NUSA DUA, Stabilitas.id – Direktur LPPI, Retno Wahyuni Wijayanti mengingatkan BPD sebagai sebuah organisasi untuk terus melakukan continuous improvement di era disrupsi teknologi saat ini. Salah satu upaya dilakukan adalah mengembangkan learning organization. Adapun peran learning organization adalah membekali organisasi dengan basis pengetahuan dalam rangka memenangkan persaingan mengingat perubahan lingkungan yang sangat cepat.
Namun dalam proses implementasinya, menurut Retno, perbankan dihadapkan dengan tantangan yang cukup berat, antara lain perubahan budaya organisasi, kurangnya infrastruktur dan sumber daya, keterlibatan dan dukungan pemimpin, keterlibatan karyawan, dan kurangnya pembelajaran.
“Dengan persaingan yang lebih ketat, kemajuan teknologi, dan pergeseran preferensi pelanggan, semakin penting bagi perusahaan untuk menjadi organisasi pembelajar. Dalam organisasi pembelajar, karyawan terus menciptakan, memperoleh, dan mentransfer pengetahuan membantu perusahaan mereka beradaptasi dengan hal yang tidak dapat diprediksi lebih cepat daripada yang dapat dilakukan oleh pesaing,” jelas Retno dalam Insight Session BPD HC Conference 2023 yang digelar LPPI di Merusaka, Nusa Dua, Selasa (16/5/2023).
BERITA TERKAIT
Mengacu pada alat ukur konstruksi learning organization versi Garvin, yakni aspek lingkungan, proses, dan pemimpin, LPPI telah melalukan survei persepsi penerapan learning organization pada awal Mei 2023 dengan jumlah responden sebanyak 199 dari 21 BPD.
Hasilnya mengungkapkan bahwa penerapan learning organization dalam aspek Lingkungan (Environment, Social, dan Governance), sebanyak 94,67% responden mengatakan sudah optimal dan 5,33% masih belum optimal. Kemudian dalam aspek Proses (analisis dan pengumpulan informasi), 92,61% responden mengatakan sudah optimal dan 7,39% masih belum optimal. Sementara aspek Pemimpin, 92,29% responden mengatakan sudah optimal dan 7,71% masih belum optimal.
“Dengan potensi-potensi yang melimpah dan hasil survey persepsi penerapan learning organization yang sudah optimal, BPD masih dapat mengoptimalkan kinerjanya dan meningkatkan perekonomian daerah. Selain itu, sebagai salah satu upaya dalam peningkatan kinerja BPD, penerapan learning organization perlu terus dioptimalisasi dengan meninjau secara berkala,” pungkas Retno.
Berdasarkan kinerja BPD Februari 2023, market share BPD terhadap Bank Umum dari sisi Aset, Kredit, dan DPK masih berada di bawah 9%.
Retno lebih lanjut mengatakan, sejalan dengan survei Bank BUMN tahun 2022, terdapat 3 aspek efektvitias organisasi yang masih mengalami pertumbuhan yang rendah yaitu aspek memaksimalkan struktur organisasi, SDM, dan eksekusi strategi. “Ketiga aspek ini yang juga menjadi fokus LPPI dalam kolaborasi dengan perbankan untuk membangun bisnis berkelanjutan,” imbuhnya.
Retno pun menguraikan beberapa program unggulan LPPI yang dapat menjadi tempat pembelajaran bagi BPD. Pertama, program SESPIBANK. Program Top Management Training ini telah berlangsung sejak 1988 telah menghasilkan lebih dari 1.800 alumni dan banyak diantaranya menduduki jabatan sebagai Direktur dan Direktur Utama.
Kedua, Branch Manager. Program Middle Management Training ini hadir sejak 1970, dan telah menghasilkan lebih dari 5.000 alumni, bahkan sebagian besar melanjutkan ke Sespibank.
Ketiga, Officer Development Program (ODP). Program Basic Management Training dimulai sejak tahun 1990 dan telah menghasilkan lebih dari 10.000 alumni. Dan terakhir adalah Pelatihan Dasar Perbankan Syariah. Training Perbankan Syariah dimulai sejak 2006 dan telah menghasilkan lebih dari 2.500 alumni.
“Hingga saat ini aktivitas di LPPI terus meningkat dengan berbagai kegiatan. Untuk pelatihan dilakukan lebih dari 600 training setiap tahun, dengan peserta lebih dari 15.000 per tahun. Kemudian aktivitas asesmen & rekrutmen juga dilakukan mulai dari ODP, Manager, Kepala Cabang, Kepala Divisi dan Calon Direksi serta Komisaris,” papar Retno.
Sementara untuk jasa konsultasi, LPPI setiap tahun melayani lebih dari 15 kegiatan konsultansi yang meliputi corporate plan, reorganisasi, SDM, operasional dan IT, SOP, spin off unit syariah, usaha bank devisa, sustainable finance dan lainnya sesuai kebutuhan bank. Kegiatan Jasa Konsultasi ini didukung oleh para praktisi lembaga jasa keuangan, regulator (BI, OJK, PPATK dan LPS), dan akademisi.
Secara kelembagaan, LPPI diakui kedudukannya antara lain sebagai International Center for Developing in Islamic Finance (ICDIF) sejak 2006, Center for Leadership and Ethics (CLE) sejak Mei 2014, Center for Sustainable Finance Knowledge (CSFK) sejak April 2019 dan telah menjadi mitra Bappenas, serta salah satu Assessment Center yang ditunjuk oleh Kementrian BUMN.
Selain itu, LPPI juga terus melakukan virtual seminar dalam rangka membantu pemerintah,BI dan OJK mensosialisasikan kebijakan baru, juga mengangkat berbagai tema terkini di industri keuangan dan kondisi ekonomi baik dalam negeri dan juga fenomena global sehingga memberikan awareness dan wawasan baru kepada pelaku industri untuk tetap waspada namun terus optimis dengan kondisi sistem keuangan di Tanah Air.
“Sejak awal tahun 2020 hingga saat ini, LPPI setiap pekan telah menyelenggarakan 70 webinar dengan melibatkan lebih dari 250 pembicara. Total peserta telah melampaui 30.000 peserta, baik yang mengikuti webinar melalui Google Meet, Zoom maupun streaming Youtube,” demikian Retno. ***





.jpg)










