• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Quantitative Easing Dan Perlambatan DPK

by Sandy Romualdus
28 Februari 2014 - 00:00
14
VIEWS
Outlook Perbankan Nasional 2014: Berjalan Di Tengah Ketidakpastian
0
SHARES
14
VIEWS

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Ekonomi sedang melambat. Dan memang disengaja semakin diperlambat supaya impor terus berkurang dan neraca perdagangan nasional menjadi surplus. Harapannya, hal itu akan jadi sentimen positif yang memperkuat rupiah. Untuk mencapai tujuan itu, pertumbuhan kredit perbankan akan dibatasi. Katanya, jangan sampai lebih dari 17 persen.
Ada pula yang menilai pengendalian penyaluran kredit tadi bertujuan agar pertumbuhannya semakin menyamai kenaikan dana pihak ketiga (DPK) yang selama ini memang lebih rendah. Perlambatan pertumbuhan kredit menjadi di bawah 20 persen diperkirakan berlangsung dalam jangka menengah (2-3 tahun). Pertumbuhan kredit yang tinggi selama ini dipandang melebihi kapasitasnya. Katanya, pertumbuhan kredit idealnya 1,2–1,5 kali dari produk domestik bruto (PDB), tetapi di Indonesia bisa sampai 2(dua) kali (Bisnis Indonesia, 23 Januari 2014).
Saya belum mampu menemukan angka itu. Apakah 2 (dua) kali tadi dihitung dari nominal absolut atau dari persentasepertumbuhannya. Yang saya lihat, pertumbuhan kredit selama ini rata-rata 3,9 kali dari pertumbuhan PDB. Nominal peningkatan kredit pada tahun lalu sekitar 21 persen dari PDB harga konstan dan 7 persen dari PDB harga berlaku (memperhitungkan inflasi). Outstandingkredit yang per September 2013 sekitar Rp3.214 triliun itu setara 152 persendari nilai PDB (harga konstan) kumulatif Januari-September tahun lalu itu. Tetapi, bila dibandingkan PDB harga berlaku, maka nilainya hanya 47 persen.
Memang, pada tahun-tahun dimana ekonomi nasional terpukul oleh krisis (atau mini-crisis), kenaikan DPK perbankan Indonesia memang melebihi pertumbuhan kredit yang memang melambat. Kredit tampak lebih elastis dan sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi. Tengok saja pada tahun 2006 (pasca mini-crisis 2005) dan 2009 (pasca krisis global 2008).
Menengok Amerika
Bicara pertumbuhan DPK yang melampaui kredit, Amerika Serikat (AS) mengalaminya dalam dua tahun belakangan. Dampaknya, rasio loans-to-deposit LDR, anjlok ke level 75 persen. Level terendah dalam 30 tahun terakhir. Dan kenaikan DPK di sana sepertinya tidak lepas dari kebijakan moneter longgar melalui Quantitative Easing (QE) atau program pembelian aset keuangan (umumnya obligasi pemerintah AS/SUN) oleh The Fed.
Namun perlu dipahami, QE yang berpengaruh pada kenaikan DPK adalah QE yang melibatkan lembaga keuangan non-bank. QE yang terjadi dengan perbankan tidak mempengaruhi DPK sehingga tidak menambah uang beredar. Penjualan SUN milik perbankan hanya mengurangi obligasi negara yang dipegang dan diganti dengan bank reserve (semacam GWM atau Fasbi) yang tetap ada di neraca Bank Sentral AS, The Fed.
Sehingga, pendorong kenaikan DPK di AS belakangan ini adalah beralihnya aset finansial milik lembaga non-bank dari semula berupa obligasi pemerintah AS menjadi simpanan di bank. Secara neto, tidak ada penambahan aset keuangan. Sementara, pemulihan ekonomi yang masih cenderung lambat menyebabkan lambatnya pula pertumbuhan kredit. pencairan DPK hasil QE itu oleh non-bank atau reserve tadi oleh bank adalah salah satu sumber likuiditas global yang beberapa tahun ini membanjiri emerging market.
Di Indonesia, sumber utama pertumbuhan DPK kemungkinan masih dari multiplier effect kredit yang disalurkan. Artinya, selama kredit melambat, pertumbuhan DPK pun kemungkinan besar mengikuti. Mungkin ada pula sumber dari capital inflow. Pengurangan bertahap (tapering-off) kebijakan stimulus AS akan memperlambat kenaikan DPK di negara itu milik lembaga non-bank tadi. Di samping itu, juga bisa mengurangi DPK nasional, meningkatkan permintaan dollar AS dan menekan rupiah.
Tetapi, kita belum tahu seberapa besar pengaruh kebijakan moneter saat ini terhadap DPK nasional. Berapa banyak bank sentral kita membeli SUN dari lembaga keuangan non-bank. Jika melihat kebijakan moneter yang sedang ketat, tampaknya kenaikan DPK non-bank yang berasal dari konversi SUN justru akan dikurangi. Kecuali, BI kembali memborong SUN di pasar sekunder seperti ketika terjadi aksi jual asing atau capital outflow. Kendati BI Rate sudah naik 175 bps, kenaikan DPK nasional per November 2013 masih melambat menjadi 13,83 persen year-on-year [Nov-12 = 18,37 persen]. Kredit masih tumbuh lebih tinggi yakni 22,17 persen.
Pertumbuhan kredit nasional yang tinggi, rata-rata sekitar 23 persen, dalam 10 tahun terakhir mungkin hal yang wajar. LDR nasional memang terus meningkat dan saat ini menyentuh 90 persen. Tetapi lihat, LDR AS sejak 1995 sudah berada di atas 90 persen, sebelum akhirnya terus merosot pascakrisis 2008. Ingat pula, bahwa Indonesia masih memiliki ekses likuiditas perbankan yang begitu besar, terutama akibat kebijakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dekade silam. Kendati hanya 10 persen DPK yang tidak tersalurkan menjadi kredit, namun nilainya masih cukup besra sekitar Rp350 triliun. Ekses likuiditas itu saat ini masih menganggur di neraca Bank Indonesia dalam bentuk berbagai instrumen moneter. Jadi, anggapan bahwa pertumbuhan kredit nasional sudah berlebihan masih perlu dikaji.
Lantas bagaimana bila LDR nasional jauh melewati level 90 persen dan kondisi likuiditas menjadi terlampau ketat? Kebijakan moneter agaknya perlu diperlonggar. BI bisa melakukan “quantitative easing” dengan memborong obligasi di pasar sekunder terutama yang dimiliki oleh individu atau lembaga non-bank selama jangka waktu tertentu. Di samping itu, kalau tidak salah, masih ada sekitar Rp100-an triliun isi rekening pemerintah di BI. Jadi, pertumbuhan DPK nasional yang melebihi pertumbuhan kredit tampaknya adalah ciri kondisi pascakrisis atau mini-crisis. Dan yang terjadi pada periode-periode tersebut adalah pertumbuhan kreditnya melambat melebihi perlambatan DPK. Tetapi, ingat, kenaikan DPK ketika itu tetap saja melambat. Bukannya naik lebih cepat seperti di AS saat ini. Setelah pertumbuhan ekonomi terakselerasi, barulah pertumbuhan kredit dan DPK pun mengikuti namun kredit lebih cepat. Apakah tahun ini akan sama?

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan
  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital
  • Baca juga: Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital
 
 
 
 
 
Previous Post

Pengawan Bank Era OJK

Next Post

Peluang Dan Tantangan Repo Syariah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Ada Bank ‘Main’ Bitcoin

Ada Bank 'Main' Bitcoin

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance