Transaksi hotel Asia Pasifik Semester I-2026 tembus US$ 6,8 miliar (naik 54%), tertinggi sejak 2019 disokong pasar Jepang, Tiongkok, & transaksi Jakarta.
Stabilitas.id – Pasar investasi perhotelan di kawasan Asia Pasifik mencatatkan kinerja paruh pertama (semester I) terkuat dalam tujuh tahun terakhir. Di tengah volatilitas ekonomi global dan tren ketatnya seleksi modal investor, volume transaksi aset perhotelan berhasil mencapai US$ 6,8 miliar pada semester I-2026, melonjak 54% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Riset konsultan properti global Jones Lang LaSalle (JLL) mengungkapkan bahwa pencapaian ini menandai periode semester pertama dengan aktivitas transaksi tertinggi sejak 2019.
“Di luar ekspektasi, minat investasi di sektor hotel terus menunjukkan tren positif yang mempertegas daya tarik aset perhotelan Asia Pasifik. Fundamental pasar yang solid mendorong investor lebih selektif dengan mengutamakan kepastian hukum dan mitigasi risiko sebelum mengalokasikan modal,” ujar CEO JLL Hotels & Hospitality Group Asia Pasifik, Nihat Ercan dalam keterangan resminya, Rabu (21/8/2026).
Jepang dan Tiongkok mMeimpin Pertumbuhan Transaksi
Kinerja pasar di kawasan bergerak bervariasi dengan tiga negara utama menjadi motor penggerak utama:
- Jepang: Memimpin kawasan dengan nilai transaksi mencapai US$ 1,9 miliar (+75% yoy). Pertumbuhan didorong tiga transaksi portofolio raksasa: akuisisi JPN Kanagawa Hotel Portfolio oleh AB Capital, pembelian JPN Pelican Hotel Portfolio oleh Tosei, serta aksi borong Sapporo Real Estate oleh konsorsium KKR & PAG.
- Tiongkok: Membukukan volume transaksi US$ 1,5 miliar, melesat 224% secara tahunan. Pasar didominasi aksi lelang aset bertekanan finansial (distressed assets) di pasar sekunder, salah satunya penjualan 9 aset properti milik R&F Group.
Australia: Mencetak transaksi US$ 901 juta (+38% yoy), disokong persaingan investor swasta dan family office dalam memburu aset kelas menengah hingga properti di area pusat bisnis (CBD).
Dari sisi profil pembeli, pengembang (developer) mendominasi 22% akuisisi, diikuti pengelola dana (fund manager) 19%, serta family office dan individu super kaya (HNWI) sebesar 5%.
Transaksi Bersejarah Waldorf Astoria Jakarta & Tren Co-Living
Sinyal positif ini turut memberi dampak langsung bagi pasar properti Indonesia. JLL memfasilitasi konsultasi transaksi investasi bersejarah untuk Waldorf Astoria Jakarta, hotel super-mewah yang dijadwalkan beroperasi pada 2027 sebagai bagian dari Autograph Tower di kawasan Thamrin Nine, Jakarta.
Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah menjelaskan bahwa transaksi ini mencerminkan kuatnya arus modal lintas negara (cross-border), khususnya keterhubungan ekonomi Indonesia dengan investor Uni Emirat Arab (UEA) dan kawasan Gulf Cooperation Council (GCC).
Di sisi lain, JLL mencatat tren value-add di mana investor mentransaksikan hotel berkinerja rendah (underperforming) untuk dialihfungsikan menjadi aset hunian. Di Hong Kong, empat hotel senilai total US$ 340 juta ditransaksikan untuk dikonversi menjadi hunian mahasiswa dan co-living. Langkah serupa terjadi di Singapura lewat akuisisi Park Avenue Changi oleh Coliwoo senilai US$ 79 juta.
Head of Investment Sales Asia JLL Hotels & Hospitality Group, Julien Naouri menambahkan, seiring rata-rata pertumbuhan pendapatan per kamar yang tersedia (RevPAR) yang naik di atas 6% pada Januari–Mei 2026, JLL memproyeksikan total volume transaksi hotel Asia Pasifik sepanjang 2026 akan tumbuh 15% hingga 20% secara tahunan. ***

















