Stabilitas.id – Sinergi solid antara otoritas moneter dan otoritas fiskal berhasil memukul mundur tekanan hebat dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang Garuda. Bank Indonesia (BI) merekam nilai tukar rupiah sukses menjinakkan the greenback ke level Rp17.730 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat terdepresiasi parah hingga menembus level psikologis Rp18.200 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo melayangkan apresiasi mendalam atas kerja sama ketat yang terjalin dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di bawah komando Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Koordinasi ini terbukti ampuh memulihkan stabilitas pasar instrumen portofolio keuangan di dalam negeri.
Berdasarkan posisi pencatatan per 17 Juni 2026, nilai tukar rupiah yang bertengger di posisi Rp17.730 per dolar AS mencerminkan penguatan signifikan sebesar 0,76% jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Mei 2026.
BERITA TERKAIT
“Dengan upaya kita bersama dan sinergitas yang erat antara BI dan pemerintah. Terima kasih Pak Menteri Keuangan, alhamdulillah membuktikan nilai tukar rupiah menguat dan kita yakin ke depan semakin kuat,” ungkap Perry Warjiyo, dikutip Jumat (19/6/2026).
Amunisi Operasi Moneter Ganda
Perry memaparkan bahwa pemulihan otot rupiah disokong penuh oleh peningkatan intensitas intervensi valuta asing (valas) secara masif di pasar domestik maupun internasional. BI menerapkan strategi triple intervention yang mencakup intervensi pada pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri.
Di sisi lain, BI terus memacu daya tarik imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik derasnya arus modal asing (capital inflows). Strategi ini membuahkan hasil optimal dengan catatan serapan dana jangka pendek yang sangat jumbo.
Instrumen Stabilisasi Moneter Bank Indonesia
| Indikator Finansial & Operasi Moneter | Capaian Kinerja Cadangan per Juni 2026 | Urgensi Sentimen & Dampak Pasar |
| Total Outstanding SRBI | Rp1.021,13 Triliun (Posisi 15 Juni) | Melampaui ambang batas seribu triliun sebagai bantalan likuiditas rupiah. |
| Porsi Kepemilikan Asing (Nonresiden) | Rp238,09 Triliun (23,32% dari Total) | Mengonfirmasi kembalinya tingkat kepercayaan investor global (risk-on). |
| Insentif Tingkat Swap Lindung Nilai | Pemangkasan Rasio sebesar 10% | Merangsang investor asing untuk mempertahankan modal di pasar domestik. |
| Ekspansi Instrumen Valas Eksotis | Operasi Spot & Swap Chinese Renminbi (CNH) | Membuka keran transaksi valas non-dolar untuk mendukung skema LCT. |
Reduksi Ketergantungan Dolar AS Lewat Renminbi Offshore
Selain fokus memperkuat pasar obligasi dan surat utang domestik, Bank Indonesia melancarkan jurus de-eskalasi ketergantungan terhadap dolar AS. BI resmi memperluas instrumen operasi moneter valas dengan meluncurkan transaksi spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah.
Ekspansi instrumen finansial ini sejalan dengan komitmen pemerintah dan bank sentral regional dalam menggenjot implementasi Local Currency Transaction (LCT). Skema penggunaan mata uang lokal tersebut kini terus diakselerasi untuk penyelesaian transaksi perdagangan komoditas serta investasi bilateral di kawasan Asia.
Melihat kokohnya fondasi bauran kebijakan saat ini, manajemen BI optimistis fluktuasi nilai tukar rupiah ke depan akan bergerak makin stabil dan memiliki ruang apresiasi yang terbuka lebar. Keandalan tingkat imbal hasil dalam negeri dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga menjadi jangkar utama penentu penguatan kurs di pasar spot.***






.jpg)










