• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Kamis, Mei 21, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Laporan Utama

Mengusik Tapi Tak Mencabik

oleh Sandy Romualdus
8 Desember 2014 - 00:00
11
Dilihat
Mengusik Tapi Tak Mencabik
0
Bagikan
11
Dilihat

Pelaku pasar modal adalah pihak-pihak yang selalu wellinformed terhadap apapun isu yang dinilai bisa berpengaruh terhadap instrumen-instrumen investasi. Maka dari itu, ketika akhir-akhir ini publik mengetahui bahwa ada isu normalisasi kebijakan AS karena perekonomiannya membaik, sejatinya orang-orang pasar modal sudah mengetahui terlebih dulu.
Oleh karena itu pemain-pemain di pasar modal yang kebanyakan investor asing sudah pasang kuda-kuda terhadap segala kemungkinan yang bisa membuat dana-dananya susut. Tak heran, di pasar modal dalam beberapa bulan terakhir dana-dana asing selalu hilir mudik dengan kecenderungan menyusut. Malah dalam dua bulan terakhir investor asing banyak melepas saham-saham yang dimilikinya hingga mencapai Rp8 triliun, menurut data dari sebuah perusahaan sekuritas, dan diperkirakan akan menyentuh Rp11 triliun hingga akhir Oktober.
Semua itu erat hubungannya dengan rencana bank sentral AS yang ingin menghentikan program stimulus ekonomi yang sudah berjalan lima tahun belakangan. “Kami lihat rencana gubernur bank sentral AS atau The Federal Reserve mengakhiri program Quantitative Easing III yang menyisakan 15 miliar dollar AS pada 28 Oktober mendatang menyinyalir ekonomi AS menguat, investor asing bisa menarik dananya keluar dari pasar Indonesia,” kata Analis First Asia Capital David Sutyanto.
Selain mengantisipasi perubahan fundamental perekonomian AS, lanjut dia, investor asing juga mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam melakukan net sell. Kenaikan harga BBM dikabarkan akan dieksekusi pada November ini dengan kenaikan Rp 3.000 per liter, atau setara Rp21 triliun penghematan APBN.
“Kalau BBM naik, pasar modal baik saham maupun obligasi akan terimbas, dan baru recover (pulih) setelah tiga sampai enam bulan, investor asing sudah mengantisipasi ini dengan melakukan net sell,” kata David.
Kondisi itu tak pelak membuat likuiditas di pasar modal menjadi lebih ketat dari sebelumnya. Dalam teori manajemen risiko, ada dua tipe risiko likuiditas. Pertama yang berasal dari likuiditas di pasar dan kedua yang berasal dari likuiditas pendanaan.
Pemulihan ekonomi AS juga bakal membuat The Fed segera menaikkan suku bunga, setelah dana stimulus hampir dipastikan dalam waktu dekat tidak lagi digelontorkan. Dua rencana itu hampir bisa dipastikan akan membuat dana-dana di sejumlah emerging market, termasuk Indonesia berbalik arah menuju Negeri Paman Sam.
Dengan skenario itu, kenaikan suku bunga bakal memacu arus modal kembali ke AS, sehingga membuat nilai tukar dollar AS terapresiasi. “Itu yang mesti diwaspadai, sekalipun saya yakin ekonomi kita tergolong cukup kuat untuk mengantisipasinya,” kata ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri.
Akan tetapi, mantan calon Gubernur DKI itu mengatakan bahwa kenaikan suku bunga The Fed tidak akan meruntuhkan atau mengeringkan likuiditas di pasar modal. Masih kompetitifnya return instrumen-instrumen investasi di Indonesia dibandingkan dengan yang ada di AS tidak akan membuat investor lari. “Bunga di Amerika 1,375 persen naik jadi 3 persen. Tidak mungkin uang orang Amerika di Indonesia bakal lari atau kembali ke sana. Return goverment bond di Indonesia 6,5 persen, masa jual terus beli yang 3 persen? Terus return pasar saham 23 persen, return pasar saham di AS sebesar 3,5 persen?,” kata Faisal.
Keyakinan itu segendang sepenarian dengan yang dimiliki otoritas pasar modal. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito menilai, kebijakan The Fed tak banyak berdampak pada investor pasar modal. Menurutnya, pemerintah hanya perlu memperbaiki kebijakan terutama masalah perizinan agar investor mau menanamkan modalnya di Indonesia.
“Kami tidak melakukan antisipasi terkait kebijakan The Fed. Kami tidak peduli dengan kebijakan The Fed. Kami lebih fokus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait industri pasar modal ketimbang memikirkan kebijakan The Fed. Justru kebijakan pemerintah itu yang berpengaruh ke investor,” ujar Ito, usai acara Investor Summit 2014, September lalu.
Ketidakkhawatiran Ito terhadap dampak The Fed, juga karena kepercayaan investor masih tinggi terhadap perekonomian Indonesia. Terlihat dari aliran dana masuk sebesar Rp54 triliun sepanjang tahun ini ke pasar modal.
Managing Partner PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe memproyeksi, dengan stabilitas dan kepastian politik, IHSG akan menggapai level resisten pada kisaran 5.100-5.200. Bahkan, dengan catatan seandainya BBM naik pada November 2014, IHSG bisa terdorong ke level psikologis 5.500 sehingga menjadi modal yang kuat menahan sentimen dari kebijakan The Fed. Pada akhir bulan lalu, indeks saham berada di level 5.100 setelah beberapa hari sebelumnya terus melemah pasca pengumuman kabinet pemerintah baru.

Pada triwulan ketiga tahun ini tepatnya pada Agustus, dana-dana asing juga sempat hengkang dan merontokkan bursa hingga indeks saham terkapar di level 4.000. Saat itu, berdasarkan catatan BI, total dana asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi sepanjang Juni mencapai 4,1 miliar dollar AS, setara dengan hampir seluruh modal asing yang masuk sepanjang Januari-Juni 2013. Akibat terpuruknya indeks, nilai tukar rupiah pun ambrol hingga melewati level Rp11.000 per dolar AS.

Pasar Obligasi Bergeming

Di pasar obligasi, otoritas juga optimistis bahwa langkah The Fed yang akan menaikkan suku bunga acuan tak akan mempengaruhi pasar obligasi di Indonesia. Dirut BEI Ito Warsito mengatakan bahwa pengaruh kenaikan suku bunga The Fed tidak akan berpengaruh besar terhadap penerbitan obligasi korporasi di Indonesia. Dia berpendapat, justru pertumbuhan penerbitan obligasi korporasi di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat suku bunga di Indonesia.
“Sebetulnya pertumbuhan penerbitan obligasi korporasi Indonesia lebih banyak terpengaruh oleh tingkat bunga di Idonesia sendiri. Baik dalam bentuk obligasi dalam mata uang dollar maupun BI Rate,” jelas Ito.
Pernyataan itu kali ini diamini oleh sebagian analisis pasar modal, salah satunya Reza Priyambada. Analis dari Woori Korindo ini menilai, situasi global yang masih belum menentu baik ekonomi Jepang, China dan Eropa tidak membuat pasar obligasi domestik jatuh. Itu tercermin dari obligasi pemerintah yang menjadi benchmark yaitu FR0068 yang memiliki jatuh tempo 20 tahun yang mengalami kenaikan 249,05 bps.
Reza menuturkan, pelaku pasar masih memiliki optimisme yang cukup tinggi, sehingga laju pasar obligasi Indonesia masih dalam tren positifnya.
Sementara itu, pejabat dari Asian Development Bank (ADB), memiliki pendapat berbeda soal pengaruh normalisasi kebijakan AS terhadap harga dan pasar obligasi dalam negeri. Banyaknya pemain asing dalam instrumen ini memunculkan ancaman bagi pasar obligasi. Indonesia adalah negara dengan investor asing terbanyak di pasar surat utang di kawasan Asia Tenggara, nomor duanya adalah Malaysia.
Ancaman susutnya dana di pasar obligasi menurut Kepala Kantor Integrasi Regional ADB, Iwan Jaya Azis, menjadi kesempatan otoritas untuk meningkatkan investor lokal. “Yang bisa dilakukan Indonesia adalah mengalihkan investor dari luar negeri ke dalam negeri atau memperbesar pemain domestik di bond
market,” kata dia.
Peraih Ph.D dari Cornell University ini mengatakan, rencana tapering off AS yang muncul tahun lalu juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi
pasar obligasi di Indonesia. Kondisi ini pun, tidak bisa dikendalikan karena hal tersebut merupakan kebijakan yang tidak bisa diubah Indonesia.
Ekonom The Royal Bank of Scotland, Vaninder Singh meyakini, kenaikan suku bunga The Fed, yang diwacanakan terjadi pada awal 2015, tidak akan serta merta mendorong investor melarikan modalnya secara besar-besaran. Hal itu, karena pasar dan regulator sudah melakukan penyesuaian dan bersiap dengan
bauran kebijakan untuk mengantisipasi pembalikan arus investasi. “Investor masih ingin berinvestasi di obligasi Indonesia. Dan yang menolong valuasi nilai mata uang,”katanya.
Dia menilai, Bank Indonesia akan mempertahankan kebijakan moneter ketat. Setidaknya hingga pertengahan 2015. Pasalnya, BI perlu mempertimbangkan potensi penyesuaian kebijakan oleh pemerintah baru dan besaran defisit transaksi berjalan. Suku bunga acuan Bank Sentral yang dipatok 7,5 persen, menurut Singh, juga tepat masuk dalam upaya BI untuk menjaga sasaran inflasi, serta likuiditas pasar keuangan agar tetap baik.
Dia juga menilai, peringatan dan penyesuaian yang sudah dilakukan BI, OJK dan pelaku pasar tentang rencana kenaikan suku bung The Fed, diperkirakan mampu meminimalisasi risiko pembalikan arus modal.
Dibandingkan dengan kebijakan The Fed untuk pengurangan stimulus (tapering off) pada pertengahan 2013 yang secara tibatiba, Singh mengatakan, saat ini pasar sudah waspada dan diperkuat dengan kebijakan moneter dan regulator. Dia optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus stabil dikisaran Rp11.400-Rp11.900 hingga akhir 2014. Salah satunya karena ditopang tingginya minat investor terhadap obligasi negara.

BERITA TERKAIT

Lampung Masuk 10 Besar Investor Terbanyak, OJK Ingatkan Rumus 2L Atasi Investasi Bodong

Aset Konsolidasi Tembus Rp168,85 Triliun, KUB Bank Jatim Gerbang Aliansi Ekonomi Lintas Daerah

Kuartal I/2026: Aset BPD Tembus Rp1.036 Triliun di Tengah Evaluasi Ketat KUB oleh OJK

Kinerja Kuartal I/2026 Melesat: Laba Sebelum Pajak Krom Bank Meroket 99%

 
 
 
 
Sebelumnya

IBS Luluskan 143 Sarjana

Selanjutnya

Diantara Dua Kekuasaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

oleh Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

oleh Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

oleh Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

KUR BRI Tingkatkan Omzet, Pengusaha Genteng di Majalengka Banjir Pesanan

KUR BRI Tingkatkan Omzet, Pengusaha Genteng di Majalengka Banjir Pesanan

oleh Stella Gracia
9 Maret 2026 - 18:35

Stabilitas.id – Program gentengisasi yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto membawa angin segar bagi para pelaku usaha kecil di sektor...

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

oleh Stella Gracia
12 Februari 2026 - 12:20

Stabilitas.id — PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar pelatihan Finance for Non Finance bagi 21 pekerja lintas unit kerja pada...

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

oleh Sandy Romualdus
8 Februari 2026 - 11:31

Stabilitas.id — Bank Syariah Nasional (BSN) menegaskan penguatan peran developer sebagai mitra utama dalam ekosistem pembiayaan perumahan syariah melalui penyelenggaraan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Romy Wijayanto Resmi Terpilih Jadi Direktur Utama Bankaltimtara 2026-2030

    Romy Wijayanto Resmi Terpilih Jadi Direktur Utama Bankaltimtara 2026-2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPS Lippo Karawaci: Indra Yuwana Jabat Presiden Direktur, Bamsoet Masuk Jajaran Komisaris

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Manajemen Kinerja Kualitatif vs Kuantitatif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPST Bank Jateng Angkat Bambang Widiyatmoko Jadi Dirut, Adnas Jabat Komut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasar Properti On The Track, Penjualan Rumah Second Jadi Penopang Utama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Resmi Berlaku! PMK 23/2026: Aturan Baru Penagihan hingga Pelunasan Piutang Negara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Lampung Masuk 10 Besar Investor Terbanyak, OJK Ingatkan Rumus 2L Atasi Investasi Bodong

Aset Konsolidasi Tembus Rp168,85 Triliun, KUB Bank Jatim Gerbang Aliansi Ekonomi Lintas Daerah

Kuartal I/2026: Aset BPD Tembus Rp1.036 Triliun di Tengah Evaluasi Ketat KUB oleh OJK

Kinerja Kuartal I/2026 Melesat: Laba Sebelum Pajak Krom Bank Meroket 99%

Gempuran Geopolitik Global, Bank Indonesia Kerek Suku Bunga BI-Rate ke 5,25%

Tekan Kebocoran Finansial, KPR Takeover Jadi Solusi Hemat Cicilan Hingga 40%

Pasca-Lebaran: Penjualan Mobil Melonjak 55%, Optimisme Ekonomi Kuartal II Menguat

Tekan Emisi Konstruksi, SIG Gandeng BRIN Kembangkan Beton Pintar hingga Beton Maritim

Setoran PPN Melonjak 40%, Menkeu Purbaya Patahkan Isu Daya Beli Hancur

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Perkuat Bisnis, Mandiri Tambah Jaringan Prioritas

Perkuat Bisnis, Mandiri Tambah Jaringan Prioritas

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance