Stabilitas.id – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat tantangan besar dalam inklusi keuangan nasional, di mana sebanyak 15,3 juta penduduk usia produktif (15–69 tahun) terpantau belum memiliki rekening bank pada 2025. Angka ini menjadi fokus utama LPS dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk diperkecil pada tahun ini.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menjelaskan bahwa jumlah warga produktif yang belum tersentuh layanan perbankan tersebut setara dengan 5,31% dari total penduduk. Secara akumulatif di seluruh kategori usia, total penduduk Indonesia yang belum memiliki rekening (unbanked) mencapai 49,7 juta jiwa.
“Kami menaruh perhatian pada usia produktif yang seharusnya sudah memiliki rekening sendiri. Ini akan menjadi sasaran utama kami bersama OJK,” ujar Anggito dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (9/4/2026).
BERITA TERKAIT
Dukungan Penyaluran Bantuan Pemerintah
Anggito menekankan bahwa percepatan kepemilikan rekening ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya adalah memastikan efisiensi dalam penyaluran program bantuan pemerintah, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT).
“Arahan Bapak Presiden adalah agar semua warga memiliki rekening bank. Dengan begitu, bantuan bisa langsung diterima oleh masyarakat tanpa melalui tangan kedua atau ketiga, sehingga lebih transparan,” tambahnya.
Rincian Data Penduduk Unbanked (2025):
-
Usia Produktif (15–69 tahun): 15,3 juta jiwa.
-
Usia Anak (5–14 tahun): 33,6 juta jiwa (umumnya bergantung pada rekening orang tua).
-
Usia Lansia (70–74 tahun): 0,799 juta jiwa.
Waspadai Kenaikan Rekening Dormant
Di sisi lain, LPS juga menyoroti tren kenaikan jumlah rekening tidak aktif atau dormant yang tumbuh sebesar 9,23% secara tahunan (year-on-year). LPS menilai tingginya angka rekening pasif ini perlu diantisipasi oleh industri perbankan karena memiliki risiko keamanan data dan potensi disalahgunakan untuk tindak kejahatan keuangan.
LPS terus mendorong perbankan nasional untuk lebih aktif melakukan sosialisasi dan edukasi, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki penetrasi perbankan rendah. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah nasabah baru, tetapi juga memastikan rekening yang telah dibuka tetap aktif digunakan sebagai sarana transaksi keuangan yang produktif. ***






.jpg)










