• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Jumat, Desember 5, 2025
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Liputan Khusus

Panggung Fiskal yang Menantang

oleh Sandy Romualdus
24 November 2016 - 00:00
12
Dilihat
0
Bagikan
12
Dilihat

MALANG tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Pemerintahan sekarang bisa dibilang terkena syndrome pepatah itu, terutama di sisi pengelolaan anggaran. Selama dua tahun berjalan, tantangan berat fskal tak hentihentinya menghadang. Ketika Presiden Joko Widodo memasuki kantor Kepresidenan menjelang akhir 2014, pemerintahannya sudah berjanji akan mendorong sektor infrastruktur dan mematok pertumbuhan tinggi. Namun, setahun berjalan, dua janji itu tak pernah kesampaian. Yang ada, pertumbuhan melemah dan pembangunan infrastruktur berjalan lamban.

Di sisi lain, anggaran pemerintah empot-empotan, penerimaan melorot karena ekspor anjlok dan pemungutan pajak tak beranjak. Sementara pengeluaran negara melonjak karena kebutuhan pembangunan dan rutinitas pemerintahan. Mulai saat ini pemerintah pun jadi rajin menerbitkan surat utang sekaligus melakukan efsiensi.

Masuknya Sri Mulyani Indrawati ke kantor lamanya di Lapangan Banteng Jakarta, makin membuat kecenderungan itu menjadi. Apalagi pemerintah punya kebijakan yang tengah jadi idola: pengampunan pajak. Selain itu, Pemerintah juga punya Paket Kebijakan Ekonomi, yang sudah mencapai 13 jilid yang memiliki cakupan luas, mulai pembenahan iklim investasi hingga pengaturan sektor properti. Akan tetapi, strategi itu memiliki konsekuensi yang tak bisa dihindari yaitu anggaran yang makin tak seimbang.

BERITA TERKAIT

“Saat ini kondisi fskal kita agak mengkhawatirkan, per akhir Agustus keseimbangan primer sudah tembus ke angka negatif Rp145,8 triliun. Realisasi ini bahkan sudah lebih tinggi dari proyeksi keseimbangan primer dalam APBN-P 2016 sebesar minus Rp105,5 triliun, ” kata Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Bidang Ekonomi dan Keuangan Ecky Awal Mucharam.

Keseimbangan primer adalah total penerimaan dikurangi belanja negara yang tidak termasuk pembayaran cicilan utang dan bunganya. Keseimbangan itu menjadi indikator yang tepat untuk menilai kesehatan keuangan negara, sebab hal ini menunjukan seberapa kuat pemerintah dapat membiayai sendiri pengeluarannya. Ketika keseimbangan primer negatif berarti pemerintah hanya bertahan dari utang yang satu ke utang yang lain, tetapi lambat laun kemampuan melunasi utang makin menurun.

Kekhawatiran ini ada benarnya. Karena kalau ditilik ke belakang, secara umum kesehatan keuangan negara di era Jokowi masih memprihatinkan. Sebagai catatan, keseimbangan primer pada periode yang sama dua tahun sebelumnya adalah sebesar minus Rp20,8 triliun di 2014 dan minus Rp89,3 triliun di 2015. Itu artinya trennya terus memburuk.

Pengamat ekonomi dari Partai Demokrat, Ikhsan Modjo punya kekhawatiran yang sama. Ia mengatakan, kondisi fskal Indonesia jika dibandingkan 2014 dan 2015 makin memprihatinkan. Penerimaan semakin jauh di bawah target, sementara belanja negara tak pernah berkurang. Defsit sampai akhir tahun bisa mencapai Rp450 triliun atau 4,1 persen dari PDB. Ini bisa membuat pemerintah dimakzulkan akrena telah melanggar batas defsit sebesar 3 persen seperti yang diamanatkan undang-undang.

Soal kebijakan pengampunan pajak, Ikhsan mengatakan hal itu tak lebih sekadar upaya sementara dari persoalan APBN yang sudah kritis akibat asumsi penerimaan negara yang tidak realistis. Dengan kebijakan fskal yang timpang, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang juga dinilai oleh sejumlah kalangan tidak realistis. Oleh karena penerimaan negara saat ini semakin jauh di bawah target, sementara belanja cenderung meningkat.

Sementara itu, pengamat ekonomi Firmanzah mengatakan, dengan tren pengelolaan anggaran yang sedang berlangsung saat ini, bukan tidak mungkin defsit APBN tembus 3 persen dari PDB alias gagal fskal. “Yang diperlukan market adalah sinyal. Jika ngotot mematok pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, akan berisiko market tidak percaya. Mereka tidak mengambil tindakan apapun, dan ini berbahaya bagi perekonomian,” ujar mantan Dekan FEUI ini.

Soal pembangunan infrastruktur yang menyerap banyak anggaran, Firmanzah mengatakan tidak akan menghasilkan perubahan dalam jangka pendek. Pada 2015 pemerintah tetap mempertahankan asumsi pertumbuhan tinggi sebesar 5,7 persen, tetapi di akhir tahun hanya terealisasi 4,8 persen. Tahun ini, pemerintah bersikukuh mematok pertumbuhan di atas 5 persen.

‎“Pemerintah harus realistis, asumsi wajib diturunkan menjadi 4,9 persen,” ungkap doktor lulusan Monash University itu.

Sesuai Jalur

Namun begitu, tak semua ekonom atau pengamat yang menganggap pengelolaan fskal saat ini berada di jalur yang salah. Bahkan ada beberapa terobosan pemerintah di sektor fskal yang patut diacungi jempol. Di antaranya adalah terobosan fskal terkait insentif pajak, penyaluran dana desa, hingga alokasi belanja transfer daerah yang lebih besar dari Kementerian/Lembaga. Kebijakan-kebijakan tersebut diakui berdampak positif bagi perekonomian. Demikian diungkapkan Ekonom Senior Kenta Institute Eric Sugandi.

Akan tetapi di atas semua itu, posisi Menteri Keuangan menjadi kunci terkait kondisi fskal nasional. Ketika Menkeu masih dijabat Bambang PS Brodjonegoro, pos Lapangan Banteng sudah berusaha melakukan kebijakan fskal secara terarah dan efektif, sehingga ekonomi mampu rebound mulai kuartal ketiga 2015. “Meskipun pada awal-awal masa jabatannya, ada beberapa target yang belum tercapai,” kata Eric.

Memang, seperti diakui dia, pada awal-awal masa jabatan Bambang penyerapan anggaran kurang terselenggara dengan baik. Namun itu bukan sepenuhnya kesalahan mantan Wakil Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mengingat serapan anggaran lintas kementerian.

Senada dengan Eric, Ekonom dari Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty mengatakan, kondisi fskal Indonesia terlalu luas untuk dikatakan bertentangan dengan Program Nawacita yang sudah didengungkan Presiden Jokowi.

Namun dia juga menggarisbawahi bahwa terkadang kesalahan menteri kabinet kerja memang dicari menjelang perombakan kabinet. “Kita harus bisa memilih-milih, mana informasi yang benar mana yang tidak. Padahal juga kan sudah mengamanahkan kepada menterinya untuk menerapkan nawacita. Meskipun penerapannya tidak bisa 100 persen. Karena kan berat-berat realisasinya,” ujar Telisa.

Sejauh ini, Telisa menilai kebijakan fskal yang dikeluarkan oleh Kementerian keuangan sudah sesuai jalur. Meskipun dalam Nawacita sendiri belum semuanya terpenuhi lantaran memang kondisi domestik yang tidak terlalu mendukung. Seperti misalnya kemandirian keuangan yang ada dalam konsep Nawacita.

Sementara itu, Bank Indonesia juga membela pemerintah dengan mengatakan tidak ada masalah dengan kebijakan fskal. Gubernur BI Agus DW. Martowardojo mengungkapkan selama 12 tahun terakhir kondisi fskal Indonesia tak pernah bermasalah. Hal tersebut ia nyatakan menanggapi berbagai diskusi yang meragukan kondisi fskal Indonesia.

“Terlalu banyak diskusi yang meragukan fskal seperti penerimaan pajak engga besar. Kita sudah dengar pemerintah akan disburse anggaran, supaya penyerapan tinggi, kita akan lihat, tapi 12 tahun terkahir Indonesia enggak ada masalah dengan fskal,” ucapnya dalam sebuah kesempatan.

Agus mengatakan, pemangku kepentingan di Indonesia telah memiliki aturan defsit anggaran yang jika ada peningkatan defsit, Pemerintah bersama DPR dan BI akan selalu berkoordinasi. Sehingga secara fskal, Indonesia tidak mengalami masalah.

Di sisi lain, kepercayaan asing pun dinilai masih baik, tercermin dari aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sejalan dengan keberhasilan tax amnesty tahap pertama. Kendati nilai tukar rupiah masih berfluktuasi, dan pertumbuhan ekonomi belum stabil, Agus mengatakan hal itu lebih karena besarnya tekanan dari luar yang menyebabkan permintaan komoditas menurun dan membuat harganya anjlok.  

***

Tags: Reformasi Kebijakan Fiskal,disiplin fiskal
 
 
 
 
Sebelumnya

Jamkrindo Sabet Dua Penghargaan di Bidang Marketing

Selanjutnya

FWD Luncurkan Asuransi Jiwa Syariah Berbasis Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Banyak Suka Menjadi Mandirians

Banyak Suka Menjadi Mandirians

oleh Sandy Romualdus
4 Februari 2020 - 17:25

Bekerja di Bank Mandiri berarti mendapatkan gaji mentereng, masa depan terjamin dan banyak ilmu dan pengetahuan yang didapat.

Rahasia Membentuk Mandirian Tangguh

Rahasia Membentuk Mandirian Tangguh

oleh Sandy Romualdus
4 Februari 2020 - 17:17

Strategi pengembangan pegawai yang dilakukan Bank Mandiri tahun-tahun sebelumnya telah membuahkan hasil fantastis.

Ketika Mandirians Mengambil Alih Panggung

Ketika Mandirians Mengambil Alih Panggung

oleh Sandy Romualdus
4 Februari 2020 - 17:08

Satu dekade belakangan banyak perusahaan di industri keuangan mengincar lulusan Bank Mandiri.

Gadai Emas Syariah

Inovasi Gadai Emas “Zaman Now”

oleh Sandy Romualdus
7 Maret 2018 - 00:00

Tidak mau tergilas zaman, Pegadaian berbenah dan meluncurkan aplikasi online untuk bisnis gadai emas serta inovasi lainnya. 

Sistem Pembayaran Tunai Dominasi Transaksi Harbolnas

Sistem Pembayaran Tunai Dominasi Transaksi Harbolnas

oleh Stella Gracia
16 Desember 2016 - 00:00

Jumlah transaksi tunai melalui ATM dan cash on delivery (COD) masih besar, sebab masih ada ketakutan yang besar pada masyarakat...

Ketika Moneter-Fiskal Tak Seiring

oleh Sandy Romualdus
24 November 2016 - 00:00

Kebijakan fskal saat ini tengah naik daun dan mendominasi perekonomian, untuk mendorong pertumbuhan.

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WIKA Umumkan Gagal Bayar Surat Utang Jumbo Rp4,64 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 50 Tahun Summarecon: Membangun Kota, Merawat Ingatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 106 Perusahaan Asuransi Raih Predikat Market Leaders 2025 Versi Media Asuransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga BBM Oktober 2025: Pertamina Naikkan Dexlite dan Pertamina Dex, Subsidi Tetap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ratusan Pinjol Ilegal Dibongkar, Satgas PASTI Soroti Modus Penipuan AI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Buah Gotong Royong Baru: Saat 16.000 Mangrove Menjadi Jejak Kolaborasi Blibli Tiket Action

Dorong Mobilitas dan Ekonomi Batam, SIG Paparkan Inovasi Material Rendah Karbon

Sun Life Luncurkan SiSuper, Solusi Asuransi dengan Manfaat Tunai hingga 360%

Kasus Penggelapan Premi 2018–2022 Tuntas Disidik, Dua Tersangka Diserahkan OJK ke Jaksa

Punya Satelit Sendiri, Akses Layanan BRI Tetap Terjaga di Daerah Terisolir Bencana Banjir Bandang

OJK Perketat Aturan Perdagangan Aset Digital dan Derivatif Kripto Lewat POJK 23/2025

Lahir dari Kas Masjid, Begini Cikal Bakal BRI Yang Berusia 130 Tahun

Surplus Nonmigas Dongkrak Neraca Dagang, Defisit Migas Masih Jadi Tantangan

OJK Terbitkan Aturan Baru Pengawasan LKM, Beri Ruang Penguatan Permodalan Bertahap

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya

FWD Luncurkan Asuransi Jiwa Syariah Berbasis Digital

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance