• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Jumat, Agustus 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Korban Ketidaksinkronan Kebijakan

oleh Sandy Romualdus
24 November 2016 - 00:00
5
Dilihat
0
Bagikan
5
Dilihat

SATU hari setelah Sri Mulyani Indrawati diangkat sebagai Menteri Keuangan pada Kamis, 28 Juli 2016, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardjo mendatangi kantor Sri Mulyani di bilangan Lapangan Banteng, Jakarta. Kedua petinggi negara tersebut menjadi tamu resmi pertama yang menyambangi kantor Kementerian Keuangan setelah Ani –panggilan akrab Sri Mulyani–kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Usai pertemuan, Darmin mengatakan pertemuan Jumat pagi itu untuk merancang waktu koordinasi reguler antara moneter, fskal, dan sektor riil ke depannya. “Kita ngobrol-ngobrol untuk melakukan pertemuan teratur yang kami rancang waktunya,” kata Darmin. Nantinya dimungkinkan adanya pertemuan secara teratur, entah dwimingguan atau bulanan untuk membahas perkembangan perekonomian terkini. “Mungkin bisa saja yang pertemuan pertama di Kemenkeu, nanti bergantian di BI di tempat Pak Agus,” ujar Darmin

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Agus menambahkan, pertemuan reguler antarmoneter, fskal, dan sektor riil tersebut memang perlu dilakukan. Salah satu tujuannya yakni ingin membuktikan bahwa koordinasi antara ketiganya terjaga dengan baik. “Koordinasi untuk meyakinkan bahwa hubungan harmonis antara kebijakan fskal, moneter dan sektor riil. Karena akan berdampak pada pembangunan Indonesia yang berkesinambungan,” jelas Agus.

BERITA TERKAIT

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Harmonisasi kebijakan memang menjadi isu penting ketika pemerintah menggebu-gebu untuk terus menerbitkan surat utang sebagai solusi mudah menambal defsit dan membuat tren penurunan bunga terhambat. Selain itu, sektor perbankan pun akhirnya yang menjadi korban.

Kebijakan penerbitan obligasi negara dengan bunga menggiurkan –di tengah keinginan BI untuk menurunkan bunga ke level single digit– jelas membuat perbankan disorientasi. Tugas utama mendorong fungsi intermediasi pada akhirnya terbengkalai karena danadananya dinilai lebih aman ditaruh di surat berharga negara yang hampir tanpa risiko.

Apalagi saat ini, perekonomian masih lesu yang ditandai dengan terus melemahnya pertumbuhan. Dalam dua triwulan yang sudah lewat, pertumbuhan masih di bawah level 5,2 persen, angka yang menjadi target dalan anggaran negara.

Salah satu dampak yang menimpa perbankan adalah angka undisbursed loan yang terus membesar. Kredit yang sudah disetujui namun belum dicairkan oleh nasabah itu menunjukkan peningkatan yang cukup mengkhawatirkan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit yang belum ditarik naik 4,31 persen menjadi Rp 1.245 triliun per Juli 2016 ketimbang tahun lalu. Yang menarik, bank-bank yang masuk dalam lima besar merupakan bank yang paling banyak memiliki tumpukan undisbursed loan.

Bank kakap masuk kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) III dan IV berkontribusi sebesar 92,45 persen dari total undisbursed loan di industri perbankan. Gabungan kredit menganggur bank besar ini mencapai Rp 1.151,80 triliun. Selain itu, undisbursed loan BUKU III dan IV mencatatkan pertumbuhan tertinggi. Per Juli 2016, kredit menganggur BUKU III dan IV masing-masing naik sebesar 11,48 persen dan 13,32 persen.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan nilai undisbursed loan tertinggi dari seluruh bank yaitu Rp161,09 triliun. Jumlah ini tumbuh sebesar 7,72 persen secara tahunan. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BCA mengatakan, tingginya undisbursed loan disebabkan sejumlah debitur mengembalikan kredit karena kebutuhan modal kerjanya berkurang drastis. “Ini terjadi di hampir semua sektor penyaluran kredit,” ujar Jahja.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatatkan kenaikan kredit yang belum ditarik sebesar 8,66 persen menjadi Rp13,65 triliun pada Juli 2016. Direktur Keuangan BTN Iman Nugroho Soeko mengatakan, mayoritas undisbursed loan merupakan kredit konstruksi. “Karena realisasi kredit konstruksi bertahap sesuai kemajuan proyek,” ujar Iman. Faktor lain, permintaan pasar perumahan khususnya sektor menengah atas, masih belum terlalu kencang.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk juga mencatatkan kenaikan undisbursed loan tinggi. Per Juli 2016, kredit yang belum ditarik di bank ini melesat 22,54 persen menjadi Rp 32,19 triliun. Tren kenaikan undisbursed loan diprediksi masih berlanjut hingga akhir tahun nanti karena nasabah masih berhati-hati dalam mencairkan plafon kredit. “Permintaan kredit masih lemah dan nasabah punya banyak pilihan bank mana yang menguntungkan secara harga kredit,” ujar Taswin Zakaria, Direktur Utama Maybank Indonesia. Otoritas berkali-kali menebarkan optimisme bahwa kondisi ekonomi akan membaik dan pencairan kredit yang sudah disetujui akan meningkat.

“Tumpukan undisbursed loan akan menurun karena sektor rill sudah mulai berjalan,” kata Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.

Sayangnya, bankir tak seoptimistis regulator dan momok kredit belum ditarik itu masih akan menghantui. Direktur Utama Citibank Indonesia Batara Sianturi mengatakan, kredit yang belum ditarik tergantung kondisi ekonomi. Pada kuartal I, kredit menganggur Citibank naik 8,27 persen menjadi Rp 56,9 triliun. “Trennya menunggu outlook ekonomi,” ujar dia.

Namun demikian, kata bos BI, Agus Martowardojo, permintaan kredit dalam mata uang rupiah masih dalam kondisi yang cukup baik. “Permintaan kredit dalam rupiah cukup, tapi outstanding pinjaman dalam valuta asing turun tajam. Karena pinjaman valas turun, pertumbuhan kredit gabungan kelihatan terbatas,” ungkap Agus.

Investasi bukan Intermediasi Selain ke obligasi negara, bank juga dinilai banyak menempatkan dananya di Sertifkat Bank Indonesia (SBI) atau melemparnya pada pasar uang antar bank, alih-alih disalurkan menjadi kredit.

“Perbankan hanya mau main aman dengan kontribusi pendapatan yang sangat besar ditopang oleh penempatan dana di SBI dan fee based income,” ujar Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira.

Menurut dia, tren kenaikan penempatan dana di SBI mengindikasikan perbankan cenderung menghindari risiko penyaluran kredit ke sektor riil. Pada Juni lalu dana perbankan di SBI mencapai Rp102,29 triliun , naik tajam dari posisi Februari 2016 senilai Rp53,57 triliun.

Sedangkan pendapatan dari fee based income, berdasarkan data OJK pada Juni 2016 mencapai Rp129,11 triliun, naik dari level Rp105,18 triliun pada bulan sebelumnya. Sebelumnya, Ekonom Maybank, Juniman, juga mengatakan permintaan kredit dari sektor riil masih minim. Perbankan pun makin selektif menyalurkan kredit karena melihat risiko kenaikan nonperforming loans (NPL) atau kredit macet.

  • Baca juga: Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

Oleh karena itu, bank memilih menempatkan dananya ke Pasar Uang Antar Bank (PUAB) ketimbang menyalurkan ke sektor riil melalui kredit. Jika perekonomian tak kunjung membaik dan permintaan kredit dari swasta belum meningkat, pengetatan likuiditas perbankan diperkirakan bisa berkepanjangan. Hasilnya, likuiditas dana hanya berputar di antara bank dan tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi. BI pun merevisi pertumbuhan kredit tahun ini menjadi single digit dari proyeksi sebelumnya yang double digit.  

***

 
 
 
 
 
Sebelumnya

Panggung Fiskal yang Menantang

Selanjutnya

Pragmatisme versus Fungsi Intermediasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

oleh Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

oleh Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Apresiasi Nasabah Milenial, BNI Syariah Gelar Customer Online Gathering

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

oleh Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

oleh Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

oleh Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

oleh Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Potret Bankir Millenial dan Gen Z

    Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital

Gelar Pameran Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo 2026 Sabet Rekor MURI

Permodalan Negatif dan Gagal Penyehatan, OJK Cabut Izin Usaha BPR Citra Bersada Abadi

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Jaga Stabilitas Rupiah dari Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75%

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya

FWD Luncurkan Asuransi Jiwa Syariah Berbasis Digital

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance