Jakarta – Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, beberapa indikator industri asuransi jiwa nasional terus mengalami perkembangan yang cukup baik. Data keuangan hingga kuartal empat (Q4) tahun 2011 yang dirangkum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dari 43 perusahaan anggota AAJI, mencatat total pendapatan industri asuransi jiwa nasional mencapai Rp 110.61 triliun. Jumlah ini meningkat 7.99 persen dibandingkan total pendapatan di tahun 2010 sebesar Rp102.43 triliun.
“Dapat kita rasakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,5 persen tahun lalu juga berdampak positif terhadap industri asuransi. Membaiknya perekonomian telah membuat produk-produk asuransi semakin digemari karena potensi imbal hasilnya cukup menarik,” ungkap Ketua AAJI Hendrisman Rahim dalam sambutannya membuka Konferensi Pers Kinerja Asuransi Jiwa Nasional 2011 di Jakarta, Jumat (9/3/2012).
BERITA TERKAIT
Dia menyebutkan, dari total pendapatan 2011 tersebut, pendapatan premi masih menjadi penyumbang terbesar yakni sebesar Rp 94,43 triliun, atau tumbuh 24.28 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Dan pendapatan premi tersebut didukung oleh pendapatan premi produksi baru atau new business premium pada 2011 yang mencapai Rp.67,65 triliun atau meningkat sebesar 28.45 persen dibandingkan premi baru di tahun 2010 sebesar Rp 52,66 triliun.
Albertus Wiroyo, Kepala Bidang Keanggotaan dan Komunikasi AAJI menambahkan, dati total pendapatan premi new business, prodak tradisional mencapai Rp.33,90 triliun atau tumbuh 71,2 persen dari posisi Q4-2010 yang sebesar Rp.19,80 triliun. Sedangkan pendapatan premi new bussines dari unit linked tumbuh 2,68% menjadi Rp.33, 73 triliun pada Q4/2011 dari posisi Rp.32,85 triliun pada Q4/2010. “Kali ini premi tradisional berhasil menyaingi pendapatan premi dari unit linked,” katanya di kesempatan yang sama.
Sementara pendapatan premi lanjutan pada 2011 sebesar Rp.26,78 triliun. Pendapatan premi lanjutan unit linked masih mendominasi dengan sumbangan sebesar Rp.15,24 triliun, sedangkan premi lanjutan tradisional sebesar Rp.11,53 triliun. Albertus lebih lanjut mengatakan, pada Q4/2011 total klaim yang dibayarkan asuransi jiwa nasional tercatat Rp.55.21 triliun atau meningkat 13,37% dibandingkan periode yang sama 2010 yang sebesar Rp 48.70 triliun.
Terkait peningkatan pendapatan premi new bussines dari produk tradisional, Hendrisman menjelaskan bahwa ini lebih didorong oleh peningkatan tertanggung (insured) dari group atau kumpulan. Dia menyebutkan, dari total tertanggung pada 2011 yang mengalami kenaikan 50.03 persen atau sejumlah 49.82 juta orang dari periode yang sama 2010 yang berjumlah 33.206 juta orang, tertanggung kumpulan mengalami kenaikan sebesar 71.01 persen dari posisi Q4-2010 yang berjumlah 23.8 juta jiwa menjadi sebanyak 40.82 juta pada Q4-2011. Sementara tertanggung perorangan hanya sebanyak 8.9 juta orang atau turun sebesar -3.65 persen dibanding dengan periode Q4-2010 sebanyak 9.3 juta orang.
“Premi tradisional memang umumnya didominasi prodak group. Unit link umumnya pada produk perorangan. Tidak menutup kemungkinan unit link di kumpulan. Nah, kumpulan biasanya dibeli oleh kelompok atau perusahaan. Sehingga lebih cenderung dia beli tradisional,” tukas Hendrisman.
Kendati pendapatan premi naik, dan dana ivestasi juga meningkat di tahun 2011, hasil investasi yang diraih malah mencatat penurunan. “Namun itu memang pola investasi yang seperti diketahui terpengaruh krisis Eropa dan AS, sehingga walau nilai investasi naik, tetapi hasilnya tidak setinggi tahun sebelumnya,” tukas Hendrisman.
Untuk diketahui, dalam catatan AAJI, tahun 2011 nilai investasi yang mencapai Rp197.54 triliun, meningkat 25.55 persen jika dibandingkan dengan 2010 yang sebesar Rp157.34 triliun tidak diikuti dengan hasil investasi yang mengalami penurunan -43 persen yakni hanya sebesar Rp13,42 triliun dari posisi 2011 yang mencapai Rp23,92 triliun.
Adapun dari total total investasi tersebut, sekitar Rp 149.22 triliun atau 75,49 persen ditempatkan di instrument pasar modal seperti saham, obligasi, SUN dan reksadana. “Ke depan perusahaan asuransi jiwa diperkirakan lebih memilih reksadana, karena relative aman dari risiko pasar modal. Apalagi deposito tentu tidak menarik setelah bunga yang ditawarkan perbankan cenderung turun mengikuti suku bunga acuan (BI Rate),” tukas Hendrisman.
Kendati demikian, untuk tahun ini, Hendrisman tetap optimis dengan pertumbuhan di kisaran 25-30 persen. Ini didukung oleh semakin banyaknya pemain baru di industri. Dengan begitu AAJI tetap targetkan aset industri asuransi jiwa di 2015 mencapai Rp.500 triliun. “Kendati berat kalau hanya tumbuh di kisaran 30 persen, apalagi di bawah itu. Tapi kita optimis jumlah pemain semakin bertambah. Jadi target itu bisa tercapai,” ujar Hendrisman. Hingga akhir 2011, total aset industri asuransi jiwa mampu tumbuh 28,88 persen dari Rp 174,77 triliun (2010) menjadi Rp 225,25 triliun.
Untuk mendukung penetrasi pasar, AAJI juga terus mensosialisasi produk asuransi dan terus meningkatkan kualitas para agen. Hal ini karena posisi agen sungguh strategis, mereka adalah ujung tombak bisnis asuransi jiwa.
“Sejak 2010 AAJI telah melakukan program ‘100% Agen Asuransi Jiwa Berlisensi’. Ini semua dilakukan untuk menciptakan standarisasi profesi agen, sehingga sistem dan pelayanan kepada nasabah menjadi lebih terukur dan berkualitas. Hal ini juga untuk memastikan bahwa seluruh agen asuransi jiwa memiliki lisensi,” tukas Direktur Eksekutif AAJI Benny Waworuntu.
Dia menyebutkan, sampai dengan Desember 2011, tercatat sebanyak 258.399 agen telah berlisensi. Lisensi Grandfathering sebanyak 11.678 agen, full license sebanyak 245.608 agent dan lisensi limited sebanyak 1.113 agen.
Nini Sumohandoyo, Kepala Departemen Komunikasi AAJi menambahkan, untuk penetrasi agen, AAJI menargetkan di 2014 nanti agen asuransi jiwa menyentuh angka 500 ribu agen berlisensi

















