BERITA TERKAIT
Siapakah pelaku ekonomi itu? Kalau Anda membuka-buka buku teks ekonomi, hampir semuanya menuliskan, pelakunya tidak lebih dari tiga. Mereka adalah individu atau rumah tangga, perusahaan atau sektor swasta dan Pemerintah. Di luar itu, tidak ada. Benarkah hanya tiga itu? Baiklah, agar bisa lebih dekat membuktikannya, Anda bisa turut membaca kisah-kisah pendek berikut:
Kisah Pertama
Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a., terjadi kemarau panjang yang berujung paceklik. Rakyat datang menghadap beliau menanyakan apa hal yang akan dilakukan Pemerintah. Abu Bakar meminta mereka pulang, dan berdoa mudah-mudahan sore harinya Allah Swt. sudah memberikan jalan keluar.
Sore harinya terdengar kabar, kafilah yang dipimpin sahabat Ustman bin Affan r.a. sudah dalam perjalanan datang dari Syam ke Madinah, membawa perbekalan dalam jumlah besar: gandum, minyak, dan kismis. Karena itu, banyak pedagang yang mencegat kafilah ini berharap bisa membelinya untuk kemudian dijual kembali kepada masyarakat dengan keuntungan lebih tinggi.
“Berapa keuntungan yang kalian akan berikan kepadaku?” tanya Ustman
“Dua dirham untuk setiap satu dirhamnya,” jawab para pedagang.
“Sudah ada yang menawar lebih dari itu,” jawab Utsman
“Empat dirham,” mereka menaikkan harga.
“Sudah ada yang menawar lebih tinggi dari itu,” sahut Utsman.
“Lima,” tawar mereka lagi.
“Sudah ada yang menawar lebih tinggi dari itu,” kata Utsman lagi
“Wahai Abu Amr, di Madinah ini tidak ada pedagang lain selain kami. Siapa yang sebenarnya sudah menawar lebihd ari itu?” tanya mereka penasaran.
“Sesungguhnya Allah telah memberikan kepadaku tiap-tiap satu dirham, 10 dirham. Dapatkah kalian memberikan lebih dari itu?
“Tidak!” seru mereka.
“Persaksikan, semua yang ada di atas unta-unta ini telah kujadikan sebagai sedekah lillahi ta’ala untuk orang fakir dan miskin Muslim,” jawab Utsman.
Kisah Kedua
Adalah Abdullah bin Ja’far pemilik sebuah kebun kurma. Suatu ketika ia datangi kebunnya. Ia saksikan seorang budak yang duduk di pohon kurma dan seekor anjing yang tampak kelaparan melintas di hadapan budak. Lalu, budak itu melemparkan bekal roti satu-satunya ke anjing itu. Abdullah pun menghampirinya dan menanyakan berapa banyak bekal yang ia bawa. Ia menegaskan roti yang diberikan kepada anjing itulah bekalnya hari itu.
“Lalu apa yang akan kau makan hari ini?” tanya Abdullah
“Hari ini aku akan menahan lapar,” jawabnya si budak datar.
“Kenapa kau berikan bekalmu?” sahut Abdullah.
“Anjing itu datang dari tempat jauh dalam keadaan lapar. Aku tidak suka menolak keinginannya,” tukas si Budak.
Abdullah ternganga mendengar penuturan Si Budak. Ia melihat, betapa baiknya akhlak si Budak. Lalu ia bebaskan budak itu. Tidak cukup itu saja, ia sedekahkan kebun kurmanya kepada si Budak. Jadilah sekarang dia orang merdeka dan kaya!
Mari kita coba analisa kedua kisah di atas. Dalam kisah pertama, siapa pelaku ekonomi? Pemerintah? Bukan. Yang kita perhatikan adalah masyarakat miskin maupun kumpulan pedagang (broker) yang masing-masing berperan sebagai rumah tangga atau individu. Kemudian ada kafilah (mungkin saat ini bisa disebut usaha besar semacam perseroan) di bawah Utsman sebagai agen importir komoditi.
Apakah terjadi transaksi? Tidak. Yang terjadi adalah pemindahan sumber daya ekonomi secara sukarela dari importir (Utsman) ke masyarakat miskin (individu-individu). Tidak ada satu dirhampun masuk ke kantong Utsman. Tidakkah dia rugi? Tidak. Bahkan untung. Pedagang biasa hanya menawarkan harga tertinggi lima kali dari tiap satu dirham modal, tapi ia berkukuh sudah ada penawar yang memberikan harga 10 kali lipat: Allah Swt.
Dalam kisah kedua, tidak ada transaksi yang terjadi di situ. Seperti yang pertama, yang ada adalah pemindahan aset suka rela dari pemilik kebun kurma kepada budaknya. Siapa pelaku ekonominya? Hanya mereka berdua kah? Kalau yang dimaksud pelaku di sini adalah pihak lain yang memicu perpindahan aset itu terjadi, maka tak pelak: Allah SWT pelakunya.
Hampir mustahil bagi si Budak untuk menjadi kaya dengan cara biasa. Namun, ketulusan dan kebaikan hatinya kepada binatang mendatangkan dan menggugah simpati yang luar biasa dari tuannya. Dampaknya, bukan saja ia dimerdekakan, tapi juga diberikan bonus kebun kurma di tempatnya bekerja!
Dari dua kisah itu, bisa dilihat kegiatan ekonomi –dalam hal ini beralihnya aset produktif dan komoditi—tidak hanya berlangsung dari faktor ekonomi saja. Tapi oleh hadirnya motivasi dari pihak ketiga: pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Dalam pandangan kapitalis, boleh jadi apa yang mereka lakukan di luar nalar ekonomi. Bagi pelaku ekonomi biasa, apa yang dilakukan Utsman bisa membawa kerugian. Namun sejarah mencatat, Utsman sepanjang hidupnya tidak pernah miskin, meskipun terkenal sangat dermawan.
Dalam perspektif Quranomics, motivasi untuk mendapatkan keuntungan dalam perdagangan, bukanlah motivasi satu-satunya. Motivasi lain yang justru mereka harapkan adalah keberkahan. Mereka jauh lebih percaya balasan dari Allah, bahkan melebihi harta yang ada di genggaman tangannya sendiri. Persis yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW: Barang siapa yang ingin menjadi orang yang paling kaya, hendaklah apa yang di sisi Allah lebih ia yakini dari pada yang ada di tangannya sendiri.
Setiap satu pengurbanan, dibalas dengan 10 kali lipat, bahkan lebih. Mereka yakin tidak ada amal baik yang ikhlas yang sia-sia. Perumpaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, seperti sebutir biji, yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada 100 biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui (Al-Baqarah, 2:261).
Tidak mengherankan bila perilaku orang-orang kaya, saat ini juga menghayati pesan kedermawanan itu. Raja Microsoft Bill Gate, konon mendonasikan hampir 30 miliar dollar AS dananya untuk filantropi. Survei terbaru yang dilakukan Visa yang bertajuk Visa Affluent Study 2013 juga menegaskan hal yang sama.
Ketika orang-orang kaya dalam survei itu ditanya, dana yang bisa mereka belanjakan (discretionary spending) akan dipakai untuk tujuan apa, mereka yang berasal dari di Indonesia dan Uni Emirat Arab, menempatkan amal sebagai pilihan pertama. Sementara orang-orang kaya di Australia, menempatkannya di pilihan kedua. Orang-orang kaya dari Korea menempatkannya di pilihan ketiga. Sedang mereka yang berasal dari India, Singapura, dan Rusia menempatkannya di pilihan keempat teratas.
Satu-satunya negara dalam survei tersebut yang tidak menempatkan kedermawanan sebagai lima dari priortitas tertinggi belanja mereka hanyalah China! Apakah ini ada hubungan dengan indikasi hilangnya berkah di negeri Tirai Bambu itu? Tahun 2010 mereka pernah mencapai angka pertumbuhan ekonomi fantastis mendekati 12 persen, tapi kini di kuartal kedua 2013 kenapa menurun jadi di bawah delapan persen? Wallahu A’lam.
Yang jelas, para ekonom tak bisa lagi menyebut pelaku ekonomi hanya tiga agen. Ada pelaku keempat. Dan pelaku ini yang jauh lebih penting dari tiga yang pertama: karena Dialah satu-satunya yang menawarkan perniagaan yang anti rugi. “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi” (Fathir, 35:29).
















