Empat bank Himbara (BBRI, BMRI, BBNI, BBTN) membukukan total laba bersih Rp 74,43 triliun pada semester I/2026, melonjak 19,06% secara tahunan (yoy).
Stabilitas.id – Empat bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) membukukan total laba bersih konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 74,43 triliun sepanjang semester I/2026. Realisasi ini melonjak 19,06% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan perolehan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 62,51 triliun.
Pertumbuhan kinerja bank pelat merah ini ditopang oleh agresivitas penyaluran kredit yang melampaui rata-rata industri serta perbaikan efisiensi operasional. Berdasarkan laporan keuangan masing-masing perseroan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) memimpin perolehan laba dengan nilai Rp 30,87 triliun, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp 30,41 triliun, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) sebesar Rp 10,75 triliun, serta PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) senilai Rp 2,40 triliun.
Pencapaian laba BBRI yang tumbuh 17,5% yoy ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 9,9% yoy menjadi Rp 80,53 triliun. Total aset konsolidasian BRI mencapai Rp 2.352 triliun, didorong oleh penyaluran kredit yang melesat 16,2% yoy menjadi Rp 1.645,5 triliun. Dari sisi pendanaan, perseroan berhasil mengumpulkan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 1.581 triliun.
BERITA TERKAIT
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan bahwa pertumbuhan ekspansi pembiayaan perseroan tetap didominasi oleh segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Total kredit dan pembiayaan sebesar Rp 1.645,5 triliun didominasi oleh segmen UMKM. Perseroan tidak hanya mengejar pertumbuhan DPK, tetapi juga memperkuat kualitas pendanaan melalui peningkatan porsi dana murah,” ujar Hery dalam paparan kinerja keuangan secara virtual. Peningkatan porsi dana murah ini terbukti berhasil memangkas biaya dana (cost of fund) BRI secara bank only dari 3,0% menjadi 2,4%.
Sementara itu, Bank Mandiri (BMRI) mencatatkan lonjakan laba bersih entitas induk tertinggi kedua yakni 24,36% yoy. Pertumbuhan ini dikerek oleh ekspansi kredit konsolidasian sebesar Rp 1.591 triliun atau tumbuh 19,9% yoy—hampir dua kali lipat lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan kredit industri nasional. DPK Bank Mandiri pun melesat 17,1% yoy menjadi Rp 1.710 triliun, mengantar total aset perseroan naik 19,1% yoy menjadi Rp 2.349 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menegaskan bahwa penguatan intermediasi difokuskan pada sektor-sektor produktif penyerap tenaga kerja.
“Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit UMKM Bank Mandiri yang mencapai 5,48% secara year-on-year. Dengan kata lain, pertumbuhan UMKM Bank Mandiri tersebut sekitar 9 kali lebih cepat dari pertumbuhan di industri,” ungkap Riduan. Kinerja solid ini diimbangi kualitas aset yang terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) di level 0,98% serta Return on Equity (ROE) mencapai 24,3%.
Adapun BNI (BBNI) mengantongi kenaikan laba bersih 6,54% yoy menjadi Rp 10,75 triliun. Pertumbuhan ini disokong oleh penyaluran kredit yang tumbuh signifikan 24,4% yoy menjadi Rp 968,5 triliun, diiringi perbaikan rasio Loan at Risk (LAR) dari 11% menjadi 8,1%.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyampaikan bahwa perseroan terus menjaga keseimbangan antara ekspansi dan manajemen risiko.
“Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio,” jelas Paolo.
Di sisi lain, persentase lonjakan laba bersih tertinggi dicatatkan oleh BTN (BBTN) yang melesat 40,8% yoy menjadi Rp 2,40 triliun. Pencapaian ini disokong oleh total penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian sebesar Rp 418,11 triliun, di mana segmen kredit nonperumahan melonjak 46,1% yoy menjadi Rp 85,22 triliun, sementara kredit perumahan tumbuh 4,8% yoy menjadi Rp 332,88 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu optimistis laju positif ini dapat dipertahankan hingga penutupan tahun buku. “Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” pungkas Nixon. ***
Perbandingan Kinerja Laba Bersih Bank Himbara (Semester I/2026 vs Semester I/2025)
| Nama Bank BUMN | Laba Bersih Sem. I/2026 | Laba Bersih Sem. I/2025 | Pertumbuhan (YoY) | |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 30,87 Triliun | Rp 26,27 Triliun |
+17,50%
|
|
| PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 30,41 Triliun | Rp 24,45 Triliun | +24,36% | |
| PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp 10,75 Triliun | Rp 10,09 Triliun | +6,54% | |
| PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) | Rp 2,40 Triliun | Rp 1,70 Triliun |
+40,80%
|
|
| TOTAL HIMBARA | Rp 74,43 Triliun | Rp 62,51 Triliun | +19,06% |

















