• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Market

Peta Market Cap BEI Bergeser: BBCA Kembali Puncaki Klasemen, Saham Minim Likuiditas Menyodok Naik

by Stella Gracia
14 Juli 2026 - 10:07
79
VIEWS
Manjakan Investor Ritel, BBCA Berencana Bagikan Dividen Interim Setiap Kuartal
0
SHARES
79
VIEWS

Peta kapitalisasi pasar (market cap) BEI bergeser di awal Semester II-2026. BBCA kembali merebut posisi puncak, sementara saham dengan likuiditas rendah seperti DCII menyodok ke urutan kedua.

Stabilitas.id – Klasemen saham dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pergeseran signifikan di awal semester II-2026. Fenomena menarik terjadi di mana sejumlah saham dengan tingkat likuiditas perdagangan yang relatif rendah justru merangsek masuk ke jajaran papan atas bursa.

  • Baca juga: Menakar Transmisi Moneter, Efek Short Selling, dan Rekomendasi Top 10 Saham

Kondisi ini berbalik dibandingkan dengan penutupan tahun 2025. Kala itu, PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) kokoh di puncak klasemen dengan market cap mencapai Rp 1.298 triliun per 30 Desember 2025. Di belakangnya menyusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 985 triliun, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp 778 triliun, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp 606 triliun, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 549 triliun.

Namun, berdasarkan data per Senin (13/7/2026), peta kekuatan big cap telah berubah. BBCA resmi kembali merebut takhta nomor satu dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 760 triliun, atau setara dengan 7,23% dari total market cap seluruh bursa.

BERITA TERKAIT

Menakar Transmisi Moneter, Efek Short Selling, dan Rekomendasi Top 10 Saham

IHSG Parkir di Zona Merah Sesi I: Tekanan Jual Asing dan Penantian Bunga Acuan Bebani Indeks

Tata Kelola Moneter BI Diuji, IHSG Hijau di Tengah Ancaman Outflow dan Pelemahan Rupiah

IHSG Sesi I Tertekan ke Level 6.439, Aksi Jual Asing dan Sentimen Suku Bunga Jadi Pemicu

Saham Minim Transaksi Masuk Papan Atas

Kejutan terbesar datang dari PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang berhasil melejit ke urutan kedua dengan market cap sebesar Rp 475 triliun. Kehadiran DCII menggeser posisi BREN yang kapitalisasi pasarnya menyusut ke level Rp 423 triliun. Sementara posisi keempat dan kelima dihuni oleh duo bank pelat merah, yakni BBRI (Rp 431 triliun) dan BMRI (Rp 393 triliun).

Meski nangkring di zona top tier, beberapa saham papan atas ini dicermati memiliki tingkat likuiditas yang sangat mini. Selain DCII, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) juga terpantau sukses menembus jajaran 10 besar market cap.

Sebagai gambaran minimnya transaksi, pada perdagangan Senin (13/7), volume perdagangan DCII tercatat hanya sebesar 500 lembar saham dengan nilai transaksi Rp 94,90 juta saja. Setali tiga uang, MORA hanya mencatatkan nilai transaksi Rp 5,62 miliar dengan volume transaksi sebanyak 842.400 lembar saham.

Efek Saham Gocap 

Investment Advisor Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis, menjelaskan bahwa besarnya nilai kapitalisasi pasar DCII maupun MORA tidak otomatis membuat kedua saham ini menjadi motor penggerak utama (index mover) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“DCII dan MORA memiliki market cap yang besar, tetapi porsi saham publik yang beredar (free float) relatif kecil. Akibatnya, kontribusinya terhadap pergerakan IHSG tidak sebesar yang terlihat dari nilai market cap-nya,” kata Alrich kepada Kontan.

  • Baca juga: IHSG Parkir di Zona Merah Sesi I: Tekanan Jual Asing dan Penantian Bunga Acuan Bebani Indeks

Pandangan senada disampaikan oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus. Ia menyebut secara praktik, arah gerak IHSG tetap didominasi dan disetir oleh saham-saham perbankan kakap serta telekomunikasi yang aktif diperdagangkan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM. Investor institusi pun cenderung mengonsentrasikan arus dananya pada saham yang likuid.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengingatkan investor agar tidak terjebak hanya dengan melihat nominal kapitalisasi pasar. Pada saham dengan likuiditas mini, perubahan harga yang drastis kerap kali tidak mencerminkan sentimen pasar secara luas. Investor disarankan untuk tetap memantau aspek breadth market, nilai transaksi harian, serta pergerakan saham yang tergabung dalam indeks LQ45 maupun IDX80.

Prospek Pemburu Takhta Rp 1.000 Triliun

Memasuki paruh kedua tahun ini, sektor perbankan dinilai masih menjadi kandidat terkuat untuk mendominasi dan meningkatkan nilai kapitalisasi pasarnya. Fundamental yang solid dan valuasi yang kembali menarik menjadi alasan utama investor asing untuk melakukan akumulasi.

Berikut adalah proyeksi sejumlah saham big cap di Semester II-2026:

  • BBCA: Menjadi kandidat terkuat untuk kembali menembus level psikologis market cap Rp 1.000 triliun apabila sentimen pasar terus membaik.

  • BBNI: Berpotensi kembali menembus jajaran top 10 market cap disokong oleh valuasi menarik dan fundamental yang kokoh.

  • TLKM: Berpeluang mengalami re-rating jika proses monetisasi aset digital dan efisiensi lini bisnis data center serta IndiHome terus menunjukkan perbaikan.

  • ASII: Berpotensi mendapat angin segar apabila daya beli konsumen domestik dan industri otomotif mulai pulih.

    • Baca juga: Tata Kelola Moneter BI Diuji, IHSG Hijau di Tengah Ancaman Outflow dan Pelemahan Rupiah
  • BREN, AMMN, BYAN, & DCII: Pergerakan kapitalisasi pasarnya dinilai akan lebih bergantung pada katalis sektoral dan rilis proyek masing-masing, ketimbang sentimen makro bursa secara umum.***

Tags: #IHSGBBCABRENDCIIfree floatkapitalisasi pasar sahamMarket Cap BEIsaham likuid
 
 
 
 
 
Previous Post

Sokong Penerimaan Negara, BRI Setor Pajak dan Dividen Rp19,1 Triliun di Kuartal I-2026

Next Post

Harga Minyak Brent Tembus USD 94, Beban Fiskal APBN 2026 Diproyeksi Membengkak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 19:53

Hans Kwee menilai bursa RI mustahil turun kelas ke Standalone Market di tengah pendapatan emiten kuartal II/2026 yang tumbuh 13,31...

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 19:45

OJK menjatuhkan denda rekor total Rp2,1 triliun kepada DSSA, BREN, dan CUAN atas pelanggaran manipulasi pasar dan penjatahan semu penawaran...

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 11:34

MSCI mengusulkan penurunan status bursa saham Indonesia langsung ke Standalone Market akibat isu transparansi free float dan dugaan transaksi terkoordinasi....

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 10:33

Rupiah terperosok ke level Rp18.000 per dolar AS bersamaan dengan trading halt IHSG, Bank Indonesia gelar intervensi terpadu di pasar...

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 09:19

IHSG dibuka anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92 pada Jumat (16/10/2026), memicu penghentian sementara perdagangan BEI akibat sentimen usulan MSCI...

Ancam Arus Modal Ratusan Triliun Rupiah: MSCI Konsultasikan Status Bursa Efek Indonesia

Ancam Arus Modal Ratusan Triliun Rupiah: MSCI Konsultasikan Status Bursa Efek Indonesia

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 08:12

MSCI membuka konsultasi usulan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market yang diputuskan Juni 2027. Stabilitas.id...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Melewati Periode Takut Tapi Butuh

Harga Minyak Brent Tembus USD 94, Beban Fiskal APBN 2026 Diproyeksi Membengkak

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance