Mandiri Sekuritas memproyeksikan yield obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB) 10 tahun mencapai 6,8%–7,0% pada akhir 2026, didukung resiliensi ekonomi domestik dan penurunan tekanan biaya pendanaan.
Stabilitas.id — Pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dinilai memiliki daya tahan (resilience) yang cukup solid di tengah ketidakpastian pasar keuangan global akibat kebijakan suku bunga higher-for-longer dari Federal Reserve dan lonjakan yield US Treasury.
PT Mandiri Sekuritas memproyeksikan yield obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB) tenor 10 tahun akan melandai ke kisaran 6,8% hingga 7,0% pada akhir tahun 2026.
Dalam paparan Bond Market Outlook yang dirilis Mandiri Sekuritas, Kamis (3/9/2026) menunjukkan bahwa kendati pasar global dibayangi penurunan pertumbuhan ekonomi dan risiko inflasi tinggi, fundamental makroekonomi Indonesia tetap solid.
BERITA TERKAIT
Pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026 yang mencatatkan angka 5,29% (yoy) berada di atas konsensus pasar sebesar 5,10%, mendorong perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,3% pada 2026 dan 5,4% pada 2027.
Peralihan Kebijakan Moneter dan Likuiditas Domestik
Di tengah lonjakan yield US Treasury 30 tahun yang sempat menyentuh level 5,34%—tertinggi sejak 2007—Bank Indonesia (BI) memilih untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga. Setelah menaikkan BI Rate secara kumulatif sebesar 100 bps hingga berada di level 5,75%, BI kini mengalihkan fokus pada insentif FX hedging dan penyediaan likuiditas.
Kondisi likuiditas perbankan domestik, khususnya bank BUMN, mencatatkan perbaikan signifikan setelah pemerintah membatalkan rencana penarikan Saldo Anggaran Lebih (SAL). Hal ini berdampak langsung pada penurunan biaya pendanaan (funding cost), terbukti dari hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) per 28 Agustus 2026 di mana rata-rata tertimbang yield turun 37 bps menjadi 6,99% dan yield tenor 1 tahun merosot ke 7,00%.
Struktur Investor Bergeser, Kepemilikan Asing Menyusut
Pasar SBN kini kian didorong oleh kekuatan investor domestik, yang secara efektif mengurangi kerentanan pasar terhadap pelarian modal asing (capital outflows). Kepemilikan asing pada obligasi pemerintah melandai signifikan hingga menyentuh porsi 13,0% dari total outstanding.
- Divergensi Arus Modal: Sepanjang tahun berjalan (YTD), instrumen SRBI mencatatkan arus modal masuk asing (inflow) masif melampaui Rp200 triliun, sedangkan pasar saham domestik menghadapi tekanan pelepasan aset (outflow) yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 23,8% YTD.
- Posisi Ketahanan (Vulnerability Index): S&P mempertahankan peringkat utang Indonesia pada BBB/Stable. Indonesia juga mencatatkan indeks kerentanan yang lebih baik dibanding negara emerging markets sejawat seperti India, Brazil, dan Turki, didukung oleh nilai real policy rate positif sebesar 2,6% serta kecukupan cadangan devisa.
Rekomendasi Investasi dan Prospek Yield
Mandiri Sekuritas menilai tingkat yield SBN pada kisaran 7,5%–7,7% merupakan titik masuk (entry point) yang sangat menarik bagi investor jangka panjang untuk memanfaatkan attractive carry dan potensi capital gain.
Meski demikian, volatilitas jangka pendek diprediksi masih akan berlanjut. Risiko utama pasar obligasi domestik tetap bersumber dari ketegangan geopolitik yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah, dinamika nilai tukar Rupiah—yang diproyeksikan berada pada rata-rata Rp17.600 per USD di tahun 2026—serta kredibilitas pengelolaan kuota penerbitan SBN oleh pemerintah.***















