Sertifkat Bank Indonesia (SBI) atau melemparnya pada pasar uang antar bank, alih-alih disalurkan menjadi kredit.

“Perbankan hanya mau main aman dengan kontribusi pendapatan yang sangat besar ditopang oleh penempatan dana di SBI dan fee based income,” ujar Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira.

Menurut dia, tren kenaikan penempatan dana di SBI mengindikasikan perbankan cenderung menghindari risiko penyaluran kredit ke sektor riil. Pada Juni lalu dana perbankan di SBI mencapai Rp102,29 triliun , naik tajam dari posisi Februari 2016 senilai Rp53,57 triliun.

Sedangkan pendapatan dari fee based income, berdasarkan data OJK pada Juni 2016 mencapai Rp129,11 triliun, naik dari level Rp105,18 triliun pada bulan sebelumnya. Sebelumnya, Ekonom Maybank, Juniman, juga mengatakan permintaan kredit dari sektor riil masih minim. Perbankan pun makin selektif menyalurkan kredit karena melihat risiko kenaikan nonperforming loans (NPL) atau kredit macet.

Oleh karena itu, bank memilih menempatkan dananya ke Pasar Uang Antar Bank (PUAB) ketimbang menyalurkan ke sektor riil melalui kredit. Jika perekonomian tak kunjung membaik dan permintaan kredit dari swasta belum meningkat, pengetatan likuiditas perbankan diperkirakan bisa berkepanjangan. Hasilnya, likuiditas dana hanya berputar di antara bank dan tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi. BI pun merevisi pertumbuhan kredit tahun ini menjadi single digit dari proyeksi sebelumnya yang double digit.  

***

 
 
 
 
Sebelumnya

Panggung Fiskal yang Menantang

Selanjutnya

Pragmatisme versus Fungsi Intermediasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

oleh Stella Gracia
12 Februari 2026 - 12:20

Stabilitas.id — PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar pelatihan Finance for Non Finance bagi 21 pekerja lintas unit kerja pada...

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

oleh Sandy Romualdus
8 Februari 2026 - 11:31

Stabilitas.id — Bank Syariah Nasional (BSN) menegaskan penguatan peran developer sebagai mitra utama dalam ekosistem pembiayaan perumahan syariah melalui penyelenggaraan...

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

oleh Stella Gracia
3 Februari 2026 - 09:48

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan langkah tindak lanjut konkret setelah menggelar pertemuan dengan tim Morgan Stanley Capital International...

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

OJK Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan TI, Perkuat Keamanan Digital BPR dan BPR Syariah

oleh Stella Gracia
9 Januari 2026 - 09:40

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan ketentuan baru terkait penyelenggaraan teknologi informasi (TI) bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR)...

Ingin Punya Rumah Pertama? Ini Tips Keuangan dan KPR untuk Pasutri

Ingin Punya Rumah Pertama? Ini Tips Keuangan dan KPR untuk Pasutri

oleh Stella Gracia
8 Januari 2026 - 14:07

Stabilitas.id — Memiliki rumah pertama masih menjadi salah satu impian sekaligus prioritas utama bagi pasangan suami istri (pasutri) baru. Namun,...

Transaksi Digital Tumbuh 44%, CIMB Niaga Gaspol Pengembangan OCTO

Transaksi Digital Tumbuh 44%, CIMB Niaga Gaspol Pengembangan OCTO

oleh Stella Gracia
11 November 2025 - 04:31

Stabilitas.id — PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) kembali memperkuat posisinya sebagai pemain utama di perbankan digital dengan meluncurkan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Puncak BIK 2025: Ribuan Warga Banyumas Dapat Akses Keuangan Baru dari LJK

    OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

HPSN 2026: BNI Perkuat Aksi Lingkungan, 423 Kg Sampah Berhasil Diangkut dari Pantai Mertasari

BNI Rayakan Imlek 2577 Kongzili Bersama Nasabah, Perkuat Komitmen Tumbuh Berkelanjutan

OJK Sikat Influencer Saham BVN, Denda Rp5,35 Miliar Akibat Manipulasi Pasar

Bareskrim Bidik TPPU Emas Ilegal Rp992 Triliun, Toko Emas di Jatim Digeledah

Mari Elka Pangestu: Reformasi Bursa Jadi Kunci RI Raih Dana Asing Rp1.118 Triliun

Neraca Pembayaran 2025 Defisit US$7,8 Miliar, Tertekan Outflow Investasi Portofolio

Siap-siap! THR TNI/Polri dan ASN Mulai Disalurkan Minggu Pertama Ramadan

Purbaya Tolak Usulan IMF Naikkan PPh 21, Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Strategi Pembiayaan APBN: Serapan Lelang SUN Tembus Rp40 Triliun di Tengah Penurunan Bids

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya

FWD Luncurkan Asuransi Jiwa Syariah Berbasis Digital

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance