Kinerja PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) melonjak tajam pada Semester I-2026 dengan laba bersih Rp 2,40 triliun (+40,8% YoY) dan NPL turun di bawah 3%.
Stabilitas.id – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menunjukkan taji sebagai salah satu bank pelat merah paling progresif tahun ini. Melalui strategi transformasi satu dekade yang kini selaras dengan arah raksasa investasi Danantara Indonesia, BTN sukses membukukan kinerja cemerlang sepanjang paruh pertama tahun ini.
Hingga Semester I-2026, emiten spesialis pembiayaan perumahan ini meraup laba bersih konsolidasi sebesar Rp 2,40 triliun. Angka ini melejit 40,8% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,70 triliun.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan validasi atas keberhasilan BTN memperluas lini bisnis dari sekadar penyedia KPR (housing specialist) menuju ekosistem keuangan keluarga terintegrasi (beyond mortgage).
BERITA TERKAIT
“Pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi selama satu dekade yang secara konsisten kami lakukan. Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujar Nixon dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Pertumbuhan kinerja BTN disokong oleh total penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi yang menembus Rp 418,11 triliun atau tumbuh 11,2% YoY.
Menariknya, lokomotif pertumbuhan kali ini tidak hanya datang dari sektor perumahan tradisional, melainkan dari lonjakan signifikan di sektor non-perumahan yang melesat 46,1% YoY menjadi Rp 85,22 triliun.
Rapor Finansial BTN (Semester I-2026)
| Pos Keuangan | Semester I-2025 | Semester I-2026 | Pertumbuhan (YoY) |
| Laba Bersih | Rp 1,70 Triliun | Rp 2,40 Triliun | ▲ 40,8% |
| Total Kredit & Pembiayaan | Rp 376,11 Triliun | Rp 418,11 Triliun | ▲ 11,2% |
| — Kredit Perumahan | Rp 317,77 Triliun | Rp 332,88 Triliun | ▲ 4,8% |
| — Kredit Non-Perumahan | Rp 58,34 Triliun | Rp 85,22 Triliun | ▲ 46,1% |
| — KPR Subsidi | Rp 182,17 Triliun | Rp 196,96 Triliun | ▲ 8,1% |
| Total Aset | Rp 484,96 Triliun | Rp 545,16 Triliun | ▲ 12,4% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | Rp 406,38 Triliun | Rp 433,00 Triliun | ▲ 6,6% |
Di segmen perumahan, KPR Subsidi tetap menjadi tulang punggung utama dengan porsi Rp 196,96 triliun. Ditambah lagi, skema anyar Kredit Program Perumahan (KPP) yang baru dirilis akhir Oktober tahun lalu, kini telah menyumbang portofolio jumbo senilai Rp 4,1 triliun per Juni 2026.
Strategi Anorganik
Akselerasi di segmen non-perumahan didorong kuat oleh aksi korporasi anorganik yang dieksekusi dengan apik. BTN sukses menyelesaikan akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiun milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk senilai Rp 12,6 triliun.
Langkah ini dirancang untuk mendatangkan mesin cuan baru berkarakter imbal hasil tinggi (high yield) namun dengan tingkat risiko yang sangat terukur. Seluruh portofolio yang diambil alih dipastikan berstatus lancar (performing loan).
Tak berhenti di situ, BTN bersiap tancap gas menggelar akuisisi tahap kedua pada Kuartal III-2026 senilai Rp 7,34 triliun. Bila seluruh proses rampung, BTN akan mengelola sekitar 344,6 ribu rekening kredit pensiun.
“Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang. Kami menargetkan porsi kredit non-perumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30% dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan,” papar Nixon.
Kualitas Aset Sehat
Agresivitas ekspansi bisnis BTN diimbangi dengan perbaikan kualitas aset yang luar biasa sehat. Berkat digitalisasi proses penaksiran risiko dan tata kelola berbasis kecerdasan buatan (AI Governance), risiko kredit bermasalah berhasil ditekan:
-
NPL Gross: Turun ke level psikologis 2,99% dari sebelumnya 3,3% pada Juni tahun lalu.
-
Loan at Risk (LAR): Menyusut signifikan menjadi 18,6% (turun dari 20,2%).
-
Cost of Credit (CoC): Dipangkas tajam dari 2,0% menjadi tinggal 0,7% per Semester I-2026.
Dari sisi pendanaan, posisi DPK yang solid di angka Rp 433,00 triliun turut ditopang oleh efisiensi biaya dana (Cost of Fund) yang stabil di kisaran 3,01%, berkat ekspansi pengguna aplikasi superapp Bale by BTN yang kini menembus 4,3 juta pengguna aktif secara nasional.***

















