• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Jumat, Agustus 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Advetorial

Menanti Harmonisasi Sesungguhnya

oleh Sandy Romualdus
7 Februari 2014 - 00:00
15
Dilihat
Melewati Tahun Gejolak
0
Bagikan
15
Dilihat

Masa lalu memang tak bisa diubah, tetapi ia seharusnya menjadi cermin yang merefleksikan apa yang kurang sehingga bisa diperbaiki. Tahun 2013 yang sudah lewat menyisakan catatan yang kurang apik mengenai harmonisasi para pemangku kebijakan dalam menghadapi perekonomian.

Tak sedikit pihak –terutama mereka yang berasal dari kalangan pengamat, menilai bahwa Bank Indonesia yang terlihat ‘habis-habisan’ menjaga perekonomian. Bank sentral dinilai yang hampir selalu merespons kondisi ekonomi terutama ketika gunjang-ganjing di sektor keuangan. Meski begitu, dampak kebijakan itu sangat terbatas karena BI hanya bisa memberikan intervensi di sektor moneter. Sedangkan pemerintah yang menguasai sisi fiskal dinilai hanya reaktif saja, yang seringkali malah terlambat.

  • Baca juga: Bank Kalteng: Membangun Fondasi Masa Depan, Menjadi Bank Kebanggaan

Namun tanpa mengecilkan kebijakan yang ditelurkan, pemerintah setidaknya sudah mengeluarkan kebijakan yang cukup berarti meskipun dampaknya memerlukan bukti nyata di lapangan.

BERITA TERKAIT

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Pemerintah telah menerbitkan dua aturan baru dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK), sebagai upaya meredam impor dan mendorong volume ekspor guna merespon tekanan pada defisit neraca perdagangan secara keseluruhan.

Peraturan pertama adalah terkait pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 impor, sebagai upaya untuk meredam impor barang-barang tertentu, dengan menyesuaikan tarif pemungutan dari semula 2,5 persen menjadi 7,5 persen.

Kriteria impor barang tertentu yang menjadi sasaran pengenaan tarif PPh pasal 22 impor adalah bukan barang yang digunakan untuk industri dalam negeri, barang konsumtif dengan nilai impor signifikan dan tidak memberikan dampak terhadap inflasi.

Selain itu, pemerintah juga menerbitkan peraturan untuk mendorong ekspor, memperkuat daya saing perusahaan dan meningkatkan investasi dengan menyederhanakan prosedur, menerapkan risk management dan optimalisasi otomasi terkait fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

  • Baca juga: PT BANK ACEH SYARIAH : Menjadi Bank Terkemuka dalam Membangun Serambi Mekkah

Pokok-pokok kebijakan yang mengalami perubahan digolongkan dalam penambahan jenis insentif fiskal serta kemudahan di bidang perijinan dan pelayanan fasilitas KITE melalui berbagai penyederhanaan persyaratan dan penerapan otomasi.

Perubahan dalam bidang fiskal terkait KITE yaitu fasilitas pembebasan yang sebelumnya industri hanya mendapatkan fasilitas bebas bea masuk, saat ini juga mendapatkan fasilitas bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM).

PMK terkait PPh pasal 22 impor akan berlaku efektif 30 hari sejak tanggal diundangkan atau awal Januari 2014, sedangkan PMK terkait fasilitas KITE dipastikan berlaku efektif sejak 60 hari sejak tanggal diundangkan atau awal Februari 2014.

Namun demikian, baik kebijakan moneter maupun fiskal yang sudah dikeluarkan regulator bukanlah akhir dari upaya menjaga perekonomian. Tahun ini tantangan masih akan datang dari ekonomi global terutama dari pemerintahan AS. Ekonomi AS masih akan dihinggapi masalah anggaran yang dalam lima tahun terakhir telah menjadi bahaya laten bagi perekonomian dunia.

Selain itu, di dalam negeri, Indonesia menghadapi peristiwa politik yang amat penting yaitu pemilihan umum. Tak pelak keduanya akan menjadi ujian lebih lanjut bagi kekompakan dua otoritas.

Akan tetapi sebelum pemerintahan baru terbentuk, tampaknya bank sentral kembali akan menjadi pihak yang menguasai panggung ‘perekonomian’. Artinya kebijakan moneter kemungkinan besar akan lebih berperan mengarahkan perekonomian di saat kebijakan fiskal masih mencari ‘sang empunya’ yang baru.

  • Baca juga: Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,50%

Namun dengan prediksi pertumbuhan ekonomi sekitar 5,7 sampai 5,8 persen di tahun 2014, Indonesia masih akan tetap menarik sebagai tempat investasi buat investor global. Apalagi bila pemilu dapat berjalan lancar seperti lima tahun lalu.

Dan setelah itu, harmonisasi yang sesungguhnya dari sisi moneter dan fiskal seharusnya sudah mulai terlihat.

 
 
 
 
 
Sebelumnya

Skandal Ekonomi Dalam Bingkai Fiksa

Selanjutnya

BTN Cetak Laba 2013 Rp1,56 triliun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank Kalteng: Membangun Fondasi Masa Depan, Menjadi Bank Kebanggaan

Bank Kalteng: Membangun Fondasi Masa Depan, Menjadi Bank Kebanggaan

oleh Sandy Romualdus
15 Juni 2025 - 09:57

Bank Kalteng terus mengoptimalkan kekuatan lokal untuk meningkatkan daya saing di tingkat nasional dan bahkan global. Untuk  mewujudkan tujuan menjadi...

PT BANK ACEH SYARIAH : Menjadi Bank Terkemuka dalam Membangun Serambi Mekkah

PT BANK ACEH SYARIAH : Menjadi Bank Terkemuka dalam Membangun Serambi Mekkah

oleh Sandy Romualdus
28 Agustus 2023 - 13:22

Bank Aceh Syariah terus melakukan perubahan demi membangun ekonomi di Bumi Serambi Mekkah. Setelah berhasil melakukan transformasi digital, manajemen bank...

Gubernur BI Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,50%

oleh Stella Gracia
25 Mei 2021 - 16:11

JAKARTA, Stabilitas.id -- Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate pada level 3,5...

OVO dan Bosowa Taksi Jalin Kerja Sama Pembayaran Digital

OVO dan Bosowa Taksi Jalin Kerja Sama Pembayaran Digital

oleh Admin Stabilitas
13 Februari 2019 - 00:00

Mengukuhkan diri sebagai platform pembayaran digital terdepan, OVO jalin kemitraan dengan penyedia jasa transportasi terkemuka di Makassar.

Bank Ganesha Raih Rekor Muri

Employee Engagement: Program yang Membahagiakan

oleh Sandy Romualdus
25 April 2017 - 00:00

Ejob description semata.Para karyawan yang termasuk turn over) menurun secara signifkan.Harvard

Tantangan Perbankan 2017

Tantangan Perbankan 2017

oleh Sandy Romualdus
24 April 2017 - 00:00

P) perekonomian China mungkin tidak dapat dihindari. Pasalnya, selain pertumbuhan ekonomi yang melam

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Potret Bankir Millenial dan Gen Z

    Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital

Gelar Pameran Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo 2026 Sabet Rekor MURI

Permodalan Negatif dan Gagal Penyehatan, OJK Cabut Izin Usaha BPR Citra Bersada Abadi

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Jaga Stabilitas Rupiah dari Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75%

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
BTN Incar Kredit Rp26 Triliun

BTN Cetak Laba 2013 Rp1,56 triliun

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance