Pasar modal Indonesia yang sudah ada sejak awal abad ke-20, dinilai belum juga menghasilkan pertumbuhan dan peningkatan perdagangan yang signifikan. Sempat vakum pada tahun 1956 – 1977, dan dibuka kembali Agustus 1977, hingga kini pasar yang bernama Bursa Efek Indonesia masih kalah dari India, yang baru buka tahun 1992.
Bursa masih dianggap ‘dunia yang lain’ bagi sebagian besar masyarakat. Survei dari Otoritas Jasa Keuangan November tahun lalu membuktikannya. Menurut data yang telah diambil dari lebih 8 ribu responden dari seluruh Indonesia disimpulkan bahwa hanya 3,79 persen masyarakat yang paham akan keberadaan pasar modal.
Selebihnya, sebanyak 93,79 persen masyarakat Indonesia masih tergolong tidak paham tentang pasar modal. Artinya dari setiap 100 orang penduduk terdapat 94 orang yang tidak mengenal tentang pasar modal.
BERITA TERKAIT
Rendahnya Indeks Literasi masyarakat terhadap pasar modal juga diikuti dengan rendahnya Indeks Utilitas Produk dan Jasa lembaga itu, yang menunjukkan hanya 1 orang dari setiap 1.000 penduduk yang menggunakan produk dan jasa pasar modal. Soal ini diakui Sujadi Darmotinojo. Head of Retail Capital Danareksa Sekutitas ini mengatakan, jumlah investor lokal di pasar modal masih minim dibandingkan total penduduk Indonesia. “Saat ini, masyarakat masih enggan berinvestasi karena kurangnya pengetahuan dan wawasan tentang instrumen di pasar modal,” papar Sujadi.
Sujadi juga menyebut, di Indonesiabanyak masyarakat kaya yang belum terjangkau oleh perusahaan-perusahaan sekuritas, selain juga keengganan mereka untuk menempatkan dananya di pasar modal. Ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat enggan berinvestasi di pasar modal. “Salah satunya adalah kurangnya pengatahuan dan wawasan tentang instrumen investasi seperti saham serta reksa dana,” tuturnya.
Bahkan tahun lalu, keengganan itu makin memuncak ketika bursa saham luruh akibat isu dihentikannya program stimulus ekonomi AS. Hengkangnya dana-dana asing di portofolio membuat indeks saham melorot nyaris separo dari nilai sebelumnya.
Selain itu, investor lokal yang ada juga menambah tekanan itu dengan ikut-ikutan menarik dananya. Kondisi ini yang menambah tekanan pada indeks. “Ini yang menyebabkan kejatuhan indeks saham itu tajam sekali. Seperti dialami saham perbankan dan pertambangan,” tuturnya.
Jumlah investor lokal saat ini masih sangat sedikit jika dibandingkan mereka yang membawa uang dari luar negeri. Namun meski porsi investor asing di pasar modal hanya 10 persen, mereka menguasai transaksi di pasar modal lebih dari 60 persen. “Volume mereka besar, makanya kami ingin investor pemula masuk ke pasar modal,” ungkap Sujadi.
Untuk itu, Danareksa Sekuritas bersama BEI berencana membuka kantor perwakilan di beberapa daerah di Indonesia. Tujuan pendirian kantor tersebut untuk memberikan edukasi dan tambahan wawasan tentang pasar modal.
Pengamat ekonomi dari Universitas Bandarlampung, Erwin Oktavianto mengapresiasi niat beberapa pihak yang ingin menyosialisasikan pasar modal ke daerah, termasuk Lampung. Erwin memperkirakan, baru sekitar 30 persen masyarakat Lampung yang mengenal pasar modal. “Artinya, masih ada 70 persen masyarakat Lampung yang paham belum paham tentang pasar modal. Yang mengenal pun hanya sekedar tahu tanpa berinvestasi,” jelas Koordinator Penelitian Ekonomi Wilayah di Pusat Studi Kota dan Daerah (PSKD) Universitas Bandarlampung.
Sejauh ini, masyarakat Lampung lebih mengenal investasi usaha dan emas. Sementara investasi di bidang pasar modal belum begitu familiar. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat. Sebab, selama ini BEI hanya berkutat terhadap satu golongan atau sektor pendidikan tinggi. “Sosialisasinya masih sangat kurang, apalagi untuk masyarakat menengah ke bawah. Jadi, tidak heran jika banyak yang tidak mengenal pasar modal,” ujarnya.
Dia berharap ke depan BEI bisa menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah, guna melakukan sosialisasi ke daerah-daerah Kabupaten. Dengan begitu, masyarakat akan semakin tahu dan dimungkinkan jumlah investor akan bertambah.
“Selain itu, BEI juga harus memperbanyak kantor-kantor cabangnya, tidak hanya di perkotaan tapi juga di daerah kabupaten. Karena aspek pasar modal ini tidak akan bermafaat jika tidak terekspos dengan baik,” paparnya.
Suara dari Lampung itu, sangat mungkin juga keinginan dari wilayah Indonesia yang lain. Untuk itu sejak pertama kali ditugaskan menjadi pengawas industri pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah berniat untuk menggencarkan investasi lewat pasar modal.
Peran Otoritas
Pada Agustus 2013 lalu, OJK sudah melakukan grand launching sebuah gerakan cinta terhadap pasar modal. Tujuannya untuk mendorong pertumbuhan pasar modal di Indonesia dan mampu memperkenalkan pasar modal lebih mendalam lagi kepada masyarakat.
Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad menilai, saat ini pasar modal memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional. OJK sendiri juga telah berupaya agar pasar modal menjadi alternatif pendanaan yang bisa diakses oleh masyarakat, dimana hal tersebut guna mendorong perekonomian Indonesia.
“Kita berharap dengan adanya grand launching Gerakan Cinta Pasar Modal dan Temu Calon Perusahaan Emiten, pasar modal kita berkembang lebih lanjut ke next level,” ujar Muliaman.
Dengan kalimat yang lebih ringkas, otoritas pasar modal ingin masyarakat tidak lagi menganggap pasar modal sebagai tempat yang ‘wah’ yang hanya dijangkau oleh segelintir orang. Karena itu pula, seperti yang diinginkan OJK, akan makin banyak akses masyarakat untuk berinvestasi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Selain memperbanyak emiten, pelaku pasar modal yang ada juga diharapkan untuk memperbanyak produk dan layanan yang makin inklusif terutama untuk investor lokal dan ritel. Hingga September 2013 emiten di pasar modal Indonesia masih sangat minim hanya 479 emiten. Di Thailand sudah mencapai 577, Singapura 782 emiten, Malaysia 909, dan Hong Kong 1.585. Sementara India sudah melesat jauh di angka 5.267 emiten pasar modal.
“Pasar modal Indonesia masih sangat minim dibanding negaranegara lain. Oleh karena itu per meningkatkan market kita dari size maupun jenis produknya,” kata Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK Nurhaida.
Dia mengakui, saat ini produkproduk yang tersedia di pasar modal juga terbatas sehingga hal tersebut menjadi salah satu sebab pasar Indonesia bergantung terhadap investor asing. “Perlu kerjasama seluruh pelaku industri. Produk-produk yang tersedia di pasar modal juga terbatas, yang berkembang saham, bond lumayan, reksa dana masih ada, derivatif minim jadi dengan adanya keterbatasan produk yang ada itu kemudian pasar kita sangat sensitif terhadap foreign investor,” kata Nurhaida.
Otoritas jelas sangat ingin merangkul lebih banyak investor lokal untuk masuk ke bursa. Pasalnya, kondisi minimnya investor lokal akan sangat berbahaya buat sektor keuangan Indonesia terutama saat batas negara sudah makin absurd dan hilang jika berhadapan dengan pemilik dana.
Dalam waktu setahun ke depan Indonesia akan menghadapi pasar bebas karena terintegrasinya ekonomi dalam kerangka ASEAN Economic
Community. Menurut Nurhaida, untuk memenangi persaingan ASEAN, pasar modal Indonesia harus dapat memiliki kesetaraan tingkat dalam semua segi dengan negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Untuk menyiasati hal tersebut, OJK bersama dengan self regulatory organizations (SRO) terus melanjutkan pengembangan infrastruktur pasar
modal sebagai upaya pembenahan berkelanjutan dan integrasi dengan sektor lain.
Nurhaida juga menegaskan, OJK akan menerbitkan road map tata kelola perusahaan yang baik (GCG) untuk seluruh emiten agar pasar modal Indonesia berkembang lebih baik di masa depan. “Hal ini penting karena mempengaruhi persepsi investor,” ucapnya.
Selain itu, dalam menyikapi tantangan ke depan, OJK dan BEI mengajak perusahaan-perusahaan tertutup (belum masuk bursa) untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan. Nurhaida mengatakan, pihaknya akan melakukan kerjasa dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin dan Kadinda) untuk mendorong jumlah perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
“Pada 2014 OJK memiliki program, yakni kita akan mengundang 100 perusahaan yang memiliki prospek untuk IPO bekerja sama dengan Kadin
dan Kadinda agar jumlah emiten di pasar modal bertambah,” jelas dia. OJK juga akan melakukan diskusi dan presentasi kepada calon emiten mengenai manfaat melakukan IPO bagi perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.
“Dalam rangka mencapi tujuan itu, OJK dan BEI telah melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan Kadin dan tiga perusahaan efek (PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas) untuk mendiskusikan permasalahanpermasalahan yang dihadapi para calon emiten potensial untuk masuk ke pasar modal,” tuturnya.















