JAKARTA, Stabilitas– Di tahun 2019 ini Pemerintah meningkatkan frekuensi penerbitan Surat Berharga Negara ritel dengan penerbitan SUN ritel dan Sukuk ritel secara bergantian di setiap bulan (kecuali Juni dan Desember). Memasuki bulan Oktober 2019, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan akan melakukan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) yang ditawarkan kepada individu atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Mitra Distribusi di Pasar Perdana dengan tingkat kupon tetap yaitu Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI016.
“Sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk mempermudah akses masyarakat berinvestasi di SBN ritel, ORI016 merupakan seri pertama ORI yang diterbitkan secara online melalui sistem e-SBN,”ujar Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Loto Srinaita Ginting.
Loto menjelaskan, proses pemesanan pembelian dapat dilakukan melalui 4 tahap yaitu registrasi, pemesanan, pembayaran, dan konfirmasi. Proses registrasi dapat dilakukan kapan saja, sedangkan tiga proses selanjutnya dapat dilakukan selama periode pemesanan yaitu tanggal 2-24 Oktober 2019.
Dengan tingkat bunga tetap sebesar 6,8 persen per tahun sampai dengan jatuh tempo pada 15 Oktober 2022, ORI016 dinilai sangat menguntungkan karena dapat diperdagangkan di Pasar Sekunder dan berpotensi memperoleh capital gain dengan pemesanan minimal Rp 1 juta.
Saat ini, penjualan ORI-016 sudah difasilitasi oleh 14 bank, empat sekuritas, dan lima perusahaan keuangan berbasis teknologi (fintech). Fintech tersebut terdiri dari dua perusahaan fintech peer to peer lending (P2P) dan tiga fintech berizin khusus sebagai agen penjual reksa dana (Aperd).
Perbankan yang menjual ORI terdiri dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank UOB Indonesia, dan PT Bank Commonwealth. Sekuritas yang menjual ORI-016 adalah PT Trimegah Sekuritas Tbk (TRIM), PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas.
Di sisi fintech, perusahaan P2P adalah PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) dan PT Investree Radhika Jaya dan perusahaan fintech Aperd terdiri dari PT Bareksa Portal Investasi, PT Star Mercato Capitale (TanamDuit), dan PT Nusantara Sejahtera Investama (Invisee).
ORI-016 akan ditawarkan pada 2 Oktober-24 Oktober dan difinalkan pada 28 Oktober. Penyelesaian penawaran (settlement) akan dilakukan pada 30 Oktober 2019.
“Kami yakin akan semakin banyak menarik investor milenial,”pungkas Loto.

















