Jakarta – Aliran investasi asing ke Indonesia diproyeksikan jauh melambat di sepanjang tahun ini. Sebab, investor mancanegara memilih untuk menunda ekspansi usahanya karena Pemilihan Umum 2014. Pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga hanya memerkirakan pertumbuhan investasi di tahun kuda ini sebesar 15%. Laju penanaman modal ini turun dibandingkan tahun lalu sebesar 27%.
"Investasi pada tahun ini berpotensi hanya tumbuh pada fase melambat. Ini terjadi karena perusahaan-perusahaan menunda rencana ekspansinya hingga berakhirnya pemilihan umum," tutur Ekonom Treasury & Capital Market, PT Bank Danamon Indonesia, Tbk., Dian Ayu Yustina di Jakarta, Kamis (23/1).
Lesunya arus masuk dana asing ke dalam negeri ini disebabkan oleh masih bergejolaknya stabilitas dunia seiring penerapan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, The Feds yang mengurangi pembelian surat utang jangka panjang pemerintahnya.
BERITA TERKAIT
Di samping itu, Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) juga tengah mempercepat penurunan defisit transaksi berjalan. Hal ini tercermin dari lonjakan kenaikan BI rate sebesar 175 basis poin pada tahun lalu yang berimplikasi pada penurunan daya beli masyarakat. Dengan demikian, tingkat konsumsi turun sehingga menekan pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi yang melambat ini akhirnya memelankan pergerakan investasi.
"Outlook investasi tahun ini memang suram, tapi ini sejalan dengan perlambatan aktivitas ekonomi ditengah ketidakpastian global dan suku bunga tinggi," tegas dia.
Namun, minat investasi asing dapat kembali pulih ke tanah air. Pembalikan ini terjadi jika realisasi perbaikan defisit transaksi berjalan terwujud. Selain itu, pemilihan umum berjalan aman ditambah Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih berpihak pada kalangan dunia usaha. "Ini dapat membentuk keyakinan pelaku pasar dan persepsi investor tentang adanya perbaikan ekonomi nasional," jelas dia.
Ditengah tekanan investasi, Dian menyebutkan pertumbuhan ekonomi masih akan tumbuh 5,85% yang didukung oleh konsumsi domestik.
Menurut Dian, jika tren positif perbaikan defisit transaksi berjalan, maka berdampak positif pada nilai tukar. Rupiah akan menguat ke level Rp11.058/US$. Tetapi jangka pendek, nilai tukar tertekan yang berada pada kisaran Rp12.000-Rp12500/US$.

















