Presiden Prabowo Subianto dan PM India Narendra Modi menyepakati kerja sama strategis mulai dari pasokan pangan, mineral kritis, pelabuhan bersama, hingga interkoneksi QRIS lintas batas.
Stabilitas.id – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi menerima kunjungan bilateral Perdana Menteri India, Narendra Modi, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/7). Pertemuan tingkat tinggi ini menghasilkan sejumlah komitmen kesepakatan strategis antarkedaulatan, mulai dari jaminan pasokan komoditas kesehatan dan pangan, penguatan rantai pasok industri, hingga pembangunan infrastruktur konektivitas maritim.
Kedua pemimpin negara sepakat untuk mempercepat implementasi kerja sama guna mendongkrak volume perdagangan bilateral dan memperkuat ketahanan ekonomi masing-masing negara di kancah regional.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan India merumuskan peta jalan kolaborasi yang mencakup transisi teknologi, ketahanan pangan, hingga penguatan sumber daya manusia.
BERITA TERKAIT
Berikut adalah rincian sektor utama yang disepakati oleh kedua kepala pemerintahan:
| Sektor Utama | Fokus Implementasi Kerja Sama | Dampak Strategis bagi Indonesia |
| Kesehatan & Medis | India berkomitmen memasok obat-obatan berkualitas tinggi dengan harga terjangkau, serta berkontribusi dalam pembangunan kapasitas dokter dan tenaga kesehatan. | Mempermudah akses pemenuhan kebutuhan obat nasional yang ekonomis bagi masyarakat. |
| Ketahanan Pangan | Membuka keran pasokan benih gandum dari India dan saling berbagi praktik terbaik (best practices) pada sektor pertanian berkelanjutan serta agro-teknologi. | Memperkuat stok pangan domestik melalui diversifikasi sumber komoditas pertanian. |
| Pendidikan & SDM | Pembukaan resmi kampus Indian Institute of Management (IIM) Bangalore di Indonesia. | Mendukung akselerasi pengembangan kualitas talenta digital dan manajemen di kawasan ASEAN. |
Penguatan Rantai Pasok Mineral Kritis dan Sektor Teknologi
Di sektor industri manufaktur dan teknologi makro, kedua negara sepakat untuk mempererat integrasi rantai pasok logam strategis. Langkah ini krusial di tengah tren global yang mulai beralih ke ekosistem energi bersih dan digitalisasi.
PM Narendra Modi menegaskan pentingnya pembentukan kemitraan baru pada industri baja tahan karat (stainless steel) serta pengembangan komponen magnet tanah jarang (rare earth magnet). Selain itu, lini kolaborasi bilateral akan diperluas mencakup adopsi kecerdasan buatan (AI), perluasan infrastruktur publik digital (DPI), dan sektor telekomunikasi.
Konektivitas Maritim: Jembatan Sabang dan Andaman-Nikobar
Aspek pertahanan dan keamanan laut turut menjadi poin krusial dalam pembicaraan ini. Guna menjaga keselamatan pelayaran di wilayah Samudra Hindia, korporasi penjaga pantai (coast guard) kedua negara akan meningkatkan intensitas patroli bersama, manajemen penanggulangan bencana, serta kerja sama industri militer.
Secara khusus, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan wacana besar berupa proyek pembangunan jaringan pelabuhan bersama sebagai hub konektivitas strategis.
“Saya menyampaikan dukungan terhadap pembangunan pelabuhan di Kepulauan Andaman dan Nikobar di India dan juga pengembangan dan pembangunan Pelabuhan Sabang di Aceh sebagai penghubung strategis antara Pulau Sabang dan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India,” ujar Presiden Prabowo.
Konektivitas fisik yang kian dekat ini diyakini mampu mengakselerasi perundingan kesepakatan dagang bilateral, khususnya dalam mempercepat realisasi Indonesia-India Preferential Trade Agreement serta peninjauan kembali untuk peningkatan ASEAN-India Trade in Goods Agreement.
Target Implementasi QRIS Lintas Batas di India pada 2026
Melanjutkan keberhasilan integrasi sistem pembayaran digital di kawasan Asia Tenggara, pemerintah Indonesia membidik India sebagai destinasi ekspansi global untuk QRIS cross-border selanjutnya. Komitmen ini sejalan dengan target Bank Indonesia (BI) untuk memperluas interkoneksi sistem QRIS ke India, Hong Kong, dan Timor Leste sepanjang tahun 2026 ini.
Presiden Prabowo menyambut positif kemajuan pembahasan teknis integrasi tautan pembayaran digital lintas batas (cross-border QR payment linkage) antara kedua negara. Kehadiran interkoneksi sistem QRIS ini diharapkan mampu menekan biaya transaksi, mempermudah mobilitas wisatawan, serta memperkuat ketahanan stabilitas sektor keuangan antarnegara secara signifikan. ***

















