• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Minggu, September 6, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Market

Peta Market Cap BEI Bergeser: BBCA Kembali Puncaki Klasemen, Saham Minim Likuiditas Menyodok Naik

oleh Stella Gracia
14 Juli 2026 - 10:07
75
Dilihat
Manjakan Investor Ritel, BBCA Berencana Bagikan Dividen Interim Setiap Kuartal
0
Bagikan
75
Dilihat

Peta kapitalisasi pasar (market cap) BEI bergeser di awal Semester II-2026. BBCA kembali merebut posisi puncak, sementara saham dengan likuiditas rendah seperti DCII menyodok ke urutan kedua.

Stabilitas.id – Klasemen saham dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pergeseran signifikan di awal semester II-2026. Fenomena menarik terjadi di mana sejumlah saham dengan tingkat likuiditas perdagangan yang relatif rendah justru merangsek masuk ke jajaran papan atas bursa.

  • Baca juga: Menkeu Purbaya: Modal Asing Masuk Rp140,6 Triliun, Stabilitas Ekonomi Jaga Kepercayaan Global

Kondisi ini berbalik dibandingkan dengan penutupan tahun 2025. Kala itu, PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) kokoh di puncak klasemen dengan market cap mencapai Rp 1.298 triliun per 30 Desember 2025. Di belakangnya menyusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 985 triliun, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp 778 triliun, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp 606 triliun, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 549 triliun.

Namun, berdasarkan data per Senin (13/7/2026), peta kekuatan big cap telah berubah. BBCA resmi kembali merebut takhta nomor satu dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 760 triliun, atau setara dengan 7,23% dari total market cap seluruh bursa.

BERITA TERKAIT

Menkeu Purbaya: Modal Asing Masuk Rp140,6 Triliun, Stabilitas Ekonomi Jaga Kepercayaan Global

Kredit Tumbuh 13% Mampu Melampaui DPK, Saham Bank Big-Cap Bergerak Variatif di Tengah Pengetatan Likuiditas

Pasar Cermati Pidato The Fed di Jackson Hole, IHSG Bidik Area 6.550

Incar Generasi Muda Perkotaan, BCA Gelar myBCA District One di Blok M

Saham Minim Transaksi Masuk Papan Atas

Kejutan terbesar datang dari PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang berhasil melejit ke urutan kedua dengan market cap sebesar Rp 475 triliun. Kehadiran DCII menggeser posisi BREN yang kapitalisasi pasarnya menyusut ke level Rp 423 triliun. Sementara posisi keempat dan kelima dihuni oleh duo bank pelat merah, yakni BBRI (Rp 431 triliun) dan BMRI (Rp 393 triliun).

Meski nangkring di zona top tier, beberapa saham papan atas ini dicermati memiliki tingkat likuiditas yang sangat mini. Selain DCII, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) juga terpantau sukses menembus jajaran 10 besar market cap.

Sebagai gambaran minimnya transaksi, pada perdagangan Senin (13/7), volume perdagangan DCII tercatat hanya sebesar 500 lembar saham dengan nilai transaksi Rp 94,90 juta saja. Setali tiga uang, MORA hanya mencatatkan nilai transaksi Rp 5,62 miliar dengan volume transaksi sebanyak 842.400 lembar saham.

Efek Saham Gocap 

Investment Advisor Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis, menjelaskan bahwa besarnya nilai kapitalisasi pasar DCII maupun MORA tidak otomatis membuat kedua saham ini menjadi motor penggerak utama (index mover) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“DCII dan MORA memiliki market cap yang besar, tetapi porsi saham publik yang beredar (free float) relatif kecil. Akibatnya, kontribusinya terhadap pergerakan IHSG tidak sebesar yang terlihat dari nilai market cap-nya,” kata Alrich kepada Kontan.

  • Baca juga: Kredit Tumbuh 13% Mampu Melampaui DPK, Saham Bank Big-Cap Bergerak Variatif di Tengah Pengetatan Likuiditas

Pandangan senada disampaikan oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus. Ia menyebut secara praktik, arah gerak IHSG tetap didominasi dan disetir oleh saham-saham perbankan kakap serta telekomunikasi yang aktif diperdagangkan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM. Investor institusi pun cenderung mengonsentrasikan arus dananya pada saham yang likuid.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengingatkan investor agar tidak terjebak hanya dengan melihat nominal kapitalisasi pasar. Pada saham dengan likuiditas mini, perubahan harga yang drastis kerap kali tidak mencerminkan sentimen pasar secara luas. Investor disarankan untuk tetap memantau aspek breadth market, nilai transaksi harian, serta pergerakan saham yang tergabung dalam indeks LQ45 maupun IDX80.

Prospek Pemburu Takhta Rp 1.000 Triliun

Memasuki paruh kedua tahun ini, sektor perbankan dinilai masih menjadi kandidat terkuat untuk mendominasi dan meningkatkan nilai kapitalisasi pasarnya. Fundamental yang solid dan valuasi yang kembali menarik menjadi alasan utama investor asing untuk melakukan akumulasi.

Berikut adalah proyeksi sejumlah saham big cap di Semester II-2026:

  • BBCA: Menjadi kandidat terkuat untuk kembali menembus level psikologis market cap Rp 1.000 triliun apabila sentimen pasar terus membaik.

  • BBNI: Berpotensi kembali menembus jajaran top 10 market cap disokong oleh valuasi menarik dan fundamental yang kokoh.

  • TLKM: Berpeluang mengalami re-rating jika proses monetisasi aset digital dan efisiensi lini bisnis data center serta IndiHome terus menunjukkan perbaikan.

  • ASII: Berpotensi mendapat angin segar apabila daya beli konsumen domestik dan industri otomotif mulai pulih.

    • Baca juga: Pasar Cermati Pidato The Fed di Jackson Hole, IHSG Bidik Area 6.550
  • BREN, AMMN, BYAN, & DCII: Pergerakan kapitalisasi pasarnya dinilai akan lebih bergantung pada katalis sektoral dan rilis proyek masing-masing, ketimbang sentimen makro bursa secara umum.***

Tags: #IHSGBBCABRENDCIIfree floatkapitalisasi pasar sahamMarket Cap BEIsaham likuid
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Sokong Penerimaan Negara, BRI Setor Pajak dan Dividen Rp19,1 Triliun di Kuartal I-2026

Selanjutnya

Harga Minyak Brent Tembus USD 94, Beban Fiskal APBN 2026 Diproyeksi Membengkak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

MARKET INSIGHT : IHSG Melesat ke 6.667 & Emas Antam Tembus Rp 2,71 Juta

oleh Sandy Romualdus
5 September 2026 - 10:05

Simak analisis mendalam pasar keuangan 5 September 2026. Ulasan teknikal IHSG, penguatan Rupiah ke Rp 17.608/USD, lonjakan harga emas Antam...

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

JPMorgan Patok Target IHSG 7.000 di Akhir 2026, Soroti Resiliensi Emiten dan Disiplin Fiskal

oleh Stella Gracia
4 September 2026 - 22:07

JPMorgan memproyeksikan IHSG mencapai level 7.000 pada akhir 2026. Resiliensi kinerja emiten dan disiplin batas defisit APBN 3% dinilai menjadi...

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

Arah IHSG, Nasib Rupiah, dan Prospek Saham Blue Chip Jelang Akhir Pekan

oleh Sandy Romualdus
4 September 2026 - 10:52

Dapatkan analisis pasar mendalam hari ini. Pantau arah pergerakan IHSG, nilai tukar Rupiah, harga emas Antam, harga minyak dunia, dan...

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

Lonjakan Inflasi dan Redupnya Manufaktur: Uji Ketahanan Sektor Konsumer vs Risk-Reward Perbankan

oleh Sandy Romualdus
4 September 2026 - 10:29

Ada risiko pasar dan strategi portofolio pasca-lonjakan inflasi Agustus 2026, kontraksi PMI manufaktur, serta prospek resiliensi sektor perbankan vs sektor...

Tanggapi Hasil Review MSCI, OJK Sebut Daya Tahan Investor Lokal Mampu Redam Outflow

Saham Blue Chip dan Komoditas Jadi Pemain Utama, Ini Top 10 Saham Pilihan Mandiri Sekuritas

oleh Sandy Romualdus
3 September 2026 - 18:47

Mandiri Sekuritas memproyeksikan IHSG mencapai level 6.810 pada akhir tahun 2026. Pemulihan pasar saham didorong oleh rotasi ke sektor komoditas,...

Suku Bunga Turun Dorong Penerbitan Obligasi Korporasi

Mandiri Sekuritas Patok Yield SBN 10 Tahun di 6,8%–7,0%, Pasar Mulai Didominasi Investor Domestik

oleh Sandy Romualdus
3 September 2026 - 18:35

Mandiri Sekuritas memproyeksikan yield obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB) 10 tahun mencapai 6,8%–7,0% pada akhir 2026, didukung resiliensi ekonomi domestik dan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Duta Literasi Keuangan, OJK Integrasikan Kecakapan Finansial ke Dasa Dharma Pramuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Sejarah, Bale Syariah BSN Jadi Mobile Banking Pertama Bisa Top Up KMT Commuter Line

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Sinyal Hawkish The Fed Membingungkan Pasar, Keputusan Suku Bunga September Bergantung Data Inflasi

MARKET INSIGHT : IHSG Melesat ke 6.667 & Emas Antam Tembus Rp 2,71 Juta

JPMorgan Patok Target IHSG 7.000 di Akhir 2026, Soroti Resiliensi Emiten dan Disiplin Fiskal

BI Guyur Insentif Likuiditas Rp446,5 Triliun, KSSK Minta Perbankan Genjot Kredit UMKM

RUPSLB BTN Rombak Lima Kursi Direksi, Nixon Napitupulu Tetap Menjabat Dirut

AAUI Soroti Target OJK dan Tantangan Reasuransi di Tengah Tergerusnya Laba Industri

Penarikan Dana SAL Ditunda, Dirut BTN Sebut Tekanan Perebutan DPK Mulai Mereda

Perkuat Customer Experience, CIMB Niaga Tebar Promo dan Gelar Engagement di Harpelnas 2026

Arah IHSG, Nasib Rupiah, dan Prospek Saham Blue Chip Jelang Akhir Pekan

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Melewati Periode Takut Tapi Butuh

Harga Minyak Brent Tembus USD 94, Beban Fiskal APBN 2026 Diproyeksi Membengkak

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance