• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Pragmatisme versus Fungsi Intermediasi

by Sandy Romualdus
24 November 2016 - 00:00
7
VIEWS
CIMB Niaga Bukukan Laba  Rp1,1 Triliun pada Kuartal I 2020
0
SHARES
7
VIEWS

SEBAGAI lembaga bisnis, perbankan tentu lebih memilih pragmatis dalam merespons perkembangan ekonomi. Apa yang kemudian dilakukannya atau dipilihnya sebagai strategi, tentu berlandaskan atas perhitungan untungrugi.

Akan tetapi pilihan strategi kebijakan untuk tahun ini lebih rumit. Pemerintah tahun ini mulai intensif menerbitkan surat utang negara untuk menambal defsit yang makin menganga. Padahal sejak tahun lalu Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla selalu mendesak bank untuk menurunkan suku bunga dan meningkatkan penyaluran dana.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bahkan Bank Indonesia sudah mengarahkan bunga bank agar terus melandai dengan memperkenalkan pendekatan baru bunga acuan melalui perubahan BI Rate menjadi 7 days (Reverse) Repo Rate. Dengan metode tersebut bunga acuan akan mereferensi bunga pasar yang ada di pasar uang antar bank. Harapannya, di tengah kecenderungan PUAB yang terus turun, bunga kredit juga turun. Lalu di mana kerumitannya? Di tengah kondisi ekonomi yang melemah, bank tentu dihantui oleh ancaman kredit macet karena sektor usaha pun ikut melempem. Di lain pihak, bank harus tetap mencetak laba dari pengelolaan dana nasabah yang meminta bunga deposito.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Menghadapi kondisi itu, perbankan tentu bermain aman, mencari sumber pembiayaan yang bisa menghasilkan tanpa harus khawatir berlebihan akan adanya risiko. Nah, ketika pemerintah menawarkan obligasi dengan pendapatan menggiurkan maka bank tentu tak perlu berpikir panjang untuk membelinya.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memang tengah gencar-gencarnya menerbitkan surat utang guna menutup defsit anggaran. Terbaru, pemerintah telah mengkonfrmasi aktiftas lelang Surat Utang negara (SUN) yang dilakukannya pada Selasa (11/10). Sebanyak lima seri SUN ditawarkan dengan nominal per unit sebesar Rp1 juta dan kisaran kupon antara 7 persen hingga 8,75 persen. Dari penawaran tersebut, pemerintah mengincar total dana terkumpul sebesar Rp12 triliun.

Secara keseluruhan, dengan defsit anggaran yang diperkirakan terus melebar hingga ke level 2,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), maka target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) bakal meningkat menjadi Rp654 triliun. Nilai tersebut memecahkan rekor sebagai angka tertinggi penerbitan SBN dalam setahun yang melebih angka Rp600 triliun.“Ini tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Kemenkeu, Loto Srianita Ginting.

Untuk menarik peminat dari surat utang yang diterbitkan, mau tidak mau pemerintah harus melakukan penawaran dengan imbal hasil (yield) yang menarik. Dengan kian menariknya yield yang ditawarkan, tak perlu analisis yang teramat panjang bagi bank untuk memutuskan membelinya.

Menurut Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, perbankan akan lebih tertarik menempatkan dananya di SUN ketimbang harus berjibaku dengan kinerja kredit yang bunganya rendah plus risiko tinggi. Aktiftas pengucuran kredit perbankan dewasa ini kian berisiko lantaran dibayangi oleh tingginya potensi kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dan juga fasilitas kredit tak terserap (undisbursed loan). Ketimbang harus mengambil risiko cukup tinggi dengan mengucurkan kredit di tengah perekonomian yang sedang tak menentu (volatile), menempatkan dana di SUN bisa jadi solusi paling realistis dan aman bagi kalangan perbankan.

Kondisi tersebut dinilai juga kontraproduktif terhadap upaya otoritas menekan suku bunga perbankan.“Sederhana saja. Bagaimana mungkin bunga (bank) bisa ditekan turun kalau di lain pihak (bunga) SUN yieldnya tinggi?” ujar Bhima.

Berdasarkan hasil data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 14 September 2016 lalu, NPL perbankan nasional pada Juli 2016 tercatat sebesar 3,18 persen. Posisi tersebut melonjak dari posisi Mei 2016 yang sebesar 3,11 persen, padahal angkanya sempat turun ke level 3,05 persen pada Juni 2016 lalu. Lonjakan NPL seiring dengan melambatnya pertumbuhan kredit dari 8,89 persen (year on year/yoy) pada Juni 2016 menjadi hanya 7,74 persen (yoy) pada Juli 2016.

Sedangkan untuk undisbursed loan, OJK mencatat hingga Juli 2016 ada fasilitas kredit mencapai Rp1.245 triliun yang belum dicairkan oleh nasabah kredit. Nilai tersebut tumbuh sekitar 4,31 persen (yoy) dibanding catatan undisbursed loan dari bulan sebelumnya.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Tingginya catatan undisbursed loan sebagian besar dikontribusi dari kelompok bank BUKU III dan BUKU IV yang secara gabungan mencapai 92,45 persen dari total nilai undisbursed loan yang ada. Tak hanya itu, bankbank BUKU III dan BUKU IV juga mencatatkan pertumbuhan undisbursed loan paling tinggi, yaitu 11,48 persen dan 13,32 persen secara tahunan.

Main Aman

Dengan beragam catatan di atas, bisa disimpulkan bahwa kinerja kredit perbankan saat ini penuh dengan tantangan. Maka wajar bila secara bisnis perbankan memilih menempatkan dananya secara lebih aman dan menguntungkan di instrumen SUN. Pihak bank pun tak menampik adanya peralihan strategi penempatan dana seiring dengan berubahnya kondisi pasar tersebut. “Bisa jadi memang seperti itu (ada peningkatan kepemilikan SUN),” ujar Vice President Syndication Business Unit PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Dedi Priambodo.

Namun Dedi menegaskan, kalau pun memang terbukti adanya peningkatan kepemilikan perbankan terhadap SUN, hal tersebut semata-mata merupakan upaya diversifkasi portofolio sebagai bagian dari strategi pengelolaan dana.

Bagaimanapun, perbankan sebagai lembaga yang mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk Dana Pihak Ketiga (DPK) dikatakan Dedi tentu memiliki strategi-strategi khusus guna menghasilkan marjin untuk dibayarkan kembali pada nasabah sebagai bunga simpanan. Upaya diversifkasi portofolio tersebut, menurut Dedi, bersifat otonom dan terpisah dari kebijakan pengucuran kredit.“Itu dua hal yang berbeda.

Divisinya saja berbeda,” tukas Dedi. Menyikapi hal tersebut, Bhima

menyatakan bahwa memang perbankan tidak seharusnya memilih ‘bermain aman’ dengan mengalihkan alokasi penyaluran kreditnya untuk ditempatkan di SUN. Di tengah kondisi pasar dan perekonomian yang memang sedang kurang kondusif, menurut Bhima, perbankan harus tetap mempertahankan fungsi intermediasinya dengan menjaga kinerja penyaluran kreditnya terus berjalan.

Hal tersebut penting dilakukan agar roda perekonomian nasional juga tetap terus bergulir.Bila perbankan mau mempertahankan komitmennya dalam penyaluran kredit, Bhima meyakini masih ada sektor-sektor usaha yang cukup prospektif di tengah perekonomian yang kurang kondusif seperti saat ini. “Kalau bank mau, mereka bisa kok memilah-milah lagi tujuan kredit berdasarkan sektornya.

Pertambangan memang harus dihindari. Tapi perikanan, misalnya, pertumbuhannya bagus. Mereka harus pertahankan (pengucuran) kredit ke sektor-sektor semacam itu,” kata Bhima.

  • Baca juga: Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

Jadi kalau mau sedikit repot dalam menganalisis sektor kredit lebih dalam, bank bisa tetap mengucurkan kredit ke sektor yang masih menguntungkan. Pragmatis namun tetap menjaga citra sebagai lembaga intermediasi.  

***

 
 
 
 
 
Previous Post

Korban Ketidaksinkronan Kebijakan

Next Post

Policy Mix yang Belum Mix

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

by Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post

FWD Luncurkan Asuransi Jiwa Syariah Berbasis Digital

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance