Peta kapitalisasi pasar (market cap) BEI bergeser di awal Semester II-2026. BBCA kembali merebut posisi puncak, sementara saham dengan likuiditas rendah seperti DCII menyodok ke urutan kedua.
Stabilitas.id – Klasemen saham dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pergeseran signifikan di awal semester II-2026. Fenomena menarik terjadi di mana sejumlah saham dengan tingkat likuiditas perdagangan yang relatif rendah justru merangsek masuk ke jajaran papan atas bursa.
Kondisi ini berbalik dibandingkan dengan penutupan tahun 2025. Kala itu, PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) kokoh di puncak klasemen dengan market cap mencapai Rp 1.298 triliun per 30 Desember 2025. Di belakangnya menyusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 985 triliun, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp 778 triliun, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp 606 triliun, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 549 triliun.
Namun, berdasarkan data per Senin (13/7/2026), peta kekuatan big cap telah berubah. BBCA resmi kembali merebut takhta nomor satu dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 760 triliun, atau setara dengan 7,23% dari total market cap seluruh bursa.
BERITA TERKAIT
Saham Minim Transaksi Masuk Papan Atas
Kejutan terbesar datang dari PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang berhasil melejit ke urutan kedua dengan market cap sebesar Rp 475 triliun. Kehadiran DCII menggeser posisi BREN yang kapitalisasi pasarnya menyusut ke level Rp 423 triliun. Sementara posisi keempat dan kelima dihuni oleh duo bank pelat merah, yakni BBRI (Rp 431 triliun) dan BMRI (Rp 393 triliun).
Meski nangkring di zona top tier, beberapa saham papan atas ini dicermati memiliki tingkat likuiditas yang sangat mini. Selain DCII, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) juga terpantau sukses menembus jajaran 10 besar market cap.
Sebagai gambaran minimnya transaksi, pada perdagangan Senin (13/7), volume perdagangan DCII tercatat hanya sebesar 500 lembar saham dengan nilai transaksi Rp 94,90 juta saja. Setali tiga uang, MORA hanya mencatatkan nilai transaksi Rp 5,62 miliar dengan volume transaksi sebanyak 842.400 lembar saham.
Efek Saham Gocap
Investment Advisor Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis, menjelaskan bahwa besarnya nilai kapitalisasi pasar DCII maupun MORA tidak otomatis membuat kedua saham ini menjadi motor penggerak utama (index mover) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“DCII dan MORA memiliki market cap yang besar, tetapi porsi saham publik yang beredar (free float) relatif kecil. Akibatnya, kontribusinya terhadap pergerakan IHSG tidak sebesar yang terlihat dari nilai market cap-nya,” kata Alrich kepada Kontan.
Pandangan senada disampaikan oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus. Ia menyebut secara praktik, arah gerak IHSG tetap didominasi dan disetir oleh saham-saham perbankan kakap serta telekomunikasi yang aktif diperdagangkan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM. Investor institusi pun cenderung mengonsentrasikan arus dananya pada saham yang likuid.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengingatkan investor agar tidak terjebak hanya dengan melihat nominal kapitalisasi pasar. Pada saham dengan likuiditas mini, perubahan harga yang drastis kerap kali tidak mencerminkan sentimen pasar secara luas. Investor disarankan untuk tetap memantau aspek breadth market, nilai transaksi harian, serta pergerakan saham yang tergabung dalam indeks LQ45 maupun IDX80.
Prospek Pemburu Takhta Rp 1.000 Triliun
Memasuki paruh kedua tahun ini, sektor perbankan dinilai masih menjadi kandidat terkuat untuk mendominasi dan meningkatkan nilai kapitalisasi pasarnya. Fundamental yang solid dan valuasi yang kembali menarik menjadi alasan utama investor asing untuk melakukan akumulasi.
Berikut adalah proyeksi sejumlah saham big cap di Semester II-2026:
-
BBCA: Menjadi kandidat terkuat untuk kembali menembus level psikologis market cap Rp 1.000 triliun apabila sentimen pasar terus membaik.
-
BBNI: Berpotensi kembali menembus jajaran top 10 market cap disokong oleh valuasi menarik dan fundamental yang kokoh.
-
TLKM: Berpeluang mengalami re-rating jika proses monetisasi aset digital dan efisiensi lini bisnis data center serta IndiHome terus menunjukkan perbaikan.
-
ASII: Berpotensi mendapat angin segar apabila daya beli konsumen domestik dan industri otomotif mulai pulih.
-
BREN, AMMN, BYAN, & DCII: Pergerakan kapitalisasi pasarnya dinilai akan lebih bergantung pada katalis sektoral dan rilis proyek masing-masing, ketimbang sentimen makro bursa secara umum.***
















