PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyiagakan dana Rp507,87 miliar pada instrumen aset likuid berkualitas tinggi (HQLA) untuk melunasi Obligasi Berkelanjutan pada 17 Oktober 2026.
Stabilitas.id – Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) kembali unjuk gigi memamerkan ketebalan bantalan likuiditasnya. Menjelang masa jatuh tempo surat utang pada pertengahan bulan depan, bank pelat merah bersandi saham BBRI ini telah menyiagakan amunisi dana segar senilai Rp507,87 miliar untuk melunasi kewajiban kepada para investor.
Dana bernilai setengah triliun rupiah tersebut secara khusus disiapkan untuk menebus Obligasi Berkelanjutan I Bank BRI Tahap II Tahun 2023 Seri C yang akan memasuki masa jatuh tempo pada 17 Oktober 2026. Merujuk pada keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/9/2026), struktur pelunasan ini mencakup pembayaran pokok pinjaman sebesar Rp500 miliar, diiringi pemenuhan hak kupon atau bunga pinjaman senilai Rp7,87 miliar.
Langkah presisi ini membuktikan bahwa manajemen arus kas BBRI terkelola dengan sangat terukur di tengah dinamika pasar. Manajemen memastikan bahwa seluruh dana pelunasan tersebut tidak dibiarkan menganggur, melainkan telah diparkir aman pada instrumen aset likuid berkualitas tinggi (High Quality Liquid Assets/HQLA) milik perseroan.
BERITA TERKAIT
“Saat ini, penempatan dana tersebut berada pada High Quality Liquid Assets BRI,” tulis manajemen dalam laporannya. Penempatan strategis ini sekaligus menjadi garansi bagi publik dan pemegang saham bahwa penarikan dana setengah triliun tersebut sama sekali tidak akan memicu guncangan (material impact) pada postur likuiditas maupun kelangsungan operasional bisnis BRI ke depannya.
Sebagai catatan, obligasi Seri C ini merupakan instrumen rekam jejak kepercayaan pasar terhadap BRI yang pertama kali ditawarkan pada 18 Oktober 2023 silam, dengan menjanjikan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 6,3 persen.
Kendati pelunasan pada Oktober nanti dipastikan aman, kalender pelunasan utang BRI tahun ini sejatinya belum usai. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat bahwa brankas BBRI masih harus bersiap menghadapi satu lagi tagihan jatuh tempo berukuran jumbo di penghujung tahun. Tepat pada 2 Desember 2026 mendatang, Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap I Tahun 2016 Seri E dengan pokok pinjaman meraksasa di angka Rp2,35 triliun—serta beban bunga tetap 8,9 persen—akan menanti untuk ditebus.
Menilik kesigapan manajemen dalam menyiapkan HQLA bulan ini, pasar tampaknya tak perlu memeras keringat dingin menanti kemampuan pelunasan triliunan rupiah di akhir tahun nanti. ***

















